Shanghai Pecas Ndahe

September 6, 2012 § 102 Komentar

Timur dan Barat bertemu di Shanghai. Begitulah kesan yang selalu tertancap di benak saya, setiap kali berjalan-jalan di kota terbesar di Cina itu.

Atraksi kungfu di lokasi wisata Zhu Jia Jiao, Shanghai.

Di Shanghai, kita bisa menemukan budaya lama Cina sekaligus ikon-ikon modern dari Barat. Saya, misalnya, masih menemukan penduduk Shanghai dengan pakaian tradisional Cina sedang berjalan-jalan di mal yang disesaki oleh toko-toko yang menjual aneka produk global terkenal, seperti Mango, Bvlgari, Zara, LV, McDonalds, dan sebagainya.

Pesiar saya ke Shanghai pada awal Agustus 2012 itu adalah yang kedua, setelah kunjungan pertama hampir sepuluh tahun silam. « Read the rest of this entry »

Iklan

Mei Pecas Ndahe

Mei 14, 2010 § 185 Komentar

Tentang pemerkosaan yang terjadi pada Mei 1998, ada begitu banyak cerita dan tak begitu banyak data. Ini bukan berarti bahwa orang dengan gampang dapat mengatakan bahwa semua laporan tentang brutalitas yang berlangsung dalam kerusuhan Mei lalu terhadap kalangan keturunan Cina, hanya teriakan kosong yang tidak menyenangkan.

Laporan-laporan tim independen, sejumlah LSM, menunjukkan bahwa kekerasan itu memang pernah terjadi. Sejumlah perempuan dipaksa sekelompok orang secara seksual. Dan mereka dijahanami karena mereka berasal dari ras tertentu. Mereka Tionghoa.

Pada September 1998, majalah Tempo menurunkan laporan kesaksian seseorang perempuan yang bertemu dengan korban perkosaan. Berikut ini petikannya, sebagai sebuah pengingat, bahwa Indonesia pernah menorehkan lembaran paling hitam dalam sejarahnya. Ini semacam upaya melawan lupa. Berikut ini kisahnya … « Read the rest of this entry »

Priok Pecas Ndahe

April 14, 2010 § 81 Komentar

Petugas Satuan Polisi Pamong Praja bentrok dengan massa di kawasan Koja, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Bentrok dipicu rencana petugas menertibkan kawasan pemakaman Mbah Priuk.

Jumlah korban luka-luka dan meninggal masih simpang siur. Tapi apa bedanya? Mau satu, dua, tiga atau seratus, yang namanya korban tetap korban.

Ingatan saya melayang pada sebuah esai Goenawan Mohamad tentang “korban” dan “massa”. Korban, tulis GM, adalah mereka yang lari dari desa dan digusur dari perluasan kota.

Perubahan selalu melahirkan korban. Revolusi industri di Inggris, perang saudara di Amerika, revolusi Bolshewik di Rusia, pembangunan kota Paris.

Hari-hari ini kita juga melihat korban jatuh di kawasan pecinan Benteng, Tangerang, dan di Tanjung Priok — atas nama perubahan.

Mengapa yang jadi korban hanya mereka, orang kecil sejak dulu? Bukankah itu pertanda ketidak-adilan dari strategi pembangunan? Tidakkah ada jalan lain, yang jika perlu ada korban maka itu biarlah mereka yang pernah nikmat di atas? « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with cina at Ndoro Kakung.