Seseorang tiba-tiba mengirimkan pesan pendek alias sandek (SMS) ke saya. Ia bertanya begini. “Ndoro, belahan jiwa itu apa sih? Sampeyan percaya nggak setiap orang punya belahan jiwa?”
Halah. Sopo iki? Saya kaget karena tak mengenali nomor telepon si pengirim SMS. Tapi, demi sopan santun [dan basa-basi], saya pun mengirimkan SMS balik.
“Maaf, ini siapa ya? Saya kok ndak kenal nomornya? Kenapa sampean tiba-tiba bertanya soal belahan jiwa?”
Dalam beberapa detik datang SMS balasan. “Saya pembaca setia blog sampeyan, Ndoro. Nggak usah curiga dan khawatir. Saya bertanya karena sampeyan menulis tentang belahan jiwa di blog, tentang cerita Diajeng itu loh.”
Oalah … Saya baru ngeh. Tapi, tetap saja saya penasaran pada si pengirim SMS itu. Siapa dia sebenarnya? Mengapa dia mendadak bertanya tentang belahan jiwa? Apa dikiranya saya ini tukang jual belahan?
Saya sempat berpikir lama sebelum mengirim jawaban lagi. Soalnya saya ingat, saya dulu juga pernah berdiskusi panjang soal konsep belahan jiwa ini dengan seorang teman yang banyak belajar filsafat.
Saya bertanya apa sih sebenarnya yang dimaksud dengan belahan jiwa itu? Pasangan hidupkah? Pasangan imajiner? Atau sebagian nyawa kita yang menjelma jadi orang lain?
Mungkin sekali seseorang pernah menikah, pernah jatuh cinta, dan pernah punya pasangan. Tapi, siapa yang bisa memastikan bahwa sang pasangan adalah belahan jiwanya? Bukanlah belahan jiwa baru bisa diketahui di alam baka? Bahwa siapa pun yang akan mendampingi di kehidupan berikutnya adalah mereka yang memang digariskan untuk itu?
Saya kemudian melanjutkan diskusi yang kian absurd itu dengan bertanya, bagaimana kalau seseorang ternyata mati tanpa pernah menemukan belahan jiwanya? Apakah itu berarti bahwa ia menjadi manusia timpang tak sempurna sepanjang hidupnya? Kalau begitu, betapa banyaknya manusia tak lengkap di dunia ini.
Diskusi itu akhirnya berhenti begitu saja karena teman saya itu memilih untuk tidak percaya pada kehidupan di alam baka.
Nah, sekarang saya juga harus menjawab pertanyaan dari pengirim SMS misterius itu, yang saya ndak tahu apakah dia itu perempuan atau laki-laki.
Daripada bingung dan salah menjawab, saya lalu mengetik, “Maaf, saya belum punya jawaban untuk sampean. Nanti saya tanyakan ke Paklik Isnogud kalau bertemu. Siapa tahu dia punya jawaban. Yang jelas, saya antara percaya dan tidak, menganggap belahan jiwa itu kemungkinan ada. Mungkin juga tidak.”
Pengirim SMS misterius itu rupanya cukup puas dengan jawaban saya. Buktinya dia tak mengirim SMS lagi. Atau, jangan-jangan dia kehabisan pulsa ya?
Tapi, Ki Sanak … seandainya dia bertanya lagi, tolong saya dibantu menjawab pertanyaannya. Belahan jiwa itu sebetulnya apa sih? Sampean percaya ndak bahwa setiap orang punya belahan jiwa?
Kalau sampean ndak bisa menjawab, berarti sampean yang mengirim SMS itu ya? Hayo ngakuuuu …
Agustus 31, 2007 pukul 2:55 pm
belahan jiwa itu ya hasil dari mutilasi jiwa. hahahaha…
Agustus 31, 2007 pukul 3:15 pm
tanya sama voldermort itu lho ndoro..jiwanya kan dibelah jadi tujuh..berarti dia udah expert itu..kalo belahan yang lain lha embuh kuwi..
Agustus 31, 2007 pukul 3:25 pm
aku percaya ada yang namanya belahan jiwa kang, dan dia bukan selalu orang yang kita nikahi.
