Levina Pecas Ndahe
Februari 23, 2007 § 15 Komentar
Kapal motor Levina I, yang berlayar dari terminal penumpang Pelabuhan Tanjung Priok, terbakar di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, kemarin, sekitar pukul 04.30 WIB.
Kapal penumpang rute Pelabuhan Tanjung Priok-Pangkal Balam, Bangka, tersebut baru berangkat berlayar sekitar tiga jam sebelumnya. Sekurangnya 15 orang tewas dalam tragedi ini.
Saya baca berita musibah itu di sini dan di sini.
Kapal berbendera RI/651791 jenis roll on, roll off atau roro ini menemui nahasnya sekitar 50 mil di utara Jakarta, persisnya di koordinat 05.22.00 Lintang Selatan dan 106.58.00 Bujur Timur. « Read the rest of this entry »
Burger Pecas Ndahe
Februari 23, 2007 § 24 Komentar
Sesekali jalan-jalanlah ke daerah Lapangan Ros dan seputaran Tebet, atau di Kebayoran Baru, Jakarta. Sampean pasti akan melihat ada sesuatu yang nyaris seragam.
Belakangan ini, di wilayah itu bermunculan kedai-kedai burger dan sandwich. Ada warung “ini burger” atau “itu burger”, cafe burger and sandwich, juga kedai steak and grill.
Tentu saja sampean bisa menebak bahwa kepopuleran Mblenger Burger menjadi pemicu gejala itu. Inilah yang dalam istilah pemasaran disebut me too product.
Meniru itu asyik-asyik saja. Toh akhirnya pasar juga yang menentukan. Konsumenlah yang menjadi wasit apakah sebuah warung atau tempat jajan bakal hidup terus atau tidak. « Read the rest of this entry »
Petani Pecas Ndahe
Februari 20, 2007 § 25 Komentar
Harga beras naik, orang miskin menjerit. Harga beras anjlok, para petani berteriak.
Beras itu dilema atau simalakama?
Entah. Yang jelas, beras itu selalu menjadi persoalan di negeri ini karena hampir semua orang makan nasi dari beras. Seandainya penduduk negeri yang gemah ripah loh jinawi ini makan roti dari gandum, masalahnya pasti lain lagi.
Tapi, masalah para petani tak pernah habis, ada atau tiada beras. Harga beras naik atau turun, petani tetap punya masalah.
Jadi, lebih baik kita membela petani? Mungkin. Bukankah petani yang resah bisa berakibat fatal? « Read the rest of this entry »
Pasir Pecas Ndahe
Februari 19, 2007 § 11 Komentar
Berkat tumpukan pasir dari negeri seberang, wilayah Singapura bertambah luas. Karena pasir [sebagian] colongan, Negeri Liliput itu menjelma menjadi semacam “kerikil dalam sepatu” bagi tetangganya.
Singapura dianggap telah melakukan kecurangan, diam-diam menambah batas teritori. Pemerintah Singapura pun dituduh “merestui” pencurian pasir, juga larangan impor pasir. Orang kemudian ramai bersuara, menghujat, dan berseru, “Maling! Sikat!”
Bagaimana sebetulnya kita menentukan batas-batas negara? Siapa sebetulnya yang paling berhak menentukan? « Read the rest of this entry »
Pungli Pecas Ndahe
Februari 19, 2007 § 15 Komentar
Sebuah blog antikorupsi baru saja lahir. Di antara kian beragamnya blog-blog lain yang bermunculan hari-hari ini, blog pungli seperti angin segar bagi Republik Korupsi ini.
Terus terang saya terpana pada blog yang mengusung tema dahsyat ini. Ini barang langka yang perlu dilestarikan. Di tengah arus kegilaan korupsi yang memboyot, blog ini membawa pesan: “”masih ada cahaya di ujung lorong yang gelap.”
Saya tak tahu orang-orang di belakang blog itu, saya juga ndak kenal mereka. Tapi, saya tahu mereka pasti orang-orang yang hebat, orang-orang yang berani melawan korupsi yang sudah sangat merusak itu. « Read the rest of this entry »




