Dongeng tentang dua ekor buaya

Juni 25, 2019 § 3 Komentar

SORE di sebuah kedai kopi di jantung Jakarta. Duduk di depan saya seorang gadis, usia belum 30 tahun, pekerja di sebuah agensi digital. Di atas meja kami duduk berhadapan terhampar laptop, dua ponsel seri terbaru, buku agenda, beberapa lembar kertas, sepiring pisang goreng yang sudah dingin, dan secangkir kopi hitam tanpa gula.

Foto ilustrasi buaya dari Pexels.

“Bayangkan, Mas,” ia memulai percakapan. “Betapa ribet pekerjaan saya. Saya mesti membawa semua ini ke mana-mana, pindah dari kantor ke kafe, ke tempat klien, balik kantor lagi. Bolak-balik begitu saja terus hampir setiap hari.”

Saya tersenyum sambil menyesap kopi.

“Kerja keras, tapi gaji kecil. Eh, padahal di kantor ada orang tua yang kerjanya cuma duduk-duduk seharian. Nggak pernah ikut meeting, apalagi bertemu klien. Sesekali saja dia keluar kantor dan nggak balik lagi. Tapi gajinya gede. Saya dan teman-teman yang masih muda kerja keras, eh dia ongkang-ongkang kaki nggak jelas kerjanya. Nggak adil kan, Mas?” « Read the rest of this entry »

Iklan

Kesepian Pecas Ndahe

November 30, 2007 § 22 Komentar

… Success is my breathing space
I brought it on myself
I will price it I will cash it
I can take it or leave it …

Loneliness is my hiding place
Breast feeding myself
What more can I say?
I have swallowed the bitter pill
I can taste it I can taste it
Life is real life is real
Life is real …
[Life is Real, Queen]

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with life at Ndoro Kakung.