Mao Pecas Ndahe
Mei 10, 2007 § 9 Komentar
Saya mengetahui selarik kalimat yang menggetarkan itu dari Paklik Isnogud ketika kami mengenang tragedi Mei 1998 [alias revolusi yang tragis itu].
Hari-hari ini hawa Jakarta memang mengingatkan kami pada peristiwa memedihkan sembilan tahun yang silam itu.
Paklik bercerita bahwa kalimat itu sebetulnya pesan berbentuk sajak yang ditulis Mao Tse-tung (Mao Zedong) pada 1976 untuk istrinya, Chiang Ching (Jiang Qing), sebagaimana diungkapkan oleh Dr. Roxane Witke, setelah wawancaranya yang terkenal dengan wanita itu.
Menurut Paklik, kalimat lengkap dari pesan itu bunyinya begini: « Read the rest of this entry »
Tepi Pecas Ndahe
Mei 9, 2007 § 7 Komentar
“Hidup manusia terbatas, tapi revolusi tak mengenal tepi.”
Senayan Pecas Ndahe
Mei 8, 2007 § 31 Komentar
Sekali-sekali sempatkanlah mampir ke Senayan City — kompleks mal, apartemen, dan perkantoran yang megah, gemerlap di malam hari, di jantung Jakarta itu. Lalu perhatikan baik-baik mulai dari depan, sebelum sampean masuk, hingga di dalamnya.
Kesan apa yang akan sampean dapat?
Mungkin sampean akan terpesona oleh sihir mal itu. Bayangkan, bila malam tiba, dinding luarnya disiram cahaya lampu-lampu ribuan watt. Di dalamnya tak kalah benderang. Lantai ruangan seluas 48 ribu meter persegi disentor mesin pendingin berkekuatan ratusan tenaga kuda. Puluhan toko, restoran, salon, juga kafe berjejeran, moncer dan elok.
Ah, kejutan yang tak terpermanai katanya — seperti yang tertulis dalam situs resmi Senayan City. « Read the rest of this entry »
Pemimpin Pecas Ndahe
Mei 7, 2007 § 13 Komentar
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akhirnya mengumumkan susunan kabinetnya yang baru sore ini. Lima nama baru masuk, dua wajah lama sekadar bergeser posisi.
Tapi, bukan perombakan kabinet itu benar yang menarik perhatian saya. Saya lebih tertarik pada wajah Tuan Presiden yang ketika mengumumkan nama-nama menteri baru itu terlihat sangat capek. Ia sepertinya kurang tidur, mungkin juga karena energi dan konsentrasinya telah terkuras untuk mengevaluasi kinerja para pembantunya itu.
Pidatonya datar — seperti sudah kita duga — dan ringkas saja. Ia seperti ingin buru-buru menyudahi kalimatnya supaya bisa segera istirahat di kasur dan bantal yang empuk. Tapi, mana bisa? Ia seorang presiden. Banyak tugas dan pekerjaan lain yang menunggu. Reshuffle kabinet pasti hanyalah sebutir pasir di tengah lautan pekerjaannya. « Read the rest of this entry »
Dolly Pecas Ndahe
April 28, 2007 § 18 Komentar
Para lelaki penggemar “molimo” tampaknya harus mencari tempat nongkrong baru. Setelah Saritem Tbk. di Bandung ditutup pekan lalu, Dolly Inc. di Surabaya pun terancam gulung tikar.
Kenapa?
Saya baca di situs Earthtimes.org bahwa lumpur panas Lapindolah yang membuat Dolly, kawasan industri esek-esek terbesar Indonesia (?) itu, mulai memasuki masa-masa sulit.
Pelanggan luar kota jarang datang karena terhadang lautan lumpur. Roda bisnis pemuas syahwat itu pun terganggu. « Read the rest of this entry »



