Tommy Pecas Ndahe
Maret 8, 2007 § 22 Komentar
Ndak usah heran kalau dia bisa membujuk para petinggi hingga sudi turun tangan ikut melancarkan pengambilan duitnya di London, Inggris.
Lah wong ibu-ibu muda, janda-janda cantik, dan gadis-gadis bahenol pun kepincut pesonanya, apalagi cuma dua cecunguk kemaruk yang sangat merindukan rupiah.
Ndak usah heran jika hidupnya beruntung terus. Memang dia pernah dipenjara. Tapi, berapa banyak remisi yang diperolehnya — melebihi narapidana yang lain dengan masa hukuman sama?
Memang dia gagal membina rumah tangga. Tapi, berapa banyak lagi rumah tangga yang runyam gara-gara ulahnya?
Tapi, tak usahlah juga kita iri padanya. Kenapa? « Read the rest of this entry »
Cerpen Pecas Ndahe
Maret 5, 2007 § 24 Komentar
Utang yang belum dilunasi bisa bikin ganjalan di hati. Janji yang belum ditepati juga bisa bikin kesal hati. Untuk melunasi janji itulah saya hari-hari ini saya terpaksa semedi. Semedi?
Iya, saya pernah berjanji menulis satu cerita pendek untuk mengisi majalah dinding di pabrik seorang kawan. Dasarnya saya ndak punya waktu banyak, janji itu tertunda-tunda. Ada saja alasan untuk tak menepati utang itu, sampai akhirnya saya tak bisa mengelak lagi.
Celakanya, meski sudah semedi tujuh hari tujuh malam, poso mutih, ide dan gagasan itu tak kunjung datang. Entah sudah berapa banyak kertas kosong yang sudah saya buang ke keranjang sampah. Akhirnya saya cuma mondar-mandir di pabrik ndak keruan. « Read the rest of this entry »
Bahagia Pecas Ndahe
Februari 28, 2007 § 32 Komentar
Gara-gara menemukan berita tentang Dian “Indonesians Sweet Heart” Sastro yang dobel-dobel di dua koran — juga dua situs — itu, saya senyum-senyum sendiri sepanjang hari kemarin. Apalagi ketika saya melihat foto Dian yang ehm-ehm itu. Rasanya gimana gitu …
Teman-teman saya di pabrik bahkan sampai terheran-heran melihat saya yang tampak gembira seperti pejudi ulung yang baru saja menang jackpot. Sampai-sampai Paklik Isnogud pun penasaran dan menghampiri saya.
“Tumben sampean tersenyum terus hari ini. Ada apa, Mas? Baru dapat lotere ya? Naik gaji?” tanya Paklik sedikit curiga. « Read the rest of this entry »
Nyontek Pecas Ndahe
Februari 27, 2007 § 26 Komentar
Ibunya anak-anak belakangan ini sering ngomel. Bukan karena jatah uang belanja berkurang. Bukan karena saya lirak-lirik perempuan lain. Bukan pula lantaran saya berbuat salah.
Bukan, Ki Sanak. Bukan karena itu. Mosok priyayi berbuat salah yang ndak perlu. Ya toh?
Simboke bedes-bedes itu ngomel-ngomel karena mengetahui si sulung yang masih kelas 1 SD itu suka nyontek di sekolah. “Hladalah. Nyontek? Mau jadi apa anak itu?” Begitu kata istri saya.
Saya cuma tersenyum saat dia melaporkan “pandangan mata”-nya itu tentang kelakukan si sulung di sekolah. Priyayi je, pantang marah dong. « Read the rest of this entry »
Burger Pecas Ndahe
Februari 23, 2007 § 24 Komentar
Sesekali jalan-jalanlah ke daerah Lapangan Ros dan seputaran Tebet, atau di Kebayoran Baru, Jakarta. Sampean pasti akan melihat ada sesuatu yang nyaris seragam.
Belakangan ini, di wilayah itu bermunculan kedai-kedai burger dan sandwich. Ada warung “ini burger” atau “itu burger”, cafe burger and sandwich, juga kedai steak and grill.
Tentu saja sampean bisa menebak bahwa kepopuleran Mblenger Burger menjadi pemicu gejala itu. Inilah yang dalam istilah pemasaran disebut me too product.
Meniru itu asyik-asyik saja. Toh akhirnya pasar juga yang menentukan. Konsumenlah yang menjadi wasit apakah sebuah warung atau tempat jajan bakal hidup terus atau tidak. « Read the rest of this entry »




