Alda Pecas Ndahe
Desember 13, 2006 § 20 Komentar
Saya mengingatnya sebagai penyanyi perempuan berwajah ayu. Kulitnya cerah. Hidungnya mancung. Bibirnya padat merah merekah. Matanya syahdu. Bulu matanya lentik. Rambutnya hitam, panjang, laksana mayang terurai. Dadanya permai, padat, berisi. Suaranya bak buluh perindu ketika dia bernyanyi,
“Aku tak biasa … “
Dia Alda Risma Elvariani. Lahir di Bogor, 23 November 1982. Berat 50 kilogram, tinggi 162 sentimeter. Tadi malam ia meninggal dunia [diperkirakan] dalam perjalanan menuju rumah sakit. Dan saya pun tertunduk seraya berbisik, from dust to dust, ashes to ashes …
Ah, kenapa Alda pergi dalam usia begitu muda? Akankah kepergiannya membuka sebuah skandal yang lain? Another politician?
Entah. Moga-moga saja tidak. Saya ndak tahu. Saya cuma bisa menduga berdasar berita-berita yang berseliweran di internet yang menyebutkan Alda meninggal dalam keadaan over dosis setelah pesta obat-obatan di sebuah hotel. Di lengannya ada bekas suntikan. Polisi juga menemukan jarum suntik di lokasi kejadian.
Apa pun, kematian Alda hanya membuat saya teringat pada Paklik Isnogud. Saya ingat karena Paklik pernah membaca puisi Chairil Anwar yang menggetarkan itu.
Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
Dan duka maha tuan bertakhta
Masih terbayang di ingatan saya bagaimana teman-teman melongo ketika Paklik membacakan puisi itu dalam sebuah reriungan kecil di antara kami — para pengagumnya. Tak ada tepuk tangan. Tapi saya paham, Paklik pasti tahu benar bahwa kami sebenarnya telah memberikan standing ovation dalam hening, tanpa berdiri.
Paklik waktu itu bercerita bahwa kematian memang selalu menggetarkan siapa pun. Ndak cuma buat mereka yang dekat dengan kematian atau Chairil Anwar.
“Kematian bahkan telah menjadi semacam teater bagi Mishima Yukio,” kata Paklik.
Kami mendengarkan kata-katanya dalam kekaguman.
“Pada 1970, pengarang yang menakjubkan itu membunuh diri, secara spektakuler. Ia merobek isi perutnya sendiri. Beberapa detik kemudian, seorang pengikutnya yang setia, yang siap di belakangnya, memenggal leher penulis novel Kinkakuji itu sampai putus.
‘Kita hidup dalam zaman kematian-kematian yang indah.’
Ketika Mishima mengatakan kalimat itu, mungkin dia sedang mencoba menggapai estetika Jepang, dirinya, dan dunia. Bagaimanapun, seppuku adalah cara kematian dalam satu stilisasi, sebagaimana atletik adalah sejumlah regangan fisik dengan gaya, style. Tradisi Jepang penuh dihiasi oleh tergeraknya manusia kepada komposisi atau bentuk yang sublim. Dan, Mishima ingin melanjutkannya, seutuhnya, dan dengan tafsirannya sendiri.
Tapi, buat saya, seandainya ada kematian yang benar-benar agung dan indah, barangkali itu terjadi menjelang hari berakhir dalam lakon Bharatayudha.
Bhisma, panglima tua yang gagah itu, tahu bukan saja ia akan kalah dan mati, tapi juga tahu bahwa ia tidak bertempur untuk pihak yang benar. Roboh berbantalkan panah yang menembusi tubuhnya, ia terus menghantui kita.
Kekuatan besar apakah yang menyebabkan ia berkorban begitu rupa dalam cerita sedih itu? Kita tak sepenuhnya tahu. Kita hanya mengerti.”
Setelah menyelesaikan kalimatnya itu, Paklik kembali duduk bersila, sama seperti kami semua. Di luar, malam semakin tua. Bulan segaris. Angin mengelus tengkuk. Kami tenggelam dalam keheningan yang panjang.
Sayup-sayup saya seperti mendengar Alda bernyanyi pelan. “Aku tak biasa …“


another politician? masa sih?
wah…
semua hal terjadi karena ada alasannya, bukankah?!
kenapa harus di medan perang, kenapa harus memenggal kepala, kenapa harus di kamar hotel bersama jarum suntik…
pasti ada alasan2 kenapa kematian harus terjadi dengan cara itu. including political reasons perhaps 🙂
Turut berduka cita Ndoro,
Sayang tidak sempat tertolong oleh Aa Gym ya… kalau saja sempat pastinya Aa Gym lagi mumet pecas ndahe, pilih Alda atau Rani (eh opo Rini yo? opo Rina? mbuh…)
kasihan si alda ini. tak biasa.
moga-moga dia masih bisa nyanyi di dunia yang lain sana…
lha kok kabeh neng politik tho pakdhe.
… yang selalu ribut emang yang ditinggal mati.
hik..hik….satu lagi ciptaan-Nya yg cantik dipanggil…
smoga diterima disisi-Nya, yo wis to mas, wonge wis mangkat ora usah dirubutke dosa2nya. Marilah kita ributkan/betulke dosa2 mereka2 yg belum mangkat. piye mas? piye paklik?
halah… teoriku kok dipake juga, ya…
sudah bisa ditebak..pasti Ndoro bakalan cerita soal Alda… Ndoro penggemarnya Alda atau “opone” Alda ? :p
emang bener to ndoro mati cuma krena od aja? nda ada penyebab laine?
sayang ya, belum sempat jadi pacarku dulu….
hihihi… 😀
Alda Mati secara Berani.. di Tusuk 21 jarum suntik Medis.. dan dan 4 jarum suntik AJAIB yang di duga masih kabur,,, dan penyelidikan sementara di temukan 1 Kondom yang belum terpakai… yang terpakai tentu saja tidak di temukan karena Ihhh Jijayy… masak mau di expose juga..
Alda,, Selamat Anda Menjadi bintang IKLAN anti Narkoba,.. Semoga JASA-JASAMU di Kenang Oleh Pengguna NARKOBA,,
SUKSES Dapatkan Kontrak Baru Di Alam sana?!
dari alda sampai mishima. luar biasa!
+ Alda mati mas
– Alda siapa?
+ Alda Risma
– Itu siapa?
+ Penyanyi
– Yang mana?
+ Wah kuper banget ni orang…
– Lha penyanyi kan banyak?
+ Cantik kok, Mas.
– Waaa cantik? Penting itu… Sik kosik aku ingat dulu. Lagunya piye?
+ Nanananananana…
– Belum pernah denger tu..
+ Tuh liat (sambil nunjuk TV)
– Ooo itu. Ya ingat. Yang dulu tabrakan pakai BMW X5 punya orang Muarakarang apa Pluit itu ya?
+ Waa saya ndak malah belon pernah denger…
– Yo wis. Berarti saya salah. Trus matinya kenapa?
+ OD
– O gitu
wakakak. cen gombal pakdeiki… 😀
Wakakakk…gombal to gombal..dust to dust. Weh, kok ndoro dapet foto-foto Alda browsing darimana?
Sing penting saiki ….jo podho dumeh , isih urip nang donyo cobo2 narkoba …nek modar koyo alda do po ra ngisin- ngisini waris.
Nek arep mati sing wajar wae nek ora malah gowo2 sedulur .
Wis mati malah isih ngrekasake sing urip
wis ngono ae matur nuwun lik…..
wassallam
Turut belasungkawa atas dukamu,….
alda ki seng su2ne 36C kae to ?
why…why…why… kenapa mesti begitu mengenaskan? dari orang yang gak gitu ngerti politik.