Citra Pecas Ndahe

Januari 9, 2007 § 15 Komentar

Siapa tak pernah menggambar pemandangan seperti ini sewaktu kanak-kanak? Pemandangan dengan dua gunung, jalan, sawah, dan matahari seperti ini mungkin gambar paling klasik dalam sejarah anak-anak Endonesah. Dan, sangat khas. Saya tak tahu kenapa rata-rata anak-anak kita melukis pemandangan seperti ini, bahkan anak-anak di daerah yang tak punya gunung dan persawahan.

Keseragaman imajinasi?

Mungkin iya, mungkin tidak. Bisa jadi itu sekadar minimnya pengetahuan anak-anak. Mereka yang menggambar pemandangan klasik itu tak punya bayangan yang cukup tentang dunia di luar sana. Siapa tahu juga kanak-kanak selalu melukis itu dan itu melulu karena gurunya memerintahkannya begitu. Ada banyak kemungkinan, Ki Sanak.

Begitu juga halnya dengan keputusan para artis, sutradara, dan pekerja film mengembalikan 30 Piala Citra yang telah mereka raih ke Departemen Pariwisata hari ini. Piala Citra itu dikembalikan sebagai bentuk protes mereka terhadap penyelenggaraan Festival Film Indonesia 2006.

Mereka juga mengkritik juri-juri FFI yang menetapkan film Ekskul sebagai film terbaik. Padahal film itu katanya bertaburan dengan karya jiplakan — ya ceritanya, ya musiknya, dan sebagainya. Momen pengembalian Piala Citra itu puncak dari kekesalan para pekerja film terhadap kondisi perfilman di Tanah Air yang amburadul.

Seperti biasa, Paklik Isnogud cuma mesam-mesem ketika saya beritahu tentang kabar itu. Dia malah balik bertanya ke saya. “Memangnya ada film Indonesia yang bagus ya, Mas?”

Tentu saja dengan lantang saya jawab, “Banyak dong, Paklik. Sampean saja yang ndak pernah nonton, jadi ndak tahu kalau film kita itu banyak yang bagus. Kita kan punya sutradara jempolan dan artis-artis yang oke.”

“Tapi kita punya ndak sih penulis skenario, tukang bikin cerita film, yang punya kepandaian menyusun cerita? Kalaupun ada, jumlahnya berapa? Banyak?”

Saya terdiam sejenak mendengar pertanyaan Paklik. Setengah tergagap saya menjawab, “Mmmm … mungkin ada. Memangnya kenapa, Paklik?”

“Kalau menurut saya, ini menurut saya lo Mas, penulis skenario film yang bagus itu sedikit jumlahnya. Karena itu, jumlah film yang bagus pun bisa dihitung dengan jari. Saya lihat kekurangan film Indonesia selama ini adalah dalam kepandaian menyusun cerita — yang mampu membawa kita terlibat dari awal sampai akhir tanpa rasa sebal.

Kebanyakan film Indonesia itu tiru-tiru, Mas. Me too. Kalau ada yang bikin film horor, yang lain ikut bikin. Satu orang bikin film cinta monyet ABG, semua bikin juga. Si A bikin film komedi, si B, C, D, dan lainnya ndak mau ketinggalan.

Sampean tentu masih ingat Mas, ada masanya bioskop kita dijejali oleh aneka film tentang legenda Ratu Kidul, dengan pelbagai variasi judul. Ada Pembalasan Ratu Laut Selatan, Titisan Nyai Roro Kidul, Ratu Kidul vs Nyi Blorong, dan sebagainya. Padahal bintangnya ya itu-itu saja. Namanya Mbak Suzanna to? Itu kan namanya seragam, Mas. Seperti anak-anak yang selalu menggambar pemandangan dua gunung dan sawah itu.”

“Maksud Paklik seragam imajinasinya?”

“Iya. Padahal kan imajinasi itu kan luas. Bahkan bisa sangat liar. Kenapa kita justru seragam? Ikut-ikutan saja?”

“Tapi kan, sekarang sudah beda dan ndak seperti itu lagi, Paklik? Ada film Arisan, Gie, 9 Naga, Berbagi Suami, yang ide dan temanya berbeda-beda. Imajinasinya pun berlainan?”

“Halah. Sama saja, Mas. Yang lebih banyak dibikin kan cuma film-film tentang dunia remaja dan hantu-hantuan itu to? Horor. Hantu pocong, jailangkung, kuntilanak. Apa bedanya? Konsepnya masih me too juga kan?

