Protes Pecas Ndahe
April 10, 2007 § 11 Komentar
Hari ini saya baca di koran-koran yang mengabarkan bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kemarin meneken Peraturan Presiden tentang Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo. Badan ini menggantikan Tim Nasional Penanggulangan Semburan Lumpur di Sidoarjo (Timnas Lumpur Lapindo) yang selesai tugasnya bulan lalu.
Menurut Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2007 tertanggal 8 April 2007 itu, Badan Penanggulangan Lumpur bertugas menangani semburan dan luapan lumpur, masalah sosial, serta infrastruktur akibat luapan lumpur Lapindo di Sidoarjo.
Ah, saya jadi teringat lagi pada penderitaan penduduk Porong yang rumahnya tenggelam dalam lautan lumpur. Sejak Mei tahun lalu, dan setelah berbagai upaya dicoba, masalah ini ternyata belum selesai juga. Kasihan benar warga di Porong. Padahal apa salah mereka? « Read the rest of this entry »
IPDN Pecas Ndahe
April 6, 2007 § 142 Komentar
Kebanyakan dari kita tak tahu apa yang sesungguhnya terjadi di Institut Pemerintahan Dalam Negeri, Jatinangor, Jawa Barat. Kecuali mereka yang memang pernah menuntut ilmu di sana, para pengajar, siapa yang mengenal sudut-sudut gelap di lorong-lorong kampus itu?
Saya tidak. Mungkin sampean juga.
Maka, setiap kali ada mahasiswa di sana yang meninggal karena dianiaya oleh seniornya, kita tersentak. Kita heran dan bertanya-tanya: ada apakah gerangan di IPDN?
Paklik Isnogud hanya menggelengkan kepala ketika saya mengajaknya bercakap-cakap tentang fenomena kekerasan di lingkungan pencetak para calon pamong, pejabat, birokrat, orang-orang yang akan mengurus sebagian hidup kita itu. « Read the rest of this entry »
Microwave Pecas Ndahe
Maret 31, 2007 § 11 Komentar
Pria adalah micowave; Wanita itu kompor listrik.
***
Kami, saya dan Paklik Isnogud, sedang mendengarkan album lama Guruh-Gipsy hasil kolaborasi Chrisye dan Guruh Soekarnoputra siang itu ketika Mas Mbelgedes datang tergopoh-gopoh. Keringat berleleran di wajahnya yang bersemu ungu — karena saking hitamnya. Napasnya terengah-engah, nyaris putus.
“Wadoh Paklik, Mas … tobat-tobat. Ketiwasan saya … ” kata Mas Mbelgedes sambil menunduk-nundukkan badannya.
Melihat Mas Mbelgedes yang datang mendadak dan sikapnya yang tak biasa itu, saya kaget campur heran. Selama ini seingat saya ndak pernah Mas Mbelgedes berani masuk ruang kerja Paklik. Ia buruh lapangan, sehari-hari dia jarang di pabrik. Kalaupun tak ada tugas ke luar, Mas Mbelgedes biasanya lebih suka nongkrong di warung depan pabrik, bukan di sini di ruang Paklik. Kenapa tiba-tiba dia menghambur kemari? Ada apa? « Read the rest of this entry »
Kata-kata Pecas Ndahe
Maret 28, 2007 § 14 Komentar
Harga naik atau disesuaikan? Kelaparan atau kurang makan? Miskin atau pra sejahtera?
Mengapa ada masanya ketika orang lebih suka menghaluskan-haluskan bahasa — bahkan hingga sekarang?
Paklik Isnogud cuma tersenyum ketika saya memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan itu.
“Karena kata-kata juga punya sejarah, Mas,” kata Paklik singkat.
“Maksudnya?” « Read the rest of this entry »



