Petani Pecas Ndahe
Februari 20, 2007 § 25 Komentar
Harga beras naik, orang miskin menjerit. Harga beras anjlok, para petani berteriak.
Beras itu dilema atau simalakama?
Entah. Yang jelas, beras itu selalu menjadi persoalan di negeri ini karena hampir semua orang makan nasi dari beras. Seandainya penduduk negeri yang gemah ripah loh jinawi ini makan roti dari gandum, masalahnya pasti lain lagi.
Tapi, masalah para petani tak pernah habis, ada atau tiada beras. Harga beras naik atau turun, petani tetap punya masalah.
Jadi, lebih baik kita membela petani? Mungkin. Bukankah petani yang resah bisa berakibat fatal? « Read the rest of this entry »
Pasir Pecas Ndahe
Februari 19, 2007 § 11 Komentar
Berkat tumpukan pasir dari negeri seberang, wilayah Singapura bertambah luas. Karena pasir [sebagian] colongan, Negeri Liliput itu menjelma menjadi semacam “kerikil dalam sepatu” bagi tetangganya.
Singapura dianggap telah melakukan kecurangan, diam-diam menambah batas teritori. Pemerintah Singapura pun dituduh “merestui” pencurian pasir, juga larangan impor pasir. Orang kemudian ramai bersuara, menghujat, dan berseru, “Maling! Sikat!”
Bagaimana sebetulnya kita menentukan batas-batas negara? Siapa sebetulnya yang paling berhak menentukan? « Read the rest of this entry »
Pungli Pecas Ndahe
Februari 19, 2007 § 15 Komentar
Sebuah blog antikorupsi baru saja lahir. Di antara kian beragamnya blog-blog lain yang bermunculan hari-hari ini, blog pungli seperti angin segar bagi Republik Korupsi ini.
Terus terang saya terpana pada blog yang mengusung tema dahsyat ini. Ini barang langka yang perlu dilestarikan. Di tengah arus kegilaan korupsi yang memboyot, blog ini membawa pesan: “”masih ada cahaya di ujung lorong yang gelap.”
Saya tak tahu orang-orang di belakang blog itu, saya juga ndak kenal mereka. Tapi, saya tahu mereka pasti orang-orang yang hebat, orang-orang yang berani melawan korupsi yang sudah sangat merusak itu. « Read the rest of this entry »
Babi Pecas Ndahe
Februari 17, 2007 § 25 Komentar
Tanpa terasa waktu berlalu dan Ahad besok masyarakat Tionghoa merayakan Tahun Baru Imlek 2558. Kita memasuki masa yang disebut Tahun Babi.
Seperti biasa, saya lalu berbincang ringan dengan Paklik Isnogud tentang Imlek, tentang barongsai, tentang pesta-pesta yang didominasi warna merah, dan sebagainya.
“Bagaimana nasib dan peruntungan kita di Tahun Babi, Paklik?”
“Hahaha … ” Paklik tertawa. “Sampean ini kok aneh-aneh, lah wong saya ini bukan peramal je, Mas. Tentu saja saya ndak tahu bagaimana nasib sampean di Tahun Babi ini. Ngomong-omong soal babi, saya kok jadi ingat sebuah dongeng.”
“Dongeng apa, Paklik?” « Read the rest of this entry »
Walkman Pecas Ndahe
Februari 16, 2007 § 31 Komentar
Gara-gara mau mendengarkan kaset lagu-lagu The Police dan Genesis, saya terpaksa bongkar-bongkar laci. Saya harus mengaduk-aduk koleksi lawas itu jauh di bawah tumpukan kertas-kertas, arsip, dokumen, dan segala tetek-bengek yang dibuang sayang itu.
Gara-gara itu pulalah, saya mengeluarkan walkman Sony uzur saya yang usianya sudah sekitar sepuluh tahun itu. Saya mau leyeh-leyeh di meja sambil mendengarkan suara Sting, menikmati suara Phil Collins.
Tapi, belum juga saya menekan tombol play, kawan sebelah meja saya tiba-tiba menowel dan bertanya, “Masih punya gituan to, Mas?” katanya sambil menunjuk walkman saya yang sudah pudar warnanya itu. “Emang nggak punya iPod? Nggak punya MP3 playernya? Komputernya nggak ada playernya, ya?” « Read the rest of this entry »




