Dummies Pecas Ndahe

November 25, 2006 § 4 Komentar

Dummies

Saya bukan pembaca buku yang baik dan benar. Ndak baik karena saya jarang beli sendiri — lebih sering meminjam dan [pura-pura] lupa mengembalikan atau diberi oleh orang baik seperti Paman Kemplu. Ndak benar karena saya jarang baca buku sampai tamat. Biasanya saya cuma memilih bagian yang saya sukai, atau kebetulan menarik perhatian.

Kalau ada novel, misalnya, biasanya cuma saya lihat bagian awal dan akhirnya. Begitu baca buku literatur, saya pilih yang penting-penting saja. Bagian intinya…. 😀

Karena itu, ilmu, pengetahuan, wawasan saya ya ndak nambah-nambah. Hanya mirip katak dalam tempurung.

Buat saya, kegiatan membaca buku itu terlalu menghabiskan waktu. Padahal waktu itu sesuatu yang “mewah” buat saya. Saya juga bukan orang yang sabar, maunya sekali lihat langsung sampai bagian akhir dan saya tambah pinter seperti Miss Doyle yang hobinya membaca itu … 😀

Lah kok tiba-tiba Ndoro Juragan Ageng, Bosnya Para Bos, bawa buku yang barusan dibelinya dari toko buku jarang laku di negeri entah berantah. Terus dia memamerkan buku itu ke saya. “Kamu mesti baca ini,” katanya.

Halah, saya membatin. Lah wong Sabtu, weekend, kok disuruh baca buku. Apa dia itu ndak tahu profesi saya saban Sabtu itu pengasuh anak? Apa dia itu belum paham bahwa batas antara sebutan suami dan jongos itu tipis pada setiap Sabtu?

Oalah, bos…Bos! Boro-boro baca buku. Mata saya belum melek saja, bedhes-bedhes di rumah sudah langsung nemplok, terus ngajak jalan-jalan. Belum lagi ibunya yang sudah menyiapkan sederet tugas yang harus saya kerjakan setiap Sabtu: dari ngepel sampai nyuci bak. Soalnya, dia mau ke pasar dan memasak. Begitulah ritual mingguan di sebuah keluarga tanpa bedinde. Lah kok sekarang mau disuruh baca buku. Wis jan ramutu tenan iki … 😦

Tapi, namanya juga perintah Juragan Ageng, saya ya sendiko dawuh saja, mengikuti perintahnya dengan takzim. Tentu saja dengan tambahan, nanti kalau saya sudah punya waktu dan sempat membaca.

Sempat? Eh, tunggu dulu. Lah kok judul bukunya nyeleneh begini? Islam for Dummies? Apa buku ini seperti buku-buku tips sebangsa Football for Dummies, Photography for Dummies, dan dummies-dummies yang lain itu?

Ah, kalau begitu saya mesti menyempat-nyempatkan diri baca buku ini. Unik je. Saya membayangkan, jangan-jangan ada Buddha for Dummies, Christian for Dummies, Catholic, Hindu, etc? Kalau benar ada, bagus kan itu?

Soalnya saya merasa seandainya ada lebih banyak buku lagi yang mirip-mirip seperti ini, orang-orang dengan latar belakang berbeda itu kan jadi bisa saling mempelajari orang lain yang keyakinannya berlainan pula. Pemeluk Islam, misalnya, jadi lebih bisa mengenal umat Kristiani atau sebaliknya. Tak kenal maka tak sayang, bukan? Atau seperti petuah para cerdik pandai itu: aku berbeda, maka aku ada.

Pemahaman dan toleransi itu penting di kala kita telanjur hidup suasana yang kian tegang. Konflik mengintai setiap saat. Pluralisme, ide kebhinekaan yang tunggal ika, berada di atas benang yang rapuh dan suatu saat mudah putus. Buku semacam ini bisa menjadi pintu awal agar keberagaman dapat diterima secara luas.

Bukan begitu Ki Sanak?

§ 4 Responses to Dummies Pecas Ndahe

Tinggalkan Balasan ke Pujiono Batalkan balasan

What’s this?

You are currently reading Dummies Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta