Salon Pecas Ndahe
Desember 13, 2006 § 11 Komentar
Seandainya saja saya itu kirik — yang bisa baca koran — advertensi ini tentu sudah saya gunting, tempel, dan kliping. Kalau saja saya ini pitik nggaya, saya pasti sudah angkat telepon dan pesan tempat ke salon ini. Terus mbesuk-mbesuk saya juga mau mengajak Ndoro Tuan di rumah buat menemani saya ke tempat baru ini. Buat apa?
Pengendara Pecas Ndahe
Desember 12, 2006 § 23 Komentar
Ki Sanak, mari kita tebak-tebakan! Mengapa para pengendara sepeda motor ini nekat masuk jalur khusus bus Transjakarta?
Pilih jawaban sampean :
- a. Lalu lintas macet
- b. Buta rambu lalu lintas
- c. Disuruh polisi
- d. Sepeda motor memang boleh lewat jalur di mana saja
- e. Bukan a, b, c, atau d
Mana yang benar? « Read the rest of this entry »
Narsis Pecas Ndahe
Desember 9, 2006 § 12 Komentar
Eh, ternyata ada wajah saya di wikimu. Hihihi … Narsis, yack? Tapi, lihat deh, ulasannya.
Poligami Pecas Ndahe
Desember 8, 2006 § 7 Komentar
Poligami, katanya, bisa digolongkan sebagai bentuk kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Karena, praktek itu melanggar hak-hak seorang istri, hak-hak perempuan.
Masalahnya, dalam setiap keluarga memang selalu ada kekerasan: Dari suami kepada istrinya, istri kepada suaminya, bapak kepada anaknya, ibu kepada anaknya, atau anak kepada orang tuanya.
Saya justru menemukan ada kasus kekerasan oleh seorang kakak kandung kepada adiknya. Saya bahkan berhasil mendapatkan bukti dalam bentuk foto. Nama korban dan lokasi kejadian sengaja saya samarkan demi privasi yang bersangkutan. Ah, begitu tragis dan memilukan … « Read the rest of this entry »
Blok M Pecas Ndahe
Desember 7, 2006 § 12 Komentar
Dia tidur begitu saja di lantai. Nyenyak. Ia seolah tak terganggu oleh suasana di sekitarnya. Bising mesin Metromini yang meraung kencang, semburan asap knalpot yang bikin sesak paru-paru tak mampu mengusik. Satu-satunya tanda kehidupan hanyalah napasnya yang teratur. Selebihnya sepi.
Saya menemukan bocah ini di sebuah pojokan terminal bus Blok M, Jakarta, kemarin pagi. Wajahnya bersih. Begitu pula pakaian dan celananya. Ada semburat cat di rambutnya yang keriting. Saya tak tahu siapakah gerangan bocah itu, nama maupun asalnya. Saya tak tega juga membangunkannya dari tidurnya yang lelap. Oh, bocah. Siapakah engkau? « Read the rest of this entry »




