Revolusi Pecas Ndahe
Januari 29, 2007 § 13 Komentar
Sebagian orang menganggap revolusi itu sesuatu yang seksi. Revolusi, katanya, bisa membuat segala hal berubah dalam semalam. Karena itu, banyak orang bercita-cita membikin revolusi. Tapi, kawan saya Mas Bli Pedande justru merasa ngeri setiap kali mendengar kata “revolusi.”
“Sampai saat ini, saya selalu tersentak jika melihat orang berdarah, dan jika menemukan kata ‘revolusi,” tulis Mas Bli Pedande dalam e-mailnya.
Ada apakah gerangan sampai Mas Bli Pedande mengirimkan surat elektronik seperti itu? Saya terpaksa membaca-baca kembali semua koran yang tak sempat saya baca selama lebih dari sepekan. Menyisir berita demi berita. Aha! Saya menemukan jawabannya. « Read the rest of this entry »
Pemakaman Pecas Ndahe
Januari 29, 2007 § 28 Komentar
Sampean butuh pekerjaan? Mau nggak jadi sales kuburan? Eits, jangan mencibir dulu. Gajinya lumayan lo, Rp 10 juta per bulan.
Kalau berminat, silakan telepon taipan Mochtar Riady. Bos Grup Lippo ini sedang membangun taman pemakaman mewah seluas 500 hektare di Karawang Barat, 46 kilometer dari Jakarta. Dan, dia membutuhkan wiraniaga yang sanggup menjual kapling “rumah masa depan” itu ke publik.
Hayo, siapa berminat? « Read the rest of this entry »
Bikers Pecas Ndahe
Januari 28, 2007 § 14 Komentar
Para pengendara sepeda motor menentang rencana pemerintah Jakarya melarang sepeda motor masuk jalan protokol: Sudirman dan M.H. Thamrin. Aturan itu dianggap diskriminatif dan memiskinkan masyarakat.
Para bikers yang tergabung dalam pelbagai perkumpulan itu lalu unjuk rasa, ramai-ramai berpawai sambil mengusung spanduk berisi kecaman terhadap larangan itu. Benarkah larangan itu diskriminatif? Bagaimana sebetulnya mengelola lalu lintas Jakarta yang semakin semrawut ini?
Saya tak tahu, tapi … Aha! Paklik Isnogud pasti punya dongeng yang inspiratif tentang lalu lintas yang kian kusut di Jakarta ini. Saya mau cari dia dulu. Apalagi sudah lebih dari sepekan saya tak bertemu dengannya. « Read the rest of this entry »
Salsa Pecas Ndahe
Januari 24, 2007 § 23 Komentar
Life is so easy with salsa.
Rita, perempuan Puerto Rico yang besar di New York itu, mengatakannya dengan ringan.
Dan, begitu sebuah lagu berirama salsa terdengar dari pengeras suara, ia pun mengajak Miguel suaminya berdansa. Begitu spontan.
Tapi, bukan hanya salsa. Secangkir kopi di Bongos Cuban Cafe yang aroma dan rasanya begitu dahsyat juga bisa membuat hidup saya jauh lebih ringan dan mudah di jantung Orlando.
Terima kasih untuk Keluarga Desindra yang telah mengajak saya melewatkan malam yang menyenangkan itu.
Life is so easy with salsa.




