Aparat Pecas Ndahe
Januari 31, 2007 § 19 Komentar
Pebulutangkis Ade Chandra sudah lama tak terdengar kabar beritanya. Setelah menjadi juara ganda putra bersama Christian Hadinata di kejuaraan All England pada era 1970-1980-an, namanya tak lagi disebut-sebut media massa.
Eh lah kok tiba-tiba harian Pos Kota milik mantan menteri Harmoko itu menampilkan headline Ade Chandra ditangkap polisi gara-gara terlibat uang palsu. Terus terang saya kaget.
Benarkah Ade Chandra ditangkap? Kenapa dia berani mengorbankan nama baiknya selama ini?
Kekagetan saya ternyata tak berumur panjang. Beberapa jam kemudian, Ade Chandra muncul di televisi dan membantah berita koran itu. Dalam sebuah konferensi pers khusus, Ade yang diidampingi pengacaranya, mengaku tak pernah berurusan dengan uang palsu, apalagi ditangkap polisi.
Halah! Siapa yang tolol? Wartawan Pos Kota itukah? Kenapa dia tak melakukan check and recheck?
Sebelum penasaran saya terjawab, tadi malam RCTI menayangkan Kepala Polisi Resor Jakarta Barat yang sedang berbicara di depan wartawan. Pak polisi itu mengatakan bahwa anggotanya telah menangkap Ade Chandra, mantan juara bulu tangkis All England.
Pernyataan polisi itulah yang tampaknya lalu dikutip oleh wartawan yang tak punya kesempatan mewawancarai langsung orang yang disebut sebagai Ade Chandra sebagai bagian dari mekanisme check and recheck.
Halah! Jadi begitulah rupanya bagaimana ketololan itu terjadi. Secara serampangan perwira polisi itu mengeluarkan pernyataan resmi yang belum tentu benar di depan wartawan. Ini berbahaya. Ia berpotensi mencemarkan nama baik seseorang. Ia juga bisa digolongkan sebagai orang yang menyebarkan kabar bohong. Saya heran, polisi saja bisa ngawur, apalagi yang bukan polisi.
Kasus ini bukan kebohongan yang pertama. Pada musibah hilangnya Boeing 737-300 Adam Air awal Januari lalu, polisi juga mengeluarkan kabar ngawur. Mereka bilang anggotanya telah menemukan pesawat Adam Air di sebuah gunung. Media massa lalu menyebarluaskannya. Tapi, setelah dicek, kabar itu ternyata bohong belaka.
Ah, dasar aparat! Pantas ada yang suka mengumpatnya dengan kata keparat! Ini yang namanya aparat pecas ndahe.
Bagaimana menurut sampean, Ki Sanak?

bulutangkis…bulu kok ditangkis…mending dielus-elus ya ndoro..*halah salah fokus..*
kok kecenderungannya sekarang gitu ya… seperti mo nyari gampangnya aja…
ada apa ya dengan aparat kita… :p
yg penting njawab soalan ndoro…(gak ketang ngawur :D)
yo koyok biasane ae, opo seh singgak iso gawe aparat. wong tikus putih ae dipekso ngaku kelinci yo iso kok, iki kenyataan mbah … opomaneh gawe berita, gak kalah karo gosip e selebriti ….. hehehehe
huweks.. ituh bukannya emang tabiat dari jaman baheula..
banyak omong tapi ndak mikir..
kayak sayah..
mudah-mudahan Koran Tempo ga ikutan salah nulis berita, bahaya 😀
Baru tau ya ndoro, kalau wartawan dan aparat kita suka gosiip hek hek,,, seng penting heboooh
Indonesia banget ya. jangan-jangan penjara-penjara kita dihuni orang yang tidak bersalah juga. gimana dong ndoro?
hehehe, klo menurutku neh ndoro.. orang2 skarang itu udah teracuni budaya nircism, yg mencintai dirinya sendiri sampe2 pengen dirinya menjadi seorang “tokoh”, ga cuman penonton melainkan pemain. menghalalkan segala cara biar bisa tampil, *dasar banci tampil* meski dengan omongan ngawur yang penting menghebohkan dan menarik perhatian. ngunu tah?!
wahhahaha…pecas ndase trus ngawur ngono yo kang??hihi aparat khan memang ngunu to kang..mungkin dulu sekolahe mergo sogokan kang*parnomodeon*
di suruh baca site ini sama ‘teman’, jarene tulisanne apik2..hmm sepertinya dia benar!!keh keh, lam kenal
menurut saya ndak papa ndoro. paling ga masih ada yang mau bersuara. meski ngawur juga. masih bisa dibikin bener kan. daripada dah bener, mosok dibikin salah? ngga stir the current. biasanya less sensational. hayah.
ngga’ semua aparat keparat toh Ndoro…
bapakku aparat je…
*wedi aparat*….
Dari segi berita, tentu ini merupakan berita bagus bagi wartawan –apalagi wartawan gosip. Ade Chandra merupakan figur publik. “Kok bisa ditangkap polisi?” “Masalah apa?” Publik bertanya-tanya.
Ada sumber yang ‘ngocor’ tentu merupakan kesenangan tersendiri. Sayangnya, berita kemudian tidak dikonfirmasi balik ke publik yang bersangkutan.
“Ah, gak masalah. Nanti kan ada pembetulan belakangan. Yang penting berita keluar dulu, media laku,” begitu kilah wartawan 😀
Ndoro boleh amati berita kriminal beberapa koran. Sebagian dari sumber tunggal (polisi). Zaman berita TV belum marak malah sumbernya cuma satu: kadispen polda, yang pukul 2-3 siang kasih pengumuman untuk reporter yang ngepos. reporter yang nggak nongol bisa minta contekan dari koran kompetitor supaya nggak dimarahi kepala desk. 😀
wah, ngisin2i tenan. waton njeplak wae pak polisine.
Megaria – Salemba-Matraman kan macet banget tho ndoro. Dulu, PPD 213 sesekali nabrak arus jl Pegangsaan. Lebih sering sukses daripada kepergok polisi. Sejak Busway dibuat, macetnya pol-polan. Jl Pegangsaan jadi penyelamat dan polisi kini punya pos baru, pas di depan kantor Majalah tempo, di pertigaan jalan tambak. Yang jaga bukan satu dua, lho, Mereka akan melambaikan tangan, lalu kondektur bus meloncat turun, meletakkan uang di jok mobil patroli atau menyerahkan langsung bapak Pulisi itu. Vulgar banget deh.
Kalau dulu kepergok polisi, itupun cuma sebiji, bus berhenti untuk basa-basi, kini bus tidak berhenti dan proses basa-basi sudah tidak efisien lagi. Cukup loncat, setor, lancar. Tahu berapa yang disetor? Rp 15,000. muka pulisi itu harganya sepiring nasi padang. Nah, sekarang gejalanya tambah parah, karena macet tambah parah, mobilmobil pribadi dan spedah motor ikutan dibelakang PPD. Kalau mobil pribadi pastti di HHHHehhhh, tau kan maksudnya. Kalalu motor, ya dilepas aja, lha wong kelas teri, percuma. bikin slilit aja. Buat ongkos beli odol dan sabun saja ngak cukup.
wah lah kalo tanya ama wartawannya, kenapa kok gak check and recheck ? Si wartawan akan bilang, lah wong pak pulisi bilang si Ade Chandra ditahan, mana bisa wartawan recheck ke Ade Chandra.
Padahal kan bisa recheck ke keluarga kali ya ?
di-santet wae kuwi, mas! kurang ajar tenan je 🙂
yg penting masuk tipi ndoro!