Malari Pecas Ndahe

Januari 15, 2007 § 11 Komentar

Hari ini, 33 tahun silam, huru-hara pecah di jantung Jakarta. Mahasiswa dan rakyat turun ke jalan menolak dominasi Jepang. Pada saat yang sama, Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka berkunjung di Jakarta.

Aksi unjuk rasa berubah menjadi kerusuhan. Pasar Senen membara. Militer lalu turun tangan. Jenderal Soemitro pun berorasi di atas panser, di bundaran Hotel Indonesia, menenangkan massa. Beberapa tokoh mahasiswa ditangkap, di antaranya Hariman Siregar. Dan insiden itu pun dikenal sebagai Peristiwa Malari (Malapetaka Lima Belas Januari).

Hari ini, Hariman Siregar sepertinya mau bernostalgia — dengan beberapa perbedaan. Ia memang kembali menggelar aksi unjuk rasa persis di bundaran Hotel Indonesia. Tapi, ia tak sedang menolak Jepang. Ia memprotes pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Hariman juga tak akan dihadapi petinggi tentara sekelas Sumitro. Pejabat paling tinggi yang akan menghadapinya mungkin cuma berpangkat ajun komisaris.

“Zaman memang sudah berubah, Mas,” kata Paklik Isnogud. “Kita hanya bisa mengulang sejarah, tapi sulit sama persis. Dulu hanya abadi di masa lalu.”

“Aih, Paklik. Pagi-pagi kok sudah bicara yang rumit-rumit,” saya menanggapi sambil lalu. Semangkok mie rebus di depan saya pagi ini jelas lebih menarik ketimbang mendengarkan Paklik ngoceh.

Rupanya Paklik tak peduli. Ia meneruskan omongannya.

“Saya jadi ingat pada menteri pendidikan kita di masa lalu. Namanya Daoed Joesoef. Orang Aceh yang keras dan disiplin. Bersama Nugroho Notosusanto, Daoed tak menghendaki para mahasiswa usah ikut dalam “politik praktis” di sekolah. Menurut mereka mahasiswa lebih baik belajar saja.

Pusatkan dirimu. Tetapkanlah pandangmu. Arahkan minatmu hanya untuk ilmu yang kau pelajari. Jangan berisik. Jangan tengok kiri jangan tengok kanan. Konsentrasi, konsentrasi! Pada suatu saat nanti kau akan lulus dari proses ini. Setelah itu, bukan urusan lembaga perguruan tinggi lagi untuk mengaturmu.

Sampean tahu Mas, dari mana pandangan itu berasal?”

“Embuh, Paklik,” jawab saya asal-asalan.

“Dari Dorna, Mas.”

“Dorna? Dorna siapa, Paklik? Tokoh wayang yang culas itu?”

“Iya, Mas. Dorna itu guru yang baik. Syahdan ia mengajar para muridnya bagaimana membidik. ‘Ada seekor burung kutilang di dahan sana,’ katanya. ‘Siapkan anak panah dan jemparingmu.’

Para murid siap. Mereka memandang ke arah yang ditunjukkan sang pendeta. ‘Apa yang kalian lihat?’ tanya Dorna.

‘Burung di dahan itu,’ sahut para murid, hampir serempak.

Hanya Arjuna — seorang murid yang serius — yang menjawab lain. Putra Pandu yang tak banyak omong itu menyahut pelan, ‘Hamba melihat sepotong leher kutilang, guru.’

Dan ia benar. Ia ternyata bisa memanah sang burung tepat di bawah kepalanya. Leher itu patah, binatang itu terjungkal. Si pemanah telah menjalankan tugasnya dengan sempurna. ‘Itulah ilmu, anak-anakku,’ konon kata Dorna. ‘Suatu proses yang memerlukan pemusatan pikiran, pancaindera dan kemauan.’

Kisah itu berakhir sampai di situ, tapi moralnya menjangkau ke tengah kita: bahwa menuntut ilmu memang memerlukan semacam pembersihan diri — penyingkiran pelbagai macam distraksi, segala hal yang mengakibatkan ikhtiar kita tak punya fokus.

Orangtua kita sering mengisahkan pula bagaimana seorang kesatria bertapa untuk menambah kesaktiannya. ‘Dia akan duduk, diam bagaikan arca. Pandangnya hanya melihat ke ujung hidung.’

Cerita itulah tampaknya yang mengilhami Daoed Joesoef dan Nugroho Notosusanto sehingga mengajak murid-muridnya agar lebih baik belajar ketimbang berpolitik praktis.

“Tapi, kenapa tetap ada saja mahasiswa yang menolak gagasan seperti itu?” tanya saya.

“Mungkin soalnya sederhana saja, Mas. Bukan karena para mahasiswa itu anak titipan kekuatan politik dari luar. Mereka toh bukan lagi seperti mahasiswa di tahun 50 dan 60-an. Mereka tak berada di tengah situasi ketika partai politik berada di pucuk pamornya, dan punya kader di kalangan universitas. Mereka adalah anak-anak masa kini, ketika partai politik rudin dan memikirkan kursi saja sudah susah.

Maka, jika para mahasiswa itu tak betah hanya berada di laboratorium (yang memang apak), jika mereka enggan terus berkerut di depan para pengajar (yang memang itu-itu juga) — agaknya pertama-tama karena kampus terlalu santai dan mereka teramat muda.

Di masyarakat yang tak mengenal universitas, di pedusunan yang jauh, anak-anak seusia mereka langsung terjun ‘jadi orang’. Di masyarakat tempat kampus-kampus berdiri, kemahasiswaan praktis merupakan perpanjangan masa transisi sebelum dewasa.

Perpanjangan itu (yang juga berarti penundaan) dalam dirinya mengandung benih keresahan. Terutama dalam masyarakat ini. Di satu pihak masyarakat memandang perguruan tinggi dengan begitu hormat: para pengajar di sana disebut sebagai mahaguru dan murid sebagai mahasiswa. Di lain pihak, masyarakat di luar itu tak dapat segera memberi peran besar kepada orang-orang yang terhormat itu.

Tak heran bila kampus terkena oleh pelbagai ilusi. Ilusi yang terbesar ialah ilusi tentang kekuatan. Ilusi itu kadang sehat: ia bisa memberi semangat bahwa universitas bukan alat birokrasi yang tanpa kebebasan dan kreativitas. Tapi sampai tingkat tertentu ilusi itu menyebabkan para mahasiswa tak bisa membedakan politik sebagai gashuku dan politik di pertempuran yang sebenarnya.

Dalam kehidupan politik yang sebenarnya, kampus dan atribut-atributnya (termasuk jaket) tidaklah dengan sendirinya sumber legitimasi kekuasaan. Untuk legitimasi itu perlu proses yang lebih panjang. Apalagi untuk kekuasaan itu sendiri.

Arjuna berhasil belajar memanah, bukan dengan begitu saja. Toh dia tak berhenti di sana. Dia beberapa kali bertapa. Dia ikut menjalani pembuangan dalam hutan. Apa gerangan yang dilihatnya selama itu, dengan begitu sabar dan tekun?”

Hamba melihat sepotong leher musuh itu, guru.

Mie rebus di mangkok sudah tandas. Saya mengalihkan pandangan ke wajah Paklik. Saya lihat matanya menerawang entah ke mana. Mungkin ia kecewa karena kali ini saya tak terlalu mendengarkan ceritanya.

“Buat apa kita mengenang Malari, Paklik? Buat apa mengingat masa lalu? Buat saya, korupsi, flu burung, kecelakaan pesawat dan kapal, harga-harga yang naik lebih penting karena peristiwa itu juga Malari: malapetaka sehari-hari.”

Paklik tak menjawab. Ia malah meninggalkan saya yang duduk termangu.

§ 11 Responses to Malari Pecas Ndahe

  • avatar ary ary berkata:

    nderek tepang Ndoro….
    miturut kulo..masa lalu tdk boleh juga untuk dilupakan,biar kia nggak ke cebur lagi…kan Ndoro…?
    Masa depan memang lebih penting ….tapi siapa yang bisa meng-Garansi bahwa kita bisa hidup sampe besuk pagi….?
    yang penting adalaha berbuat yang terbaik untuk saat ini siapa tahu ini adalah kali terakhir….kita…
    Blog kaguanganipun Ndoro …Ciamik….tenan

    matur nuwun. kulo ugi nderek tepang … 🙂

  • avatar kenny kenny berkata:

    ndoro udah menerapkan pandangan dorna jg, buktinya makan mie sampe habis meski paklik ngoceh 😀
    Mengingat sejarah masa lalu kayaknya lebih mewujudkan perasaan dendam aja buat generasi jaman skr…bukan utk memperbaiki (mbuh ah…ndak salah omong… 😀 )

    soalnya saya lagi kelaperan je. takut maagku kumat … 🙂

  • avatar Hedi Hedi berkata:

    Saya jadi ingat ucapan profesor ekonomi Widagdo Wignyowiyoto (kalau ga salah namanya itu). Beliau bilang mahasiswa itu idealis, begitu sudah lulus (sarjana) bisa berubah jadi kapitalis dan sebagainya 🙂

    pantes, sampean saiki yo kapitalis banget, sam … 😛

  • saya teringat taon 98 ndoro, kepala saya benjol dipukul penthungan pulisi…tak pisuh2i aja pulisi itu…lha wong saya ndemo cuma ndesek2 thok kok di penthung lho…
    Ndoro, masa lalu tiada boleh dilupakan, soalnya saya melihat kawan2 saya sekarang yang sudah lupa masa lalu (ketika dioyak2 pulisi), sekarang kok jadi doyan sama yang namanya korupsi..wah..kecewa saya ndoro…

  • avatar bangsari bangsari berkata:

    waduh! jangan-jangan acara kumpul-kumpul blogger edan di HI tiap jumat malam juga berpotensi ditangkepi pulisi?

    wah, ya ndak kang. pulisi rugi nangkep sampean, karena mesti ngasih makan … 😀

  • avatar bebek bebek berkata:

    @bangsari: ealah….. kumpul2 model kopi pahit plus dlosoran gitu aja kok ditangkepi polisi…
    polisi sekarang kan sibuk ngurusin maling pitik to mas..
    pakde… paklik-nyah itu orang mana to?? aku mau minta sangu… sangu petuah sama sangu duit… :p

    orangnya yang itu tuh. tapi jangan minta duit, lah wong dia itu kismin.

  • avatar joni jontor joni jontor berkata:

    jadi ikut termangu juga bareng pak lik isnogud,
    teman2 sperjuangan dulu skarang kerjaannya bawaain tas politikus. Tikus tenannn…

  • avatar venus venus berkata:

    eh mas, nonton gak? tadi siang di tivi ada andi malarangeng eker2an soal demo ‘cabut mandat’. lucu :p
    untung wae gak tunjek2an 😀

  • avatar venus venus berkata:

    sori ada yg ketinggalan. malarangeng eker2an sama hariman siregar.
    walah jadi nyampah di sini. tak bantuin nyapu ya? kikikik..

    awas ya kalau nyapunya gak bersih. 😛

  • avatar rudy rudy berkata:

    kepriwe bangsane arep maju-maju angger sing di deleng masa lalu..mbok ya masa depan sing di tatap…
    mangsane arep pemilu mbok..nggolet sensasi ben di anggap jagoan..heroo..puiihh…ABCD..aaahhh..bosaaan..capeee’ Deeeech…lho deneng…. !!!!

  • avatar tito tito berkata:

    kok tumben simbok venus nonton andi malangrangeng sama hariman siregar? emang itu ada di acara gosip? 😀

    tito, pertanyaanmu sama dengan aku. secara simbok itu jarang nonton tipi geeto loh 😛

Tinggalkan Balasan ke rudy Batalkan balasan

What’s this?

You are currently reading Malari Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta