Sungai Pecas Ndahe

Februari 2, 2007 § 14 Komentar

Hujan lebat datang berkepanjangan. Sungai-sungai meluap. Kampung-kampung tergenang. Dan Jakarta pun kebanjiran. Ah, ritual tahunan yang selalu mencemaskan …

Saya dan Paklik Isnogud terbengong-bengong di depan TV yang menayangkan gambar-gambar warga pinggiran yang mengungsi karena rumahnya kelelep air. Antara sedih, trenyuh, dan gemes, saya heran kenapa masih juga ada orang yang nekat tinggal di bantaran kali. « Read the rest of this entry »

Sekolah Pecas Ndahe

Januari 31, 2007 § 14 Komentar

Iseng-iseng saya nonton TVRI tadi malam. Rasanya sudah lama betul saya ndak nonton stasiun pelat merah ini. Sampean tahu apa yang saya temukan?

Rupanya ada acara yang masih bertahan sejak dulu, yaitu Kamera Ria. Acara yang disiarkan setiap Selasa dan Minggu malam ini hasil kerja sama antara TVRI dan Puspen TNI (d/h ABRI). Saya ingat, acara ini dulu dipandu oleh Frans Hasibuan — orang Batak bersuara bariton itu. Sekarang sudah ganti siapa gitu … maaf ndak sempat nyatet namanya.

Tapi, ada pula yang menghilang. Apa itu? Jreeeng … “Cerdas Cermat”. Hahaha … Jadul banget ya?. Sangat lapan puluhan. Masih adakah di antara sampean yang ingat acara itu, Ki Sanak? Dulu saya sering nonton acara itu pada sore-sore tertentu. « Read the rest of this entry »

CGI Pecas Ndahe

Januari 30, 2007 § 12 Komentar

Jakarta membubarkan CGI, klab para pemberi utang itu. Lalu ada sebagian orang yang dengan bangga menepuk dada dan berteriak lantang: go to hell with your aids.

Para patriot bangsa yang tertipu?

Saya tak tahu. Jangan salah. Membubarkan CGI tak serta merta berarti kita lepas dari jeratan utang. CGI boleh bubar, utang dan bunganya jalan terus. Kita harus tetap membayar, sampai bokek. Beginilah nasib kita sebagai bangsa paria. Halah. « Read the rest of this entry »

Revolusi Pecas Ndahe

Januari 29, 2007 § 13 Komentar

Sebagian orang menganggap revolusi itu sesuatu yang seksi. Revolusi, katanya, bisa membuat segala hal berubah dalam semalam. Karena itu, banyak orang bercita-cita membikin revolusi. Tapi, kawan saya Mas Bli Pedande justru merasa ngeri setiap kali mendengar kata “revolusi.”

“Sampai saat ini, saya selalu tersentak jika melihat orang berdarah, dan jika menemukan kata ‘revolusi,” tulis Mas Bli Pedande dalam e-mailnya.

Ada apakah gerangan sampai Mas Bli Pedande mengirimkan surat elektronik seperti itu? Saya terpaksa membaca-baca kembali semua koran yang tak sempat saya baca selama lebih dari sepekan. Menyisir berita demi berita. Aha! Saya menemukan jawabannya. « Read the rest of this entry »

Bikers Pecas Ndahe

Januari 28, 2007 § 14 Komentar

Para pengendara sepeda motor menentang rencana pemerintah Jakarya melarang sepeda motor masuk jalan protokol: Sudirman dan M.H. Thamrin. Aturan itu dianggap diskriminatif dan memiskinkan masyarakat.

Para bikers yang tergabung dalam pelbagai perkumpulan itu lalu unjuk rasa, ramai-ramai berpawai sambil mengusung spanduk berisi kecaman terhadap larangan itu. Benarkah larangan itu diskriminatif? Bagaimana sebetulnya mengelola lalu lintas Jakarta yang semakin semrawut ini?

Saya tak tahu, tapi … Aha! Paklik Isnogud pasti punya dongeng yang inspiratif tentang lalu lintas yang kian kusut di Jakarta ini. Saya mau cari dia dulu. Apalagi sudah lebih dari sepekan saya tak bertemu dengannya. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing the Paklik Isnogud category at Ndoro Kakung.