Dongeng tentang dua ekor buaya

Juni 25, 2019 § 7 Komentar

SORE di sebuah kedai kopi di jantung Jakarta. Duduk di depan saya seorang gadis, usia belum 30 tahun, pekerja di sebuah agensi digital. Di atas meja kami duduk berhadapan terhampar laptop, dua ponsel seri terbaru, buku agenda, beberapa lembar kertas, sepiring pisang goreng yang sudah dingin, dan secangkir kopi hitam tanpa gula.

Foto ilustrasi buaya dari Pexels.

“Bayangkan, Mas,” ia memulai percakapan. “Betapa ribet pekerjaan saya. Saya mesti membawa semua ini ke mana-mana, pindah dari kantor ke kafe, ke tempat klien, balik kantor lagi. Bolak-balik begitu saja terus hampir setiap hari.”

Saya tersenyum sambil menyesap kopi.

“Kerja keras, tapi gaji kecil. Eh, padahal di kantor ada orang tua yang kerjanya cuma duduk-duduk seharian. Nggak pernah ikut meeting, apalagi bertemu klien. Sesekali saja dia keluar kantor dan nggak balik lagi. Tapi gajinya gede. Saya dan teman-teman yang masih muda kerja keras, eh dia ongkang-ongkang kaki nggak jelas kerjanya. Nggak adil kan, Mas?”

Lagi-lagi saya tak menjawab pertanyaannya dan hanya tersenyum. Pikiran saya malah melayang ke sebuah dongeng lawas, tentang dua ekor buaya.

***

Syahdan ada seekor buaya tua sedang mengambang di tepi sungai ketika seekor buaya muda berenang mendekat ke sebelahnya dan bertanya, “Aku sering mendengar bahwa tuan adalah pemburu terlihai dan terganas di sepanjang sungai ini. Sudikah Tuan mengangkat hamba sebagai murid? Tolong ajari hamba berburu….”

Terbangun dari tidur siangnya yang nyenyak, buaya tua itu hanya melirik dengan sebelah mata ke sumber suara yang mengganggunya, tak mengucapkan sepatah jawaban apa pun, lalu melanjutkan istirahatnya mengapung di permukaan sungai.

Merasa frustrasi dan dianggap remeh, buaya muda meluncur cepat menyergap beberapa ikan lele, membuat air sungai bergolak. “Aku mau menunjukkan pada tua bangka itu bahwa aku juga bisa,” ia membatin.

Beberapa hari kemudian, buaya muda itu kembali menemui buaya tua yang masih tidur mengapung dan mengusiknya dengan memamerkan kesuksesannya hari itu.

“Aku telah menangkap beberapa ikan besar dan gemuk hari ini. Apa yang kaudapat, Tuan? Tak ada? Jangan-jangan Tuan ini tak sehebat yang mereka ceritakan. Tuan ternyata bukan siapa-siapa, bukan pemburu paling lihai dan ganas.”

Lagi-lagi buaya tua hanya melirik, tak mengatakan apa pun, menutup matanya kembali, lalu mengapung mengikuti arus. Dari jauh, hanya terlihat dua matanya yang tertutup dan ujung moncongnya di permukaan sungai. Tubuhnya tertutup dedaunan yang memenuhi permukaan sungai.

Sekali lagi, buaya muda itu naik darah, kesal, marah, karena tak digubris sama sekali oleh seniornya. Ia pergi dengan cepat menuju hilir sambil memikirkan apa yang harus ditangkapnya untuk membuat buaya tua itu kagum dan menunjukkan sedikit rasa hormat.

Setelah berjam-jam mengelilingi sungai, buaya muda itu datang dengan wajah terlihat berseri-seri. Di mulutnya yang dihiasi sederet gigi yang kuat dan tajam tampak seekor anak bangau mati tak berdaya. Dengan gegas ia membawa anak bangau itu bagaikan sebuah trofi ke hadapan buaya tua. Ia ingin menunjukkan siapa sebenarnya pemburu sejati di sungai ini.

Buaya tua itu masih di tempat semula, mengapung, diam tak bergerak. Tiba-tiba sesuatu terjadi. Seekor zebra gendut berjalan mendekat ke bibir sungai, menunduk, dan mulai mereguk air dingin pelepas dahaga di siang yang begitu panas, persis beberapa senti di dekat mulut buaya tua itu.

Dengan gerakan secepat kilat, buaya tua itu meloncat dari bawah air dan menerkam leher zebra, menghunjamkan gigi-giginya yang tajam bagaikan gergaji listrik, lalu membenamkannya ke sungai.

Aksi cepat dan singkat itu membuat buaya muda tersentak. Takjub. Anak bangau di mulutnya tentu tak sebanding dengan zebra gemuk yang tengah dikunyah-kunyah oleh buaya tua. Terbata-bata buaya muda berkata lirih, “Tuan…tuan…ajari hamba bagaimana cara Tuan melakukan itu. Tolong Tuan….”

Dengan mulut yang masih penuh oleh zebra, buaya tua itu akhirnya menjawab, “Aku tidak melakukan apa-apa … “

***

Sore itu di sebuah kedai kopi di jantung Jakarta, saya tak bertemu buaya tua dan buaya muda. Di depan saya ada gadis muda dengan wajah berkeringat, mata yang menyala-nyala, dan mulut yang tak berhenti bercerita.

>> Selamat hari Selasa, Ki Sanak. Apakah sampean merasa mendapat hikmah dari dongeng buaya ini?

Iklan

Tagged: , , ,

§ 7 Responses to Dongeng tentang dua ekor buaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Dongeng tentang dua ekor buaya at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: