Laptop Pecas Ndahe

Maret 22, 2007 § 40 Komentar

Menurut saya, para wakil rakyat yang terhormat itu ndak butuh ini:

Tapi, ini:

… supaya mereka lebih bisa mendengarkan suara rakyat.

Betul nggak, Ki Sanak?

Schmutzer Pecas Ndahe

Maret 22, 2007 § 14 Komentar

Birokrasi cenderung mengabaikan perawatan. Di tangan para birokrat, sebuah gagasan bagus berjalan menuju kehancuran.

Saya beroleh kesan itu setelah jalan-jalan melihat Pusat Primata Schmutzer di tengah Kebun Binatang Ragunan, Jakarta Selatan, kemarin siang. « Read the rest of this entry »

Ancaman Pecas Ndahe

Maret 20, 2007 § 12 Komentar

Modus baru?

Kok berani ya? Bukankah ancaman lewat website [Internet] lebih gampang dilacak ketimbang, misalnya, surat kaleng tradisional [lewat pos biasa, tanpa nama dan alamat]? Bagaimana menurut sampean, Ki Sanak?

Fotokopi Pecas Ndahe

Maret 17, 2007 § 21 Komentar

Pada suatu siang, di sebuah perusahaan swasta nasional, di jantung Jakarta. Seorang sekretaris hendak menggandakan selembar dokumen penting perusahaannya. Ia lalu memanggil seorang Opis Boi.

Sekretaris : Mas, tolong difotokopi. Dua ya.

Opis Boi : Iya, Bu!

Lima menit kemudian, Mas Opis Boi itu selesai fotokopi. Ia menghampiri meja sekretaris yang tadi memintanya tolong sambil membawa dua lembar kertas.

Opis Boi : Bu, ini fotokopinya.

Sekretaris : Aslinya mana, Mas?

Opis Boi (bingung) : Aslinya? Anu, Bu … Teghal.

Sekretaris (bingung) : Tegal? Kok bisa?

Opis Boi : Iya, Bu. Mau gimana lagi, di desa ndak ada kerjaan …

Sekretaris : Mas, mas … Saya nggak nanya asal kamu dari mana. Saya nanya surat aslinya tadi mana? Kok ini cuma fotokopinya dua lembar?

Opis Boi : Oooooo … surat aslinya. Masih ketinggalan di mesin fotokopi, Bu.

Sekretaris : Cepet ambil! Dasar orang Tegal ….

Mohon maaf kepada orang Tegal dan sampean yang sudah sering nonton iklan permen itu … 😀

Indonesia Pecas Ndahe

Maret 17, 2007 § 13 Komentar

Saya kehilangan Indonesia. Rasanya baru kemarin saya taruh di sela-sela halaman buku pelajaran sejarah KEBANGSAAN. Tapi, hari ini tak saya temukan lagi bekasnya.

Saya kehilangan Indonesia. Sepertinya kemarin saya masih melihatnya ada di laci kiri, persis di bawah laci HATI NURANI. Tadi ketika saya tengok lagi, eh sudah tak ada.

Saya kehilangan Indonesia. Saya ingat betul pernah menyimpannya di dalam lemari pakaian supaya tak digigit TIKUS dan dijamah ULAR BELUDAK. Kenapa tiada lagi bekasnya di antara gantungan-gantungan baju WARNA-WARNI itu?

Saya kehilangan Indonesia. Saya sudah bongkar tumpukan KEJUJURAN, KERAMAHAN, KEDERMAWANAN, tapi tetap tak ada jejaknya.

Saya kehilangan Indonesia. Padahal waktu itu saya masih sempat menikmati HUTAN, SUNGAI, UDARA, dan GUNUNG, yang melindunginya. Sekarang saya tak tahu ke mana perginya.

Adakah di antara sampean yang tahu di manakah gerangan Indonesia? Apakah kira-kira kita masih bisa membelinya lagi di kios sebelah? Tunai boleh, kredit pun mau.

Selamat hari Sabtu, Ki Sanak. Selamat mencari Indonesia yang doeloe …

Where Am I?

You are currently browsing the Indonesiana category at Ndoro Kakung.