Doha Pecas Ndahe
Desember 14, 2006 § 8 Komentar
Di Doha, atlet-atlet Indonesia terjerembab. Di Doha pula medali emas beterbangan jauh di atas kemampuan kontingen merah-putih. Hingga hari ke-14, baru medali emas yang didapat.
Atlet kita loyo? Jangan-jangan mereka tak punya semangat bertanding atau karena kemampuannya memang cuma segitu?
Paklik Isnogud, jawara tenis tarkam (antarkampung) itu, tertawa ngakak ketika saya mengajaknya bicara tentang prestasi atlet Indonesia di Asian Games Doha 2006. Ketawanya baru reda setelah Ndoro Juragan Bos melongok keluar dari ruang kerjanya, mungkin dia terganggu oleh suara Paklik yang sumbang itu.
Alda Pecas Ndahe
Desember 13, 2006 § 20 Komentar
Saya mengingatnya sebagai penyanyi perempuan berwajah ayu. Kulitnya cerah. Hidungnya mancung. Bibirnya padat merah merekah. Matanya syahdu. Bulu matanya lentik. Rambutnya hitam, panjang, laksana mayang terurai. Dadanya permai, padat, berisi. Suaranya bak buluh perindu ketika dia bernyanyi,
“Aku tak biasa … “
Dia Alda Risma Elvariani. Lahir di Bogor, 23 November 1982. Berat 50 kilogram, tinggi 162 sentimeter. Tadi malam ia meninggal dunia [diperkirakan] dalam perjalanan menuju rumah sakit. Dan saya pun tertunduk seraya berbisik, from dust to dust, ashes to ashes …
Ah, kenapa Alda pergi dalam usia begitu muda? Akankah kepergiannya membuka sebuah skandal yang lain? Another politician? « Read the rest of this entry »
Aceh Pecas Ndahe
Desember 13, 2006 § 6 Komentar
Untuk pertama kalinya rakyat Aceh memilih kepala daerahnya sendiri. Setelah melewati proses pertarungan yang demokratis dan sah, ternyata calon-calon pemimpin dari kalangan bekas anggota Gerakan Aceh Merdeka unggul untuk sementara. Ada yang tenang, ada yang hatinya rusuh.
Yang tenang — tapi mungkin dengan perasaan yang tak menentu juga — mengatakan, “Kita harus menerima hasil itu. Ini demokrasi, Bung!”
Yang penuh curiga dan perasaan waswas berujar, “Wah, jangan-jangan nanti mereka minta merdeka?” « Read the rest of this entry »





