Revolusi Pecas Ndahe

Januari 29, 2007 § 13 Komentar

Sebagian orang menganggap revolusi itu sesuatu yang seksi. Revolusi, katanya, bisa membuat segala hal berubah dalam semalam. Karena itu, banyak orang bercita-cita membikin revolusi. Tapi, kawan saya Mas Bli Pedande justru merasa ngeri setiap kali mendengar kata “revolusi.”

“Sampai saat ini, saya selalu tersentak jika melihat orang berdarah, dan jika menemukan kata ‘revolusi,” tulis Mas Bli Pedande dalam e-mailnya.

Ada apakah gerangan sampai Mas Bli Pedande mengirimkan surat elektronik seperti itu? Saya terpaksa membaca-baca kembali semua koran yang tak sempat saya baca selama lebih dari sepekan. Menyisir berita demi berita. Aha! Saya menemukan jawabannya.

Rupanya Mas Bli Pedande sedang menanggapi kemunculan Gerakan Revolusi Nurani yang tempo hari dideklarasikan Jenderal Tyasno Sudarto itu. Halah. Ini kan tema usang yang diimbuhi label baru. Kurang kerjaan atau nostalgia masa lalu?

“Yah, maklum saja, Mas. Gagasan tentang revolusi memang tak pernah jadi nasi yang basi. Selalu ada orang yang tergoda menghangatkannya lagi,” kata Paklik Isnogud yang saya minta komentarnya tentang kekhawatiran Mas Bli Pedande dan revolusi itu sendiri.

“Mengapa kenangan tentang revolusi tak pernah bisa jadi nasi basi, Paklik?” saya bertanya dengan penasaran.

“Karena revolusi adalah sebuah Kurusetra, Mas. Di sana ada begitu banyak wajah manusia dalam ekspresi yang paling intens. Baca saja sketsa Idrus tentang Surabaya pada 1945.

Tindakan heroik untuk satu ide yang tak tanggung-tanggung. Kebuasan yang dahsyat atas nama keadilan. Pengkhianatan yang menyakitkan atas nama kearifan. Darah dan doa, api dan cita-cita, kecutnya keringat dan frustrasi, teriak, juga harapan terakhir.

Segalanya dihimpun dan dipertaruhkan, segalanya dicurahkan dan diikhlaskan. Mungkin sebab itu revolusi adalah sesuatu yang mengandung antitesisnya sendiri.

Revolusi adalah sesuatu yang melelahkan.

Jacques Sole, mahaguru sejarah dari Grenoble, mengatakan itu dalam satu seminar memperingati 200 tahun revolusi Prancis di Yogyakarta pada 1989.

Waktu itu, Sole menjawab sebuah pertanyaan yang bagus dari hadirin: kenapa cita-cita revolusi Prancis — untuk kebebasan, persamaan, dan persaudaraan — begitu cepat mandek di tengah jalan.

Revolusi begitu melelahkan, hingga di ujungnya, rakyat menyerah saja kepada orang kuat dengan lengan dan ambisi yang lebih kuat. Akhirnya, kebebasan hilang, persamaan punah, persaudaraan raib.

Napoleon adalah satu pertandanya: prajurit dari revolusi yang begitu diangkat untuk berkuasa menobatkan diri sendiri sebagai raja di raja dan menginjak segala bentuk kebebasan seperti patung gajahnya yang ingin menginjak kenangan-kenangan.

Tapi, barangkali antitesis revolusi bukan lahir semata-mata karena sang revolusi mencapekkan. Revolusi berangkat selalu dengan sikap ‘kita-yang-paling-benar’ untuk bisa memobilisasi jiwa dan raga dan impian dan kemarahan. Maka, ia niscaya cenderung mendirikan satu lembaga yang kukuh tapi tidak ramah.

Revolusi Prancis, akhirnya mendirikan sebuah republik perkasa — yang kalau perlu menindas segala niat untuk liberte, egalite, fraternite. Teror pun ditegakkan. Tokohnya, Saint-Juste (nama yang terlampau sempurna untuk bisa toleran), meraung seram:

Republik terdiri atas pembasmian apa saja yang menentangnya.

Berapa kepala dipotong dan berapa wilayah diluluhlantakkan? Pada akhirnya revolusi Prancis melahirkan paradoks — mungkin kontradiksi — yang kemudian juga nampak dalam revolusi-revolusi besar sesudahnya.

Kejadian revolusioner, seperti halnya konon penciptaan alam semesta, bagaimanapun adalah sesuatu yang sublim dan sekaligus mengerikan. Niat revolusi sendiri di satu pihak mendorong ke arah berkibarnya hak dan kebebasan manusia, tapi di lain pihak terdorong ke arah konsolidasi persatuan yang justru melindas kebebasan manusia itu, dengan darah.

Memang perlu darah untuk menyemen revolusi.

Itu kata seorang wanita revolusioner Prancis — dan ia sendiri kemudian dipancung.

Kalau mau membuat omelet, telur harus dipecah.

Tokoh revolusioner Rusia, Trotsky, mengucapkannya dengan dingin, dan ia sendiri, persisnya kepalanya, kemudian juga jadi telur yang pecah, dikapak seorang agen Stalin.”

“Wadoh. Gendeng tenan itu, tapi seru juga tuh, Paklik!”

“Seru mbahmu, Mas.”

Saya ngakak. Ah, tiba-tiba saya ingin bikin revolusi juga ah. Tapi, revolusi apa ya? Enaknya revolusi apa ya, Ki Sanak?

§ 13 Responses to Revolusi Pecas Ndahe

  • avatar kw kw berkata:

    coba mas bikin revolusi diri aja gimana?
    – berhenti merokok
    – mengurangi membunuh makhluk hidup(menolak makan makhluk bernyawa, vegan)
    – tak berbohong

    hi hi hi maap andai semuanya sudah dilakukan. mengundang anak jalanan untuk makan malam bersama mungkin keren juga 🙂

    ngundang makan mah bukan revolusi euy … 😀

  • avatar pitik pitik berkata:

    revolusi memang melelahkan ndoro, tapi evolusi bisa bikin kita mati kebosanan manunggu perubahan…hayo pilih mana?

    aku pilih ngendog sama pitik wae … 😛

  • avatar Mbilung Mbilung berkata:

    “Kalau mau membuat omelet, telur harus dipecah” … maka Leon Trotsky pecas ndahe …

  • avatar Anang Anang berkata:

    revolusi jadi teringat petikan kalimat ini, “darah itu merah jenderal!”

    wah, penggemar film propaganda itu ya? sudah berapa kali nonton? 🙂

  • avatar balak6 balak6 berkata:

    Revolusi yang paling nyaman dipandang mata…
    1280×1024(true color,32bit)
    *kaburrrr*

  • avatar -tikabanget- -tikabanget- berkata:

    saya pengen bikin revolusi wajah..
    yang ndak cantik jadi cantik..
    yang ndak putih jadi konclong..
    yang jerawatan jadi muluuusss…
    gimanah pakdhe?

    sayah pusing kalo harus mikir yang gedhe gedhe kayak mikir negara gituh.. sayah cuma orang kecil…

  • avatar d-nial d-nial berkata:

    Revolusi cinta…Karena tanpa cinta, revolusi hanya menghasilkan darah.

    wah sampean anggota laskar cinta-nya Dewa ya 🙂

  • avatar abi_ha_ha abi_ha_ha berkata:

    Sedikit minggir topik, saya ya heran kok mahasiswa pemuja kebebasan berdemokrasi kok malah idolane ‘Che sang revolutionist’ kae, semakin ta’baca tentang beliau kok malah makin berkesan anti demokrasi yo? (mungkin asumsi demokrasi=kapitalis).
    Apa ya belum pada tau ‘banyak duit membawa nikmat’ sementara ‘sengsara membawa neraka (dunia)’ he he he…
    Kalo saya ‘Kapitalis Sosialis’, cari duit yang banyak, sesudah kebanyakan baru bagi-bagi (ke anak-anak, paling banter ke sedulur). Supaya tercapai cita-cita; muda foya-foya, paruhbaya kaya-raya, tua jadi ndorokakung, mati masuk surga.
    Amiiin.

  • avatar anima anima berkata:

    iya yah, mau revolusi tapi bingung revolusi apa. bukannya ga ada yg mo direvolusi, tapi malahan terlalu banyak jadi bingung yang mana duluan 😀

  • avatar Kaka Kaka berkata:

    Hihihi
    Tema ttg revolusi diri cukup menarik tuh
    Berevolusi diri sendiri agar menjadi lebih baik 🙂

  • avatar Hasby Hasby berkata:

    mas..saya sepakat akan arti sebuah kata Revolusi yang disampaikan tp yang perlu mas ketahui bahwa revolusi nurani yang ditampilkan tysno bukan revolusi berdarah tap hati nurani yang dikedepankan dengan jalan perdamaian.ingat mas..rakyat maih menderita..coba turun kjln2 org2 pinggiran bisa ada empatynya..
    saya adalah anggota bagian dari revolusi nurani..nanti yang hadir untuk bangsa ini akan lahir dengan segera…dan insyaalah akan memakmurkan Indonesia.
    thanks

  • avatar nadia nadia berkata:

    sebenarnya demokrasi atau revolusiawal mulanya muncul dari revolusi prancis dimana saat itu ada kekosongan kekuasaan sehingga ada persaingan ,di dalam persaingan itu ada unsur untuk menginjak orang lain.Sebenarnya bila di lihat dengan kasat mata memang ini lah dasar dari demokrasi yaitu rasa untuk menginjak orang lain……

  • avatar puyuhjaya puyuhjaya berkata:

    Nek saya nggak tau opo repolusi.
    Yang penting harga telur puyuh gek cepat membaik. Biar peternak nggak podo njerit di blog saya.

    Salam repolusi.

Tinggalkan Balasan ke d-nial Batalkan balasan

What’s this?

You are currently reading Revolusi Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta