Cinta Pecas Ndahe

Februari 14, 2007 § 23 Komentar

Mengapa lagu-lagu cinta umumnya terdengar cengeng? Mengapa pula penyanyi lagu-lagu ngak-ngik-ngok itu hampir selalu berwajah seragam, melankolis, dan suaranya rata-rata seperti orang tercekik?

Saya ingat, dulu ada Iis Sugianto, Betharia Sonata, Nia Daniaty, dan serombongan artis JK Record yang nada suaranya hampir seragam itu. Saya bahkan sering kali tak bisa membedakan mereka karena teriakannya pun sama, “Kauuu …. kaulah segalanya … ”

Halah. Jadul amat ya? « Read the rest of this entry »

Roso Pecas Ndahe

Februari 13, 2007 § 12 Komentar

Cinta, rindu, dan benci. Apa bedanya kalau batasnya cuma setipis kulit bawang? Ini kan soal roso.

Tapi, di hari-hari ini, menjelang Hari Valentine itu [halah!], kata-kata sakti andalan anak-anak muda yang sedang wuyung, gandrung, kasmaran, itu kembali dibuka-buka dan ditafsirkan. Mungkin ada gunanya juga kalau kita sekali-sekali berbincang tentang tiga kata itu.

Ah, saya jadi ingin ngobrol dengan Paklik Isnogud tentang rasa cinta, rindu, dan benci. Kepada siapa saya bisa bertanya tanpa rasa iri dan dengki, dendam dan kesumat. Tapi, jangan-jangan Paklik ogah diajak ngobrol yang beginian? « Read the rest of this entry »

Dendam Pecas Ndahe

Februari 13, 2007 § 21 Komentar

Mengapa manusia menyimpan dendam? Saya memikirkan pertanyaan itu setelah membaca wawancara majalah ini dengan Basri, buron nomor satu di Poso.

Basri, seperti pengakuannya di majalah itu, adalah salah satu pentolan dalam perang di Poso. Ia mengaku pernah membunuh banyak orang di perang itu, membantai tiga siswi SMA dengan parang, dan ikut memerangi polisi di Tanah Runtuh.

Polisi menangkapnya pekan lalu. Ketika ditanya mengapa ia ikut mengobarkan kekerasan di Poso, Basri menjawab,

Keluarga saya banyak dibantai, ada 26 orang, pada peristiwa Kilo 9. Mayat semuanya saya angkat sendiri. Sejak itu saya dendam. Lalu datang doktrin-doktrin agama. Saya seperti popeye yang diberi bayam.

Gendeng. Saya mengumpat dalam hati. Tapi, sebetulnya tapi saya tak tahu pasti kepada siapa seharusnya umpatan itu saya berikan. Basri? Pembunuh keluarganya? Atau siapa? « Read the rest of this entry »

Snob Pecas Ndahe

Februari 7, 2007 § 18 Komentar

Dalam setiap bencana selalu terselip cerita human interest. Kisah-kisah ringan yang menarik perhatian. Cerita-cerita tentang manusia dan pernak-perniknya. Ada yang lucu, dramatik, memprihatinkan, menggelikan, sekaligus ada juga yang ngeselin.

Saya mendengar satu kisah ringan yang ngeselin itu di radio tadi pagi. Syahdan si penyiar mewawancarai seorang relawan yang beberapa kali mengevakuasi korban banjir.

Si penyiar bertanya, “Apa sih suka dukanya jadi relawan? Ada nggak korban yang malah marah-marah ketika hendak ditolong? Ada nggak korban yang ngeselin?”

« Read the rest of this entry »

Radio Pecas Ndahe

Februari 5, 2007 § 19 Komentar

Ketika banjir menyapu Jakarta, orang kembali melirik radio. Para pendengarnya mengandalkan siaran radio untuk mencari dan mendengarkan pelbagai info seputar banjir.

Hari-hari ini radio kembali menunjukkan kekuatannya sebagai media yang belum tergantikan oleh media lain seperti koran, majalah, televisi bahkan Internet sekalipun.

Televisi memang masih mencoba merebut sisa-sisa kekuatannya dengan menayangkan secara langsung gambar-gambar yang dramatik. Namun, tetap saja orang kembali ke radio — bukan ke laptop, seperti Thukul.

« Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing the Paklik Isnogud category at Ndoro Kakung.