Pengendara Pecas Ndahe

Desember 12, 2006 § 23 Komentar

Ki Sanak, mari kita tebak-tebakan! Mengapa para pengendara sepeda motor ini nekat masuk jalur khusus bus Transjakarta?

Pilih jawaban sampean :

  • a. Lalu lintas macet
  • b. Buta rambu lalu lintas
  • c. Disuruh polisi
  • d. Sepeda motor memang boleh lewat jalur di mana saja
  • e. Bukan a, b, c, atau d

Mana yang benar? « Read the rest of this entry »

Kompas Pecas Ndahe

Desember 11, 2006 § 19 Komentar

Seorang wartawan dipecat dari Kompas. Dan keriuhan pun terjadi. Para aktivis kebebasan pers, asosiasi jurnalis, juga rekan-rekan sang korban mengecam tindakan itu. Mereka menganggap Kompas telah berlaku dengan tak semena-mena.

Suka tak suka, Kompas itu salah satu kelompok media terbesar di Tanah Air, baik secara bisnis, tiras, maupun jumlah karyawan. Tak heran bila insiden itu menjadi buah bibir, termasuk di pabrik saya.

Apa boleh buat, koran itu membuat mereka yang bekerja di industri yang sama bertanya-tanya: Mengapa hal itu bisa terjadi? Ke manakah perginya hati nurani, cita-cita, juga idealisme?

« Read the rest of this entry »

Narsis Pecas Ndahe

Desember 9, 2006 § 12 Komentar

Eh, ternyata ada wajah saya di wikimu. Hihihi … Narsis, yack? Tapi, lihat deh, ulasannya.

Skandal Pecas Ndahe

Desember 9, 2006 § 9 Komentar

Yahya Zaini, wakil rakyat yang ketahuan berbuat mesum dengan Maria Eva itu, akhirnya mundur dari Partai Golkar dan keluar dari gedung parlemen. Selesai sudah skandal sex, lies, and videotape itu.

Tutup buku? Eits, tunggu dulu. Lah kok enak amat? Terus terang saya getun, mangkel, kuciwa, mengetahui akhir skandal yang memalukan itu kok cuma jadi seperti ini — lah memangnya harus seperti apa ya? Ngarang deh … 🙂

Memang apalah daya saya? Siapa saya ini, Ki Sanak? Paling-paling saya cuma boleh jengkel, dan mengumpat, misuh-misuh, dalam hati. Tapi, kemangkelan ini kan tetap harus saya limpahkan supaya ndak jadi belatung di hati. Ke mana? « Read the rest of this entry »

Keinginan Pecas Ndahe

Desember 8, 2006 § 16 Komentar

.

Seorang wanita menangis di layar kaca. Matanya merah. Wajahnya sembab. Suaranya tersendat. Sambil terisak ia meminta masyarakat tak menzalimi suaminya. Ia juga minta masyarakat menghentikan pergunjingan tentang suami dan keluarganya.

Saya yang kadang-kadang merasa jadi anggota masyarakat jadi bingung. Perempuan iki sopo? Lah kok minta saya tak menzalimi suaminya. Salah apa suaminya?

Paklik Isnogud yang kebetulan lewat di dekat saya ikut berhenti dan menonton TV.

“Loh, ini kan istrinya Ndoro Wakil Rakyat sing tumpak-tumpakan sama penyanyi dangdut itu, Mas. Mosok sampean ndak ngerti?” kata Paklik. “Mau apa dia?”

« Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently viewing the archives for Desember, 2006 at Ndoro Kakung.