Skandal Pecas Ndahe

Desember 9, 2006 § 9 Komentar

Yahya Zaini, wakil rakyat yang ketahuan berbuat mesum dengan Maria Eva itu, akhirnya mundur dari Partai Golkar dan keluar dari gedung parlemen. Selesai sudah skandal sex, lies, and videotape itu.

Tutup buku? Eits, tunggu dulu. Lah kok enak amat? Terus terang saya getun, mangkel, kuciwa, mengetahui akhir skandal yang memalukan itu kok cuma jadi seperti ini — lah memangnya harus seperti apa ya? Ngarang deh … 🙂

Memang apalah daya saya? Siapa saya ini, Ki Sanak? Paling-paling saya cuma boleh jengkel, dan mengumpat, misuh-misuh, dalam hati. Tapi, kemangkelan ini kan tetap harus saya limpahkan supaya ndak jadi belatung di hati. Ke mana? « Read the rest of this entry »

Keinginan Pecas Ndahe

Desember 8, 2006 § 16 Komentar

.

Seorang wanita menangis di layar kaca. Matanya merah. Wajahnya sembab. Suaranya tersendat. Sambil terisak ia meminta masyarakat tak menzalimi suaminya. Ia juga minta masyarakat menghentikan pergunjingan tentang suami dan keluarganya.

Saya yang kadang-kadang merasa jadi anggota masyarakat jadi bingung. Perempuan iki sopo? Lah kok minta saya tak menzalimi suaminya. Salah apa suaminya?

Paklik Isnogud yang kebetulan lewat di dekat saya ikut berhenti dan menonton TV.

“Loh, ini kan istrinya Ndoro Wakil Rakyat sing tumpak-tumpakan sama penyanyi dangdut itu, Mas. Mosok sampean ndak ngerti?” kata Paklik. “Mau apa dia?”

« Read the rest of this entry »

Rakyat Pecas Ndahe

Desember 6, 2006 § 8 Komentar

Sampean tahu apa tentang rakyat? Ketika ada si miskin yang tergusur lumpur dan si jelata kebingungan melihat ulah para pemimpin yang semakin ndak mutu, sampean tahu apa? Apa pula yang sampean tahu tentang rakyat ketika wakilnya malah berbuat mesum?

Paklik Isnogud kaget ketika pagi itu saya memberondongnya dengan pertanyaan seperti itu. Mulutnya menganga. Alis matanya naik. “Mas, mas, sampean kenapa, Mas?”

“Ndak kenapa-kenapa kok, Paklik. Saya lagi sedih saja, bingung, setelah membaca berita-berita di koran dan televisi. Sampean mestinya rak yo mengikuti to? Apa sampean ya ndak sedih. Coba baca berita tentang wakil rakyat yang mesum itu. Coba baca berita soal dai yang mengingkari kotbahnya sendiri. Coba sampean dengar jeritan warga Sidoarjo yang ndak kunjung mendapat uang kompensasi setelah rumahnya terendam lumpur PT Lapindo itu, Paklik. Apa komentar sampean?” « Read the rest of this entry »

Sajak Pecas Ndahe

Desember 5, 2006 § 13 Komentar

Malam seperti itu, hujan sering turun.
Ada kabut tipis dalam gelap, tumbuh dari udara panas.
Kulit terasa lekat.
Tapi hujan telah menunjukkan janjinya, untuk datang.
Kaki-kaki telah bergegas. Orang mencari tempat dan atap.

Saya melihat goretan pensil di atas kertas putih itu di atas meja Paklik Isnogud. Sebuah puisi? Sajak? Mungkin. Hujan memang turun. Paklik barangkali ingin mengabadikannya dalam larik-larik kalimat yang romantik. Saya membatin: tumben. Ada apakah gerangan?

“Itu bukan sajak, bukan puisi, Mas,” kata Paklik Isnogud yang tiba-tiba sudah berdiri di sebelah saya. Ia seperti bisa menebak pikiran.

“Bukan sajak, bukan puisi? Lah njuk apa, Paklik?”

“Itu pengantar tulisan Fred de Silva, editor koran Ceylon Daily News, yang dia bacakan di sebuah seminar pada 1975 di antara para wartawan Dunia Ketiga. Mungkin dia sedang terpesona oleh sihir hujan, lalu membuka tulisannya dengan kata-kata itu.” « Read the rest of this entry »

Gymnastiar Pecas Ndahe

Desember 3, 2006 § 37 Komentar

Dai kondang Aa Gymnastiar akhirnya mengaku punya istri muda. Dengan hati remuk, ibu-ibu pun menangis. Mereka merasa kehilangan seorang tokoh yang selama ini jadi idola, panutan.

Seorang wakil rakyat ketahuan berbuat mesum dengan penyanyi dangdut perempuan. Rekaman videonya beredar ke mana-mana. Dan orang ramai mengumpat-umpat. Mereka merasa tertipu — lagi.

Hari-hari ini kita membaca cerita tentang memudarnya sebuah imaji. Tentang para tokoh yang sosoknya ternyata berbeda dari yang kita bayangkan semula. Lalu orang pun mengumpat. “Ah, ternyata cuma segitu doang, sama saja dengan yang lain.”

Ki Sanak, selamat datang di dunia tempat roda terus berputar: from zero to hero, from hero to zero. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing the Paklik Isnogud category at Ndoro Kakung.