Pemimpin Pecas Ndahe

November 20, 2006 § 1 Komentar

Hari ini, dua kepala negara bertemu di Bogor. Dan ribuan, mungkin puluhan ribu, rakyat kecil jadi repot dibuatnya. Beginikah seharusnya konsekuensi sebuah pertemuan? Beginikah jadinya bila dua pemimpin bertemu?

Paklik Isnogud hanya menghela napas ketika saya menanyakan hal itu. Setelah menyedot tembakau lintingannya, Paklik pun bersabda dengan suara baritonnya yang khas, seperti biasa. Saya mengambil bangku agar bisa duduk di dekatnya dan mendengarkan suaranya lebih jelas.

“Begini ya, Mas. Siapa yang ingin jadi pemimpin, ia harus ibarat laut. Seperti petuah dalam Wulangreh, ia harus berlapang hati, luas, sanggup memuat dan memangku. Ia bukan advokat dari satu pihak yang berselisih.

Dalam bahasa Pakubowono IV, ‘…. den ajembar, den momot lawan den mengku, den kaya segara.’

Masyarakat tak merasa bahwa ia (dan aparat yang di bawahnya), sebagai sesuatu yang asing dan mengancam, tak bisa mempercaya dan dipercaya. Dengan singkat: ada dukungan, ada legitimasi. Sebab ia bisa jadi semacam pohon rindang, tempat siapa saja bisa berteduh.

Adapun tentang siapa yang ‘musuh’ dan siapa yang bukan, tentu saja si berkuasalah yang menentukan. Si tertuduh tak banyak kesempatan (apalagi hak) membantah. Jika ini dianggap sewenang-wenang, memang begitulah. Kaum Marxis-Leninis menyatakan bahwa hukum – yang di negeri lain dianggap sebagai sesuatu yang tidak boleh berat sebelah — bagi mereka justru merupakan alat dari klas yang berkuasa. Memang, Marx dan Lenin bukanlah pengarang Wulangreh.

Sedangkan bagi Tao, seorang pemimpin yang baik, adalah ibarat sebuah danau. Dia tak lasak seperti sungai di gunung, tapi dalam. Dia tak berada di pucuk yang tinggi, tapi menampung. Dia tahu bahwa sumbernya adalah air yang datang dari jauh di pedalaman: sebuah telaga tak bermula dari air yang tergenang setelah kebetulan hujan.

Karena itu, kepemimpinan yang baik tak dinilai dari keberanian bertindak. Kepemimpinan yang baik terjadi ketika sebuah tindakan merupakan bagian dari hidup yang utuh yang mengaktualisasikan diri. Good leadership consists of doing less and being more.

Adapun dua pemimpin yang hari ini bersua di Bogor …. ” Paklik menghentikan kata-katanya sejenak. “Sampean tahu kan, Mas? Yang satu Republiken, satunya dari Demokrat. Dua kutub yang berseberangan. Saya cuma mikir, apa mereka bisa satu hati ya?”

“Ah, ya ndak ada hubungannya, Paklik. Lah wong satunya Republiken Ngamerika, dan satunya Demokrat versi lokal. Siapa tahu malah cocok.”

“Oh gitu ya, Mas. Mungkin juga ya….Ah, saya ndak mau pusing, Mas. Lah wong bukan tamu saya.”

“Halah, Paklik. Ngomong kok ngalor-ngidul ndak keruan. Ndak jelas maksudnya. Sudah ah, saya mau kerja saja …. “

§ One Response to Pemimpin Pecas Ndahe

  • avatar Mr. John Koplo Mr. John Koplo berkata:

    Haiyo…betul tho ndoro….ngapain mumet-mumet ngurusin wong edan…mending udutan dan ngopi…ha’ah pok ke…(asli pekalongan)

    sinambi dodol batik pekalongan luwih nyamleng itu .. 😀

Tinggalkan Balasan ke Mr. John Koplo Batalkan balasan

What’s this?

You are currently reading Pemimpin Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta