Archive for January, 2007

Novelis Pecas Ndahe

“Jika benar ada Tuhan, perlihatkanlah wajahmu kepadaku.”

Selasa kemarin ini, Sidney Sheldon sang novelis kondang itu, benar-benar melihat wajah Tuhan. Ia meninggal pada usia 89 tahun karena radang paru-paru.

Sheldon memang sudah lama merindukan Tuhan. Umurnya baru 17 tahun ketika negerinya dilanda krisis ekonomi pada 1934. Ratusan bank harus tutup. Puluhan usaha gulung tikar. Lebih dari 13 juta manusia kehilangan pekerjaan. Sheldon pun ikut tergerus frustrasi massal dan mengatakan kalimat itu dengan sedih.

Penggalan kisah itu tertuang dalam buku terakhir Sheldon, The Other Side of Me, yang terbit pada 2005. Tak seperti 16 buku sebelumnya yang berupa novel, buku ini berkisah tentang perjalanan hidup sang penulis — yang berhenti sehari yang lalu.

Saya hanya bisa menundukkan kepala begitu membaca berita kepergian jago cerita nomor wahid itu. Dust to dust, ashes to ashes …

Adakah di antara sampean yang suka karya-karya Sheldon? Judul yang mana favorit sampean, Ki Sanak?

25 comments

Aparat Pecas Ndahe

Pebulutangkis Ade Chandra sudah lama tak terdengar kabar beritanya. Setelah menjadi juara ganda putra bersama Christian Hadinata di kejuaraan All England pada era 1970-1980-an, namanya tak lagi disebut-sebut media massa.

Eh lah kok tiba-tiba harian Pos Kota milik mantan menteri Harmoko itu menampilkan headline Ade Chandra ditangkap polisi gara-gara terlibat uang palsu. Terus terang saya kaget.

Benarkah Ade Chandra ditangkap? Kenapa dia berani mengorbankan nama baiknya selama ini? Read more

19 comments

Sekolah Pecas Ndahe

Iseng-iseng saya nonton TVRI tadi malam. Rasanya sudah lama betul saya ndak nonton stasiun pelat merah ini. Sampean tahu apa yang saya temukan?

Rupanya ada acara yang masih bertahan sejak dulu, yaitu Kamera Ria. Acara yang disiarkan setiap Selasa dan Minggu malam ini hasil kerja sama antara TVRI dan Puspen TNI (d/h ABRI). Saya ingat, acara ini dulu dipandu oleh Frans Hasibuan — orang Batak bersuara bariton itu. Sekarang sudah ganti siapa gitu … maaf ndak sempat nyatet namanya.

Tapi, ada pula yang menghilang. Apa itu? Jreeeng … “Cerdas Cermat”. Hahaha … Jadul banget ya?. Sangat lapan puluhan. Masih adakah di antara sampean yang ingat acara itu, Ki Sanak? Dulu saya sering nonton acara itu pada sore-sore tertentu. Read more

12 comments

CGI Pecas Ndahe

Jakarta membubarkan CGI, klab para pemberi utang itu. Lalu ada sebagian orang yang dengan bangga menepuk dada dan berteriak lantang: go to hell with your aids.

Para patriot bangsa yang tertipu?

Saya tak tahu. Jangan salah. Membubarkan CGI tak serta merta berarti kita lepas dari jeratan utang. CGI boleh bubar, utang dan bunganya jalan terus. Kita harus tetap membayar, sampai bokek. Beginilah nasib kita sebagai bangsa paria. Halah. Read more

12 comments

DBD Pecas Ndahe

Sudah tahu pemerintah kita itu paria, selalu lamban dan lambat bergerak, masih juga kita menyalahkannya dalam kasus demam berdarah.

Sudah tahu mencegah itu lebih baik daripada mengobati, masih juga kita sering mengabaikan gerakan menguras, menutup, dan mengubur itu.

Sudah tahu demam berdarah itu disebarluaskan oleh nyamuk kebun Aedes aegypti dan Aedes albopictus, masih juga kita menjadikan rumah dan lingkungan sekitarnya sebagai sarang perindukan nyamuk.

Ayo, Ki Sanak. Sebelum wabah kian meluas. Sebelum korban makin banyak. Sebelum keluar duit lebih besar. Mari kita segera menyiangi rumah dan melakukan gerakan menguras, menutup, dan mengubur sarang nyamuk itu.

Kobarkan perang melawan demam berdarah mulai sekarang. Tolong sebarkan pesan ini!

17 comments

Revolusi Pecas Ndahe

Free Image Hosting at allyoucanupload.com

Sebagian orang menganggap revolusi itu sesuatu yang seksi. Revolusi, katanya, bisa membuat segala hal berubah dalam semalam. Karena itu, banyak orang bercita-cita membikin revolusi. Tapi, kawan saya Mas Bli Pedande justru merasa ngeri setiap kali mendengar kata “revolusi.”

“Sampai saat ini, saya selalu tersentak jika melihat orang berdarah, dan jika menemukan kata ‘revolusi,” tulis Mas Bli Pedande dalam e-mailnya.

Ada apakah gerangan sampai Mas Bli Pedande mengirimkan surat elektronik seperti itu? Saya terpaksa membaca-baca kembali semua koran yang tak sempat saya baca selama lebih dari sepekan. Menyisir berita demi berita. Aha! Saya menemukan jawabannya. Read more

12 comments

Next Page »