Agustus 31, 2007 pukul 3:26 pm
nambah—> mungkin kita bisa tau apakah dia belahan jiwa kita atau tidak adalah saat kita sudah mengeluarkan semua sifat buruk kita dan dia tetap bisa menerima kita,legowo dan tetap mencintai kita juga demikian sebaliknya.
Agustus 31, 2007 pukul 3:40 pm
kok dibuat susah to..
belahan jiwa itu..ya 1 jiwa yang dibelah.
….
hmm..biar ga dituduh kirim sms itu..ane harus menjawab berarti yak..
*tpaksa njawab*
belahan jiwa itu seseorang yang kita bisa tahu isi kepala ato prasaannya sebelum dia mengungkapkan.
gampangnya…
kita tahu apa yang dia mau dan rasa
dan
dia tahu apa yang kita mau dan rasa
Agustus 31, 2007 pukul 4:42 pm
belahan jiwa itu….
sumpah! bukan saya yang sms, ndoro….
Agustus 31, 2007 pukul 4:45 pm
mo ngaku, aku yang kirim sms. kebetulan, lagi dengerin ‘belahan jiwa’ si katon/kla.
Agustus 31, 2007 pukul 4:58 pm
out of topic:
saya pernah di sms, “kak adi. saya suka sama kakak.”
saya tanya lagi, “siapa nih?”
dibales, “saya xxx, sodara kakak”
halaaaa… masih kecil dah suka2an. cape deee…
abis itu saya ga bales2. ga punya pulsa sih.
Agustus 31, 2007 pukul 4:58 pm
lho….lhoo….lhooo..pye tho iki????
lha wong namanya juga belahan,artine opo jg ndak tau tho…!!!
klo belahan yang satu mungkin tau,tp klo yang satunya lg gk tau kmana…???
dgondol kucing paling ndoro….jd gk ketemu….
Agustus 31, 2007 pukul 6:39 pm
opo meneh aku, sumpah dudu aku sing sms.
Agustus 31, 2007 pukul 6:54 pm
belahan jiwa, “sigaraning nyowo”? halah itu mah akal-akalan orang-orang dulu yang suka bikin kosa kata baru.
kenapa saya menolak, karena banyak yang ganti2 isteri/suami dan selingkuhan.
lalu kalau memang ada, kemana harus mencarinya? apa tanda-tandanya? yang lebih dahsyat, apakah belahan jiwa itu pasti berkelamin beda? ha ha
Agustus 31, 2007 pukul 7:30 pm
Belahan Jiwa? Kurt Cobain dan Chris Novoselic (basist Nirvana) berdasarkan cerita Dave Growhl di Rolling Stone Magazine.. sepanjang hidup mendiang Kurt Cobain hanya beberapa kali saja terlibat percakapan dgn Chris Novoselic. Jd bagaimana mereka sampai bisa membuat album? Ekstrem-nya ketika Kurt sekarat krn OD dan hampir mati dia menelpon Dave untuk minta tolong dan Chris sudah ada disitu tanpa Kurt menelpon-nya. It was amazing.
Agustus 31, 2007 pukul 8:31 pm
sms-nya jangan dihapus, itu nomer baru saya ….
Agustus 31, 2007 pukul 9:01 pm
belahan jiwa hanya milik sastrawan yang kasmaran,…
Agustus 31, 2007 pukul 11:59 pm
belahan jiwa tdk harus kita miliki. bahkan mungkin tdk kita kenal.
ada persoalan chemistry di situ. *deuhhhh gayane
September 1, 2007 pukul 12:58 am
Soulmate… belahan jiwa, buka kamus primbon Jowo ono opo ora nDoro..?
September 1, 2007 pukul 7:49 am
Karena dia belahan maka ada pasangannya. Jadi belahan jiwa adalah pasangan kita. Bisa istri/suami bisa juga pacar. Karena dia belahan maka mestinya cuma ada satu. Gak tahu kalo teknik ngebelahnya canggih. Kata Gusti Pangeran: kuciptakan manusia (agar mereka?) berpasang pasangan. Mbuhlah.. lha wong aku durung nduwe belahan jiwa
September 1, 2007 pukul 10:12 am
tanya ADA band aja ndoro, sampeyan juga fans beratnya kan :p
Kalo saya lagi lebih seneng dengerin yang ‘Naya Hidupku’ & ‘Surga Cinta’
Saya percaya belahan jiwa itu ada,
malah saya yakin kalo yang sekarang ini emang belahan jiwa saya
Salam Armada !!!