Saya maklum, dunia film Indonesia memang seperti tak memungkinkan dibuatnya film yang bermutu-tapi-tak-laku. Orang film bahkan cenderung mencemooh film macam ini. Kita telah kehilangan dana dan prasarana untuk membuat film yang berseni — yang menyebabkan dan Indonesia hampir tak ada film seperti yang dibuat oleh para sineas Iran, India, Turki, Yugoslavia, Polandia, dan lain-lain negara yang industri filmnya tak selalu mengikuti semangat komersial Hong Kong ataupun Hollywood, tapi hasil sinematografinya terpandang di dunia.

Namun, harus ditambahkan di sini: toh dengan segala arus deras dagang yang ada kini, kita pernah melihat film macam Ibunda, Ponirah, dan Tjoet Nya’ Dhien, yang seperti hendak menyatakan diri tak mau tenggelam dalam komersialisasi. Kita masih punya sejumlah penulis skenario dan sutradara dan aktor dan aktris yang tetap bermimpi bagus bahwa mereka bukan bagian dari dunia kue-kue.

Lagi pula, para broker dan pemilik bioskop tak sepenuhnya bisa disalahkan. Film sebagai barang dagangan bukan benda najis. Film tak selamanya harus membuat kening berkerut hingga penonton enggan datang.

Memang kita tak bisa berharap ada sutradara kita yang sanggup menandingi Zhang Yimou dengan film puitis nan dahsyat seperti House of Flying Daggers atau Curse of the Golden Flower itu. Berat, jauh, Mas.

Tapi, apa salahnya kita berharap ada sutradara kita yang bisa membuat film seperti A Fish Called Wanda yang membuat kita ketawa bahkan setelah adegan terakhir selesai? Atau Serendipity yang ringan, renyah, tapi menghibur itu.

Apa salahnya film seperti Kejarlah Daku Kau Kutangkap? Apa salahnya film seperti yang dibuat dengan humor dan keterampilan oleh Nyak Abbas Acub? Mestinya kan banyak yang bisa bikin film bagus yang ringan, tapi menghibur, murah pula biayanya.

Di dunia film Indonesia orang sering keliru: film yang ‘bagus’ selalu mereka artikan sebagai film yang ‘tidak laku’ dan film yang laku sebab itu harus vulgar, harus dengan lelucon yan memekik-mekik, dan harus dengan digarami seks yang cukup atau dicat darah yang menyembur-nyembur.”

Padahal kita punya sejarah yang kaya, yang bisa dibikin filmnya. Kalau Yimou bisa bikin film dengan latar belakang Dinasti Tang, kenapa tak ada yang mencoba menggarap cerita, misalnya, dengan setting Kerajaaan Kediri, Majapahit, atau pemberontakan Jayakatwang?

Saya bayangkan ada produser dan sutradara yang bikin film berjudul Curse of Ken Dedes sebagaimana halnya Yimou bikin Curse of the Golden Flower. Saya ingin ada yang bikin film Penculikan Para Aktivis 1998 seperti halnya film Road to Guantanamo. Kan asyik tuh, Mas.”

“Sik, Paklik. Kalau begitu, kenapa kita ndak bikin film sendiri saja? Sampean punya cerita bagus, ndak?”

“Halah,” jawab Paklik sambil nyengir. “Duwite sopo, Mas?”

Sekarang gantian saya yang nyengir … 😀

§ 15 Responses to Citra Pecas Ndahe

  • avatar Mbilung Mbilung berkata:

    halah paklik, ya pake duitnya situ hasil main film Iznogoud itu.

    weeee … aku belum kebagian je … 😛

  • avatar septian septian berkata:

    nice blog, baru kali ini mampir. salam kenal
    hidup film indonesia, semoga nanti akan lebih banyak film yang berkualitas, mungkin butuh waktu saja.

    oh ya, kalo saya disuruh gambar, saya masih gambar 2 gunung itu mungkin..hahaa

    cu

    salam kenal juga. thanks 🙂

  • avatar kenny kenny berkata:

    welah, paklik gak usah nonton pilem wae ndhak nyinyir terus. Kapan yah paklik ada rencana buat pilem anak2 :D.
    Itu klo aku yg nggambar Mr.sun tak parkir di tengah2 jepitan gunung.

