Pelawak Pecas Ndahe

Mei 18, 2007 § 21 Komentar

Mengapa acara lawak di televisi kian tak bermutu? Mengapa lelucon mereka cenderung dangkal? Cermin hati publik yang tak lagi mengeluhkan keadaan?

Paklik Isnogud memberondong saya dengan pertanyaan itu tadi pagi ketika kami masih bersantai. Pabrik sepi. Jalanan di Jakarta juga lengang. Orang-orang tengah menikmati libur panjang di pertengahan Mei ini.

Buat kami yang diperbudak pekerjaan ini, televisi menjadi satu-satunya hiburan yang paling gampang. Mau keluar pabrik kok males. Jadilah kami membincangkan acara-acara TV, yang menurut Paklik Isnogud, “kehilangan daya tarik intelektual”.

“Halah, Paklik. Sampean ini serius amat menilai acara TV kita. Sampean kok jadi keminter,” saya mencoba protes. « Read the rest of this entry »

KKG Pecas Ndahe

Mei 16, 2007 § 12 Komentar

Kasus pemecatan Bambang Wisudo serta penutupan majalah Komputerakt!f dan Snap ternyata memicu kemunculan tiga blog [relatif] baru. Tiga-tiganya, tentu saja, berkaitan dengan Kelompok Kompas Gramedia (KKG) yang bermarkas di Palmerah, Jakarta Selatan.

Setelah saya baca-baca tiga blog itu, ternyata isinya seru juga. Rasanya seperti kita sedang membaca media infotainment itu — sesuatu yang sebenarnya ndak terlalu penting, tapi perlu juga untuk menambah pengetahuan. Ingat, saya bukan sedang mengajak sampean bergunjing lo, Ki Sanak!

Well, mari kita mulai melongok satu per satu blog-blog itu. « Read the rest of this entry »

Penyiar Pecas Ndahe

Mei 14, 2007 § 25 Komentar

Berangkat ke pabrik pagi-pagi dan menemukan kemacetan di jalanan adalah sesuatu yang rutin setiap awal pekan. Saya nyaris hapal di mana titik-titik kebuntuan itu berada dan berapa lama saya akan terjebak di sana.

Ini Jakarta, Bung! What do you expect?

Tapi, pagi tadi ada yang berbeda. Dalam kemacetan yang panjang, saya mendapatkan hiburan ringan berupa cerita dari sebuah acara di iRadio.

Syahdan, Mbak Penyiar radio itu bercerita tentang pengalamannya melewatkan akhir pekan di Bali. Tapi, bukan acara jalan-jalan di pantai Kuta, makan di Legian, dan jojing di bar-bar yang dia ceritakan. Mbak penyiar itu malah mengisahkan bagian akhir perjalanannya, ketika dia di Bandar Udara Ngurah Rai, menjelang kepulangannya ke Jakarta.

Lah, kenapa? « Read the rest of this entry »

Keadilan Pecas Ndahe

Mei 12, 2007 § 16 Komentar

Benarkah kerusuhan Mei 1998 dipicu oleh hilangnya rasa keadilan, pendapatan yang timpang? Saya ndak tahu.

Pada hari-hari itu, sembilan tahun yang lalu, saya cuma tahu Jakarta mendadak genting. Udara pengap. Gerah. Api di mana-mana. Rusuh.

Saya ingat asap hitam membubung ke angkasa. Saya melihatnya dari kejauhan. Dan malam menjadi sangat mencekam dalam selimut gelap. Sesekali terdengar senjata menyalak.

Hari-hari ini, saya bisa mengenang kembali drama itu dengan lebih tenang, dalam ruangan yang sejuk, kopi hangat, dan teman yang meneduhkan, Paklik Isnogud. Tak ada keringat, darah, api, dan kecemasan.

Suasana enak, menu syedap, apalagi yang kurang? Aha, dongeng Paklik. Rasanya seperti sayur tanpa garam bila duduk berdua tanpa mendengarkan Paklik ngoceh tentang apa saja. « Read the rest of this entry »

Leak Pecas Ndahe

Mei 10, 2007 § 8 Komentar

Busyet deh, susah bener sekarang nyari duit. Leak Bali pun mesti jauh-jauh terbang ke Jakarta demi melebarkan sayap bisnis di jantung ekonomi republik ini.

Saya ndak tahu siapa yang nyuruh Bli Leak ke Jakarta. Saya ndak tahu apa pula motifnya. Mosok datang jauh-jauh cuma mau nakutin orang? Buat apa? Apa untungnya?

Barangkali Ndas Glundung itu datang sendiri tanpa ada yang memerintahkan atau meminta. Mungkin dia sudah bosen dugem di Pulau Dewata, terus pengen cari hiburan baru di Ibu Kota.

Eh, siapa tahu si rambut gondrong ini mau ngelencer lihat lampu di Senayan City, tapi nyasar di Tomang. Maklum, dia belum pernah ke Jakarta dan ndak bawa peta. Mungkin dia naik bus Transjakarta (d/h busway) koridor III, jurusan Kalideres-Harmoni, dan turun di Tomang.

Ah, dasar Leak gaul … 😀

Where Am I?

You are currently browsing the Indonesiana category at Ndoro Kakung.