Darkness Pecas Ndahe

Agustus 31, 2007 § 18 Komentar

Seorang ibu dan anaknya terjun dari lantai 35 apartemen Ambasador, Jakarta. Seorang ibu memaku kepala anaknya dan kepalanya sendiri. Sebelumnya, seorang ibu membakar diri bersama anak-anaknya.

Duh Gusti, kenapa kehidupan jadi begini muram? Inikah nujum yang pernah dinyanyikan Simon dan Grafunkel dengan lirih, seperti melamun, “Hello, darkness …”?

Ada yang bilang, banyak orang zaman sekarang yang terganggu jiwanya karena menderita stres, putus asa, dan frustrasi. Penyebabnya bisa kemiskinan, korupsi, diskriminasi, kebodohan, kekerasan dalam rumah tangga, ketidaksabaran. Mungkin juga oleh sebab lain. Saya ndak tahu.

Jakarta, juga kota-kota besar lain di Indonesia, memang seperti tak pernah sabar. Klakson memekik-mekik di jalan. Kemiskinan, juga korupsi, merajalela. Di sisi yang lain, banyak orang yang kian rakus dan suka merampas hak orang lain yang lebih lemah. Pertanda apakah ini?

Paklik Isnogud pernah mengatakan, “Kota-kota memang sering berbicara tentang kemiskinan dengan cara yang paling menikam. Ada seorang pendatang dari Amerika yang menuliskan kesannya tentang sebuah kota yang baru mencorong oleh industrialisasi, yang dengan cepat menjadi pusat kemegahan tapi juga pusat kesengsaraan:

Di tengah keserba-melimpahan yang luar biasa itu, ada laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang mati kelaparan. Seiring dengan kereta kuda yang gilang-gemilang, yang berlapiskan emas, yang berwiru sutera, yang diiringi pelayan berseragam, mereka yang miskin, sendirian, tanpa harap, telanjang …

Sementara di sini, kita telah lama berteriak dengan marah tentang mereka yang hidup dalam kemiskinan: kita telah bicara dengan kata ‘marhaen’ atau ‘proletar’ pada masa penjajahan. Kita telah bertubi-tubi mendesak, dan berbuat, untuk zakat bagi yang fakir dan papa. Kita telah membikin sejumlah besar proyek pemerataan.

Tapi, apa sebenarnya sih yang hendak kita capai: menghabisi kemelaratan atau menghilangkan ketimpangan, Mas?”

Saya diam saja karena merasa semakin pecas ndahe. Saya cuma ingat sebuah sajak, ditulis oleh seorang penduduk Chichibu, di sebelah barat Tokyo, ketika Jepang belum lagi kaya di akhir abad lalu, setelah petani-petani miskin mencoba berontak pada 1884. Ia kalah dan terkubur. Begini sajaknya:

Angin bertiup
Hujan jatuh
Anak-anak muda mati.

Keluh kemiskinan
Berkibar seperti bendera …

Kata di nisan kami,
Yang tertimbun badai salju 1884,
Tak nampak oleh yang berkuasa
Maka, di saat-saat begini
Kami harus menjerit setinggi-tingginya.

Oh, hello darkness …

Iklan

§ 18 Responses to Darkness Pecas Ndahe

  • mei berkata:

    wahahahahhahahahhahahahhhhhhhahahahha

    PERTAMAXXXXXXX………..

    senyum puas ngelirik ANANG…

    *moco ko, amankan posisi..haha*

  • mei berkata:

    iya sedih banget kang…lagi dan lagi kejadian yang sama terulang….apapun itu, aku tak membenarkan pilihan itu =(

  • iway berkata:

    korupsi ndoro, dalam darah mereka mengalir uang hasil pekerjaan tidak halah, hasilnya ya itu, darahnya panas, matanya gelap, pikirannya kosong 😀 **pagi-pagi ngelindur**

  • pinkina berkata:

    kebetulan aku ngikuti berita yang ditulis Ndoro di atas itu lewat tivi, menyedihkan, menyeramkan, terutama sing kepala bayi’ne dipaku, kok yho tego mennnn…….ckckckck, bapaknya yg satpam juga gak punya uang buat biaya operasi pencabutan paku dikepala anaknya, dooohhhhh……..ngenes….

  • pitik berkata:

    “hello juga”…sebuah jawaban entah darimana..

  • jon berkata:

    wong waras lan adil uripe ngenes lan kepencil
    sing ora abisa maling digethingi
    sing pinter duraka dadi kanca
    wong bener sangsaya thenger-thenger
    wong salah sangsaya bungah
    akeh bandha musna tan karuan larine
    akeh pangkat lan drajat padha minggat tan karuan sebabe

  • daustralala berkata:

    iya. sering merenung juga kalo lagi dalam perjalanan pulang dalam bus. hmm…

  • kw berkata:

    apakah ini yang disebut-sebut jaman kalabendu itu ndoro?

  • kalengkrupuk berkata:

    Kalau yang saya denger nih, Ndoro, di negara Suwiss sana, salah satu penyumbang angka kematian terbesar adalah bunuh diri. Sebabnya memang beda, Ndoro. Kalau di sana, katanya, saking makmur rakyatnya, masyarakat sudah sangat establish, peluang manusia untuk berkreasi sudah tidak ada lagi sehingga orang-orang pada bosen ama hidupnya, semua sudah tercapai, bunuh diri deh…

    Di sini juga, karena untuk makan aja susah, apalagi berkreasi. Bunuh diri juga akhirnya.

    Jadi mungkin, Ndoro, kalau manusia masih bisa melihat peluang untuk berkreasi dan berkembang (dan makan dulu, tentu saja), keinginan bunuh diri akan kecil.

    jadi, gimana kalo kongsian bikin bisnis jalan tol aja, Ndoro? hehehehehe…. berani pooooo??

  • maruria berkata:

    begitulah ndoro..makin lama hidup ko makin edan yo??? Anak sekecil itu dipaku, apa yang ada di pikiran si ibu ya??
    Kalo lihat berita di TV, ada pembunuhan, penganiayaan, artis kena narkoba, korupsi, bencana,….wah..ngenes tenan…
    Makanya kadang-kadang saya lebih suka ndak lihat berita aja lah..[Tapi bisa-bisa saya jadi katak dalam tempurung dong kalo gitu, yak??]

  • yudhi berkata:

    begitulah pakdhe,jaman sekarang memang semakin edan.karena “katanya” nek ra edan,ra mangan plus ra kebagian.huahuahua.mbuh opo sing dimaksud dengan “ra kebagian kui”.mosok gendeng ae kok dadak di bagi-bagi.Hahaha

    yo podo2 mawas diri ae kabeh2 ki.

  • birong berkata:

    yang susah, nangis sendirian. yang bahagia, tertawa kuat-kuat. yang mencuri, makan sendiri hasil curiannya. yang selingkuh, mengangkat dagu di orang sekitarnya. yang kaya, merasa aman dan nyaman. yang tua, merasa umurnya didunia dikit lagi. yang muda, asik dengan mobil bling-bling dan menyeruput kopi mahal di cafe ternama…
    wong dunia edan, semua memikirkan kesenangan diri sendiri. ya termasuk kita ini, generasi muda. makanya, ayo dunk bangun dari tidur panjang, mulai dari diri sendiri, berbudi pekerti dan saling tolong menolong. bantu dunia menjadi tempat yang lebih baik untuk dihuni. sedikit apapun bantuan itu, we will just make it true!! mau ya ya ya ya… 🙂

  • kian berkata:

    hidup didunia ini emang harus seimbang.

    biar ga kebangetan miskin or kaya…

    ya jangan terlalu kaya dan jangan terlalu miskin..

    yg kaya berbagi dgn si miskin..
    yang miskin menjadikan hatinya kaya dengan ikhlas dan syukur

  • Hedi berkata:

    Ada yang bilang jangan coba-coba memecahkan masalah kalo memang ga mampu. Harusnya minta tolong sama Yang Kuasa.

  • upikabu berkata:

    lagi topik serius dan tragic begini, kok tega2nya ada yang cuma komentar pertamax dan tertawa terbahak-bahak, ndak punya sense of humanity banget..sebegitu pentingnya kah berburu posisi komentator pertama :((

    ngenes tenan yo ndoro, dont know what to say again, i think what we need to is act. Aku kelingan waktu Muhammad Yunus pemenang Nobel Perdamaian 2006 itu ke Indonesia, dia bilang filosofi hidupnya adalah menolong satu orang setiap hari. Hanya satu orang.Tapi setiap hari. Bayangkan bila semua orang melakukan hal ini…I got a great lesson from this humble guy. Mulailah dari yang kecil, dari sekitar kita, dan hari ini..

    btw kangen juga Ndoro 🙂 dan aku ndak naksir rusanya lho, but we have a conversation between the nature ;))

  • bee berkata:

    Gak usah ruwet2 mikirin solusi, lakukan aja apa yg kita bisa. Just do it! Org Indonesia itu memang begitu, hobinya komentar, aksinya banyakan nol putul. Sok teriak anti-KKN, tau anaknya gak diterima di sekolah favorit, bingung sogok sana sogok sini. Waktu mhs sok bela2-in rakyat kecil (tapi OMDO), tapi kalo belanja sukanya ke mall2. Sok peduli global warming, tapi buang sampah ke tempatnya aja gak bisa. Org Indonesia cuman pinter ngomong tapi gak bisa berbuat, alias NATO. Tetep aja, kesenangan sendiri jadi prioritas. Tentu memang gak semua, tapi kebanyakan (baik yg miskin maupun yg kaya). 😛

  • Arie Susanto berkata:

    ibu gendeng, dasar gendeng, po yo gak weruh ndak kuwi sirah to yo.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Darkness Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: