Wimar Pecas Ndahe
April 2, 2007 § 25 Komentar
Aksi bredel kembali menimpa sebuah acara di televisi. Kali ini yang ketimban apes adalah Wimar Witoelar, host acara bincang-bincang [talk-show] Wimar’s World di JakTV.
Kabar sangat gres ini saya dapat dari blog sebelah, tulisan Budi Putra dan mendapat konfirmasi dari blog perspektif (update).
Di blog sebelah itu Budi mengabarkan bahwa program Wimar’s World dihentikan tayangannya di JakTV mulai Rabu pekan ini.
Kenapa tayangan yang katanya mendapat rating tinggi (nomor 2) di stasiun itu dihentikan? « Read the rest of this entry »
Rokhmin Pecas Ndahe
April 2, 2007 § 8 Komentar
Entah julukan apa yang pas kita berikan buat Rokhmin Dahuri. Seorang koruptor atau guru berwajah ganda?
Rokhmin Dahuri adalah mantan menteri kelautan (2001-2004). Ia sekarang menjadi pesakitan dalam kasus dugaan korupsi, dan tengah menunggu kasusnya maju ke meja hijau. « Read the rest of this entry »
Yockie Pecas Ndahe
Maret 31, 2007 § 14 Komentar
Seorang empu, salah satu yang terbaik di negeri ini, meramaikan ranah blog. Dia Yockie Suryo Prayogo.
Buat sampean semua yang belum mengenal sosok Yockie, baiklah saya sedikit kasih gambaran berdasarkan ingatan saya yang terbatas ini. « Read the rest of this entry »
Batak Pecas Ndahe
Maret 30, 2007 § 11 Komentar
Saya cuma mau minta komentar sampean tentang nasib yang menimpa rekan kita di Medan ini. Tapi baca dulu tulisannya tentang amplop dan blog.
Sedikit penjelasan, abang kita ini mengaku wartawan idealis yang selalu menolak amplop. Sayang, nasib tak berpihak kepadanya. Gaji dari kantornya rupanya tak memenuhi kebutuhan keluarganya. Istrinya bahkan sempat mengancam minta cerai jika si abang tak sanggup mengurus keluarga lebih baik.
Akhirnya, dia berhenti sebagai wartawan, lalu ngeblog. Untuk menyambung hidup, dia membantu istrinya berjualan.
Ia memberi pelajaran: jangan kampanye tolak amplop saja, tapi perjuangkan dulu standar gaji jurnalis.
Ah, perut rupanya tak ma[mp]u menunggu idealisme … Simpati saya untuk Bung Jarar.
Kata-kata Pecas Ndahe
Maret 28, 2007 § 14 Komentar
Harga naik atau disesuaikan? Kelaparan atau kurang makan? Miskin atau pra sejahtera?
Mengapa ada masanya ketika orang lebih suka menghaluskan-haluskan bahasa — bahkan hingga sekarang?
Paklik Isnogud cuma tersenyum ketika saya memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan itu.
“Karena kata-kata juga punya sejarah, Mas,” kata Paklik singkat.
“Maksudnya?” « Read the rest of this entry »