September 1, 2007 pukul 10:14 am
halah, tahunya cuman belahan dada je
September 1, 2007 pukul 2:48 pm
saya tahunya belahan yang lain…
September 1, 2007 pukul 11:09 pm
kadang2 ada hal2 yang perlu dipikirkan, dan (lebih banyak) hal2 untuk dirasakan.
buat saya sih, belahan jiwa itu termasuk yang kedua.
jadi ndak perlu dipertanyakan tho?!
September 2, 2007 pukul 1:09 am
halah, mosok lali seh karo nomerku
September 2, 2007 pukul 3:30 pm
I think I found mine ndoro..we have really strong chemistry and good connection..even with just thinking of, the phone will ringing..we knows what other feel without tell much, even we’re not define to be together in this current life but I think we’re soulmate..
September 2, 2007 pukul 8:21 pm
beberapa tahun yang lalu nonton infotaintment tentang pasangan presenter (satunya tv berita, satunya radio) yang baru menikah (apa mau menikah waktu itu, saya lupa) tapi yang saya ingat sampai sekarang, si presenter wanita meng-klaim bahwa pasangnannya itu bukan pacar dan bukan kekasih, dia menjawab “dia adalah belahan jiwa saya”.
Waktu itu saya yang belum menikah mikir “wah, hebat kali dia langsung menutuskan ini belahan jiwanya”.
Beberapa tahun kemudian, setelah dikaruniai seorang puteri, mereke bercerai –tentu saja tanpa membahas apakah jiwanya sekarang tinggal separo atau bagaimana. Yang jelas si wanita sudah menikah lagi ama politikus, hmm..
saya orangnya realistis aja deh.. suami saya sahabat saya. titik. (ga ada yang nanya pendapat saya ya *clingak kiri clinguk kanan*)
September 3, 2007 pukul 12:21 am
Lha jare sopo belahan jiwa kui bukan istri …?? kecuali sampeyan wes arep/wes slingkuh dadi belahan jiwa dibelokkan menjadi ‘belum tentu’ istri..
nek ora salah belahan jiwa diambil dari “sigaraning nyowo”= GarWo = Bojo = Istri/Suami …, lha yo ngono to mestine …?!
September 3, 2007 pukul 9:43 am
belahan jiwa…
kok tambah bingung yo… moco sing podo komentar…
menurut ku, belahan jiwa bukan harus istri atau pacar kita dech…
cinta tidak harus memiliki katanya….
belahan jiwa tidak harus di miliki….
embuh rak weruh…
ning menurut ku ono maneh…
belahan jiwa iku orang yang bisa mengerti dan mau mengerti tentang kita. dan juga dia juga mau dan bisa mengerti kalau kita juga mengerti mereka…
pokok men dua rah … AC/DC lah
lak bubrah to ndoro….
salam
September 4, 2007 pukul 7:19 am
Belahlah dadaku wahai belahan jiwa..opo to iki? Pecas belahanku!
September 4, 2007 pukul 9:59 pm
*ngakak baca komen merry. pecas belahanku? huahaha…*
dan bukan saya yg sms! halah.
September 5, 2007 pukul 3:49 pm
yap tiap orang punya belahan jiwa,dan kebetulan juga jiwaku terpecah belah, yang sebagian besar melekat pada jiwa-jiwa jodohku….dan suatu kebetulan pula jika pecahan jiwaku melekat dan menjadi bagian dari Dian sastro, Luna maya, dan Ngatini serta beberapa lainnya yang meminta untuk tidak disebutkan namanya karena alasan privasi, jadi kesimpulannya adalah…… Merekakah jodohku?
September 7, 2007 pukul 6:33 pm
Udah pernah posting yg mirip beginian, di:
http://beeography.wordpress.com/2007/05/26/apa-itu-cinta/
Desember 6, 2007 pukul 12:08 pm
iki blog opo-opoan c???lucu…iyo, gendhenk….mboh
April 26, 2008 pukul 3:38 am
Belahan jiwa? Dimana yah bisa kutemukan belahan jiwaku.
Btw, sms itu mugkin saya yg kirim, saya juga lupa, udah lama sih.