  • avatar pitik pitik berkata:

    gambar dua gunung itu adalah imajinasi anak2 terhadap susu ibunya, mungkin…karena bukankah sejak dia lahir, citra itu yang sering mengisi pandangannya?*iki cuma tebakan thok lho..*

    imajinasi yang aneh … 😀

  • avatar pinkina pinkina berkata:

    Curse Of The Golden Flower emang lumayan 🙂 dr pd nonton pocong, pocong2, mirror, kuntilanak, jelangkung, bangsal13 =))

  • avatar Anang Anang berkata:

    pitik omongane nyeleneh.. hasil pengalamane pitik nyusu mboke paling yo kui hehe

    ho-oh …

  • avatar reza reza berkata:

    Kalau film indonesia favorit saya ya “Naga Bonar” 🙂

  • avatar Blanthik Ayu Blanthik Ayu berkata:

    sekarang aja kalo ngajarin Galih nggambar yo sih kebawa nggambar kui pakde :p tapi dia lebih seneng nggambar batman 😀

    kapan aku dijak nonton premier iznogood hehehehe

  • avatar rudy rudy berkata:

    ndoro..saiki jamane edan…jamane materialistis..jenenge wae wong dodolan..yang mesti manut pasar nek ora’ dodolane ra’ payu..mending nek dodolane dodol garut..manis legit..nek ra’ payu di pangan dewe bareng kirike…

  • avatar Abi_ha_ha Abi_ha_ha berkata:

    Pelem Endonesa? pun enten maleh tho? senes wontenipun tigo thok? ‘Bocah Ingusan’, ‘Itenas Membara’, kaleh ‘Belum Ada Judul’.

    Wah kerso sanget niku mbok menowo wonten maleh. Pancen sae banget pelem-pelem Endonesa meniku, betul-betul jujur dan telanjang!!

    apa adanya gitu ya … 🙂

  • avatar Ndut Ndut berkata:

    Wah, nek wis masalah duwit, yo repot yo, Paklik? Sekarang itu nek ide cemerlang nggak didukung duwit, yo podho karo ngimpi, je. Leres mboten, Pakdhe?

  • avatar superMUN superMUN berkata:

    pik, nyonge setuju lik!

    pohode bil pik, dab?

  • avatar Prabham Wulung Prabham Wulung berkata:

    ngono yo ojo ngono.. sih okeh film indonesia sing apik.. aku suka film2 mas slamet rahrdjo jaman ndisek kae…

    setuju, dabz! 🙂

  • avatar Aya ayame Aya ayame berkata:

    Wah mas Reza, naga bonar lagi syuting untuk Naga Bonar 2. Doakan semoga lancar ya.

  • avatar Aya ayame Aya ayame berkata:

    Untuk masalah “kebeneran pernah liat hal yang sama”, maksudnya film or sinetron, “kebeneran pernah denger hal yang sama”, yakni musik or character song. MUngkin untuk pecinta film hal ini sensitif sekali. Karena mungkin film serial kesayangan mereka dijiplak abis oleh para pembuat film di negrei kita, apalagi sekarang ini, tampaknya sinetron di semua stasiun sedang bersaing “dulu-duluan” jiplak. Saya tidak ingin menyebutkan apa nama serialnya, tapi hal ini nyata sekali terjadi di perfilman Indonesia.
    Sebenernya udah gerah n gregetan melihat hal ini, tapi mungkin karena saya hanya “sang apresiasi”, hanya bisa tersenyum mengejek.
    Hellooo…para pembuat film Indonesiaaa…
    Ada banyak yang dapat kita gali dari kemajemukan kehidupan di negara kita yang dapat dijadikan sebuah film. Tanpa harus mencontek film luar. Contoh, ya Kiamat sudah dekat. Indonesia banget deh nih film apalagi dilanjuti dengan kemunculannya sebagai serial.
    Ada apa dengan cinta, karya Mas Jujur Prananto, sebagai tolak bangkit kembalinya perfilman Indonesia. (Mas Jujur apa kabar ya sekarang??! 🙂
    Semenjak itu banyak betaburan film hasil karya anak bangsa. Tapi semakin ke sini kok semakin “Jepang banget ya”, “Korea banget ya”. Mana ide kreatifnya nih.
    Kalau hanya dijadikan referensi untuk memicu ide baru sih gak papa, tapi kalo asli jiplak. Waduuh…

    Tapi ayo dong Aya kasih semangat untuk para seniman dan insan film Indonesia, untuk terus berkarya, jangan mau kalah dengan Jepang dan Korea.

    Keep “your” chin up !

Tinggalkan Balasan ke Aya ayame Batalkan balasan

What’s this?

You are currently reading Citra Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta