Rakyat Pecas Ndahe
Desember 6, 2006 § 8 Komentar
Sampean tahu apa tentang rakyat? Ketika ada si miskin yang tergusur lumpur dan si jelata kebingungan melihat ulah para pemimpin yang semakin ndak mutu, sampean tahu apa? Apa pula yang sampean tahu tentang rakyat ketika wakilnya malah berbuat mesum?
Paklik Isnogud kaget ketika pagi itu saya memberondongnya dengan pertanyaan seperti itu. Mulutnya menganga. Alis matanya naik. “Mas, mas, sampean kenapa, Mas?”
“Ndak kenapa-kenapa kok, Paklik. Saya lagi sedih saja, bingung, setelah membaca berita-berita di koran dan televisi. Sampean mestinya rak yo mengikuti to? Apa sampean ya ndak sedih. Coba baca berita tentang wakil rakyat yang mesum itu. Coba baca berita soal dai yang mengingkari kotbahnya sendiri. Coba sampean dengar jeritan warga Sidoarjo yang ndak kunjung mendapat uang kompensasi setelah rumahnya terendam lumpur PT Lapindo itu, Paklik. Apa komentar sampean?” « Read the rest of this entry »
Sajak Pecas Ndahe
Desember 5, 2006 § 13 Komentar
Malam seperti itu, hujan sering turun.
Ada kabut tipis dalam gelap, tumbuh dari udara panas.
Kulit terasa lekat.
Tapi hujan telah menunjukkan janjinya, untuk datang.
Kaki-kaki telah bergegas. Orang mencari tempat dan atap.
Saya melihat goretan pensil di atas kertas putih itu di atas meja Paklik Isnogud. Sebuah puisi? Sajak? Mungkin. Hujan memang turun. Paklik barangkali ingin mengabadikannya dalam larik-larik kalimat yang romantik. Saya membatin: tumben. Ada apakah gerangan?
“Itu bukan sajak, bukan puisi, Mas,” kata Paklik Isnogud yang tiba-tiba sudah berdiri di sebelah saya. Ia seperti bisa menebak pikiran.
“Bukan sajak, bukan puisi? Lah njuk apa, Paklik?”
“Itu pengantar tulisan Fred de Silva, editor koran Ceylon Daily News, yang dia bacakan di sebuah seminar pada 1975 di antara para wartawan Dunia Ketiga. Mungkin dia sedang terpesona oleh sihir hujan, lalu membuka tulisannya dengan kata-kata itu.” « Read the rest of this entry »





