Shanghai Pecas Ndahe

September 6, 2012 § 102 Komentar

Timur dan Barat bertemu di Shanghai. Begitulah kesan yang selalu tertancap di benak saya, setiap kali berjalan-jalan di kota terbesar di Cina itu.

Atraksi kungfu di lokasi wisata Zhu Jia Jiao, Shanghai.

Di Shanghai, kita bisa menemukan budaya lama Cina sekaligus ikon-ikon modern dari Barat. Saya, misalnya, masih menemukan penduduk Shanghai dengan pakaian tradisional Cina sedang berjalan-jalan di mal yang disesaki oleh toko-toko yang menjual aneka produk global terkenal, seperti Mango, Bvlgari, Zara, LV, McDonalds, dan sebagainya.

Pesiar saya ke Shanghai pada awal Agustus 2012 itu adalah yang kedua, setelah kunjungan pertama hampir sepuluh tahun silam.

Ceritanya saya diajak Panasonic Indonesia untuk mengikuti seminar fotografi dan perkenalan dengan salah satu kamera terbarunya Lumix G5. Kamera mirrorless ini merupakan generasi G tercanggih sejak seri G1 yang diluncurkan pada 2008.

Meski kabar kemunculannya sudah terdengar sejak Juli lalu, sosok Lumix G5 baru dilihat langsung oleh para jurnalis se-Asia, termasuk saya, awal Agustus 2012 di Shanghai, Cina. Di situlah terkuak spesifikasi G5, seperti ini:

– Sensor MOS 16 MP
– ISO 160-12,800
– Layar LCD 3.0 inci 920k dot yang sensitif dengan teknologi sentuh Touchpad AF
– Viewfinder elektronik 1.44 juta titik dengan sensor mata
– Video Full AVCHD 1080/60p dengan pilihan perekaman 1080 30p MP4
– Fitur continuous shooting berkecepatan 6 frame/detik, 3.7 fps with AF-tracking
– Ada 14 pilihan filter efek.

Semua jeroan dan kemampuan kamera itu tentu saja tak ada artinya kalau saya tak mencobanya sendiri. Hanya dengan praktik langsung, saya akan tahu apa kelebihan dan kekurangan, serta kualitas gambar yang dihasilkan oleh G5.

Demi merasakan sendiri itulah saya, dan para jurnalis, dibawa ke dua lokasi pemotretan, Zhu Jia Jiao dan The Bund.

Terletak di luar kota Shanghai, sekitar satu jam perjalanan naik bus, Zhu Jia Jiao merupakan kawasan taman air yang dibangun 1.700 tahun silam. Bahkan ada juga beberapa bangunan kuno berusia lebih dari 5.000 tahun di kiri dan kanan sungai yang membelah taman ini.

Sedangkan The Bund adalah sebuah kawasan wajib kunjung di pinggir Sungai Huangpu di jantung Shanghai. Kawasan ini merupakan favorit para turis. Jangan pernah mengaku pernah ke Shanghai jika belum pernah menginjakkan kaki di sini.

Dua lokasi di atas memiliki karakteristik dan keunikan masing-masing. Di Taman Air Zhu Jia Jiao, saya bisa mencoba fitur Burst Shooting Lumix G5 untuk merekam adegan atraksi kungfu. Saya juga sempat mencoba pelbagai pilihan filter untuk mengabadikan lanskap taman.

Di The Bund, giliran aneka filter efek yang saya pakai bergantian untuk merekam cahaya malam. Hasilnya bisa dinikmati dalam galeri foto ini.

photoshoot shanghai

Terus terang saya belum puas menjajal kamera G5 dan sesi pemotretan di Shanghai. Sayang, waktunya terbatas. Mungkin lain kali ada kesempatan yang lebih luas.

>> Selamat hari Kamis, Ki Sanak. Bagaimana foto-foto hasil jepretan saya di Shanghai?

Iklan

Tagged: , , , , , , ,

§ 102 Responses to Shanghai Pecas Ndahe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Shanghai Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: