Sungai Pecas Ndahe

Februari 2, 2007 § 14 Komentar

Hujan lebat datang berkepanjangan. Sungai-sungai meluap. Kampung-kampung tergenang. Dan Jakarta pun kebanjiran. Ah, ritual tahunan yang selalu mencemaskan …

Saya dan Paklik Isnogud terbengong-bengong di depan TV yang menayangkan gambar-gambar warga pinggiran yang mengungsi karena rumahnya kelelep air. Antara sedih, trenyuh, dan gemes, saya heran kenapa masih juga ada orang yang nekat tinggal di bantaran kali.

Saya tahu lahan memang semakin sempit dan mahal. Tapi, hidup di pinggir aliran sungai itu kan sama saja dengan menyetor nyawa. Seandainya hujan deras turun berhari-hari, rumah mereka pasti dihumbalang air.

“Makanya, belajarlah dari sungai, Mas. Bukankah sungai itu punya bermacam-macam suara? Tidakkah ia memiliki suara seorang raja, seorang pendekar perang, suara seekor lembu jantan, burung malam, suara wanita yang tengah hamil dan pria yang mendesah?” kata Paklik tiba-tiba.

“Halah. Mosok sungai mengalir sambil membawa aneka suara sih, Paklik? Rasanya sih, ya cuma suara air yang gemrojok,” saya bertanya setengah tak percaya.

“Sik, Mas. Saya punya dongeng tentang sungai dan Siddhartha. Siddhartha yang saya maksud tak lain berasal dari cerita Herman Hesse yang termashyur itu. Dia tokoh India yang mencari kesunyatan. Novelis Jerman pemenang Hadiah Nobel itu menuliskan kisahnya dengan liris tatkala dia mulai tertarik ke dunia Timur pada usianya yang ke-5.

Hesse menulis bahwa Siddharta pun, akhirnya, belajar tentang hidup dari suara sungai. Ia menyimak, ia mendengarkan.

Siddharta, demikian kisahnya, bermula sebagai seorang yang resah. Ia sebenarnya anak tampan seorang Brahmin. Terdorong oleh hasratnya menyempurnakan rohani, ia pun meninggalkan tempat ayahnya dan pergi ke hutan. Disertai Govinda, sahabatnya, ia ingin menjadi seorang Samana. la ingin jadi pertapa pengembara yang kurus dan dibakar terik, dan hanya bercawat.

Dan ia memang menjadi Samana. Keinginannya untuk mengosongkan diri dari haus mimpi, kenikmatan dan duka, hasratnya untuk mematikan ‘Diri’, ia laksanakan. Tapi cuma tiga tahun. Ia tak puas. Ia tinggalkan juga kehidupan sebagai Samana, karena Nirwana toh tak didapat. Dan ia pergi mencari Budha Gotama, di dekat kota Savathi.

Tapi, dengan Budha Gotama pun kemudian Siddhartha tak bisa tenang. Akhirnya. ia tahu, seperti dikemukakannya kepada sang Budha sendiri, bahwa ‘tak seorang pun menemukan penyelamatan dengan ajaran.’

Itulah sebabnya ia memutuskan untuk pergi, ‘bukan untuk mendapatkan doktrin yang lain dan yang lebih baik, sebab saya tahu itu tak ada, tapi untuk meninggalkan semua doktrin dan semua guru dan untuk mencapai tujuan saya, sendirian — atau mati.’

Dari situ Siddhartha mulai berangkat, dan terpaksa meninggalkan sahabatnya, Govinda, yang memilih untuk tinggal menjadi murid sang Budha. Dari situlah Siddhartha kemudian menyadari ketika ia sampai di suatu tempat yang rimbun, buat pertama kalinya disaksikannya betapa dunia tidak terasa pahit. Alam sangat indah, aneh, misterius. la mulai kehidupan baru.

Dan dalam novel Hesse yang pendek itu — melalui bahasa yang dibebani renungan dan keinginan untuk syahdu — kemudian dikisahkan bagaimana Siddhartha bergaul dengan Kamala, sang pelacur yang cantik, yang jadi gurunya dalam bercinta dan hidup praktis. Bagaimana pula Siddhartha menjadi saudagar, lalu menjadi penjudi dan akhirnya hidup bersama Vasudeva, seorang tukang perahu yang buta huruf, sederhana tapi luhur budi.

Di situlah akhirnya ia belajar dari suara sungai. Dan, Siddhartha mulai tahu apa maknanya kebisuan.

Maka ketika akhirnya Govinda, sahabatnya, menjumpainya kembali dalam usia yang telah lanjut, Siddhartha pun berkata,

‘Satu hal mengesan padaku, Govinda: kebijaksanaan tak dapat dikomunikasikan. Pengetahuan dapat dikomunikasikan, tapi kebijaksanaan tidak. Kita dapat menemukannya, hidup dengannya, diperkuat olehnya, menciptakan keajaiban melaluinya, tapi kita tak dapat mengkomunikasikan dan mengajarkannya.’

Bagi Siddhartha, segala sesuatu yang dipikirkan dan dikemukakan dalam kata-kata selalu jadi tinggal separuh kebenaran, kekurangan totalitas dan kelengkapan.

Di akhir buku itu dikisahkan bahwa antara Sidhartha yang menolak ajaran dan Govinda yang menemukan ajaran dalam petuah sang Budha terjadi pertemuan kembali.

Siddhartha meminta Govinda mencium jidatnya. Dan Govinda menciumnya. Airmatanya tetes. Ia kembali bersatu dengan sahabatnya di masa kanak-kanak itu — di ujung hidup. Beberapa detik yang silam didengarnya sendiri ucapan Siddhartha tentang sang Budha:

‘Tidak dalam kata atau pikiran aku menganggapnya sebagai orang besar, tapi dalam perbuatan dan hidupnya.’

Siddhartha, atau Herman Hesse mungkin berlebihan. Tapi memang banyak perselisihan terjadi dan kebohongan dipaparkan, lewat kata yang menjelma menjadi suara-suara yang mengalir lewat sungai.

Maka dari itu Mas, belajarlah dari sungai. Simak. Dengarkan ….”

Dan, Paklik pun mengakhiri dongengnya.

Apakah sampean pernah mendengarkan sungai, Ki Sanak? Suara apa yang terdengar?

§ 14 Responses to Sungai Pecas Ndahe

  • avatar d-nial d-nial berkata:

    Suara tanpa kata-kata.
    Gemericik air yang mengalir, alangkah damainya.
    Sayang bau nggak mendukung (habis Kali di Surabaya banyak polusinya).
    🙂

  • avatar balak6 balak6 berkata:

    Jadi ingat pesan ibu guru:
    “Air mengalir tanda tak dalam”
    lha… kalo mengalirnya ke jalan raya sampe ke perumahan tandane opo Ndoro…???

    itu tanda-tanda banjir 😉

  • avatar dewi dewi berkata:

    bahasa sungai? saya pake bahasa hati ajah, ndoro..

    kok gak bahasa kalbu kayak titi dj 🙂

  • avatar kenny kenny berkata:

    suka banget denger gemercik air sungai(tp skr bisa denger grojokan air mandi ajah :D)

  • avatar venus venus berkata:

    kalo suara di sungai? mak plung…artinya apa, ndoro? 😛

    oh suara kowe kecemplung … 🙂

  • avatar Herman Saksono Herman Saksono berkata:

    Kalau di banyak perselisihan dan kebohongan, kenapa suara sungai harus didengarkan ndoro? Ataukah kearifan dan kebaikan juga tercampur dengan suara-suara yang lain?

    ndak gitu. maksudnya kamu diminta utk reflektif. halah, kok aku sok tau ya. 🙂

  • avatar pudjakesuma pudjakesuma berkata:

    “Sik, Mas. Saya punya dongeng tentang sungai dan Siddhartha. Siddhartha yang saya maksud tak lain berasal dari cerita Herman Hesse yang termashyur itu. Dia tokoh India yang mencari kesunyatan. Novelis Jerman pemenang Hadiah Nobel itu menuliskan kisahnya dengan liris tatkala dia mulai tertarik ke dunia Timur pada usianya yang ke-5.

  • avatar pudjakesuma pudjakesuma berkata:

    “Siddhartha yang saya maksud tak lain berasal dari cerita Herman Hesse yang termashyur itu. Dia tokoh India yang mencari kesunyatan. Novelis Jerman pemenang Hadiah Nobel itu menuliskan kisahnya dengan liris tatkala dia mulai tertarik ke dunia Timur pada usianya yang ke-5.”

    Ndoro, disini ada yang bikin mbilung eh mbingung. ‘…yang ke-5.” Itu bener usianya Siddhartha waktu mulai berkelana? Muda banget ya?

    yang usianya 5 tahun itu si Hesse.

  • avatar yu gembik yu gembik berkata:

    suara grujugan kali banjir kanal ndoro, mbek rodo was was nek mbludak trus banjir wayah udan.

    emang bu guru sering ke banjir kanal yo?

  • avatar adipati kademangan adipati kademangan berkata:

    lek aku ndoro, aku duwe dongeng dhewe perkoro suoro kali iki. nalikane nom2 an, ben bengi aku mancing nang kali isor barongan, isor wit gedhe pinggiran kademangan. suworone kali yo gemrojog ngono kuwi, nanging suwe2 malah sepi… pi. kliwat jam setengah loro bengi suworo gebrojog iku dadi suworo tangis, kadang tangis bayi, kadang tangis wong wedok, kadang yo malah cekikikan. kadang maneh yo koyok suwarane pasar ngono ndoro. sing mesti anane suworo ngaleh2 ngono, pancingku tambah nggondol iwak akeh.
    doro … suwarane kali ngaleh2 koyo ngono kuwi. iku tandane opo yo ndoro …..

  • avatar Paman Tyo Paman Tyo berkata:

    Sayang baru sekarang sampeyan paham kenapa saya jarang berkomunikasi sama sampeyan

    Satu hal mengesan padaku, Govinda: kebijaksanaan tak dapat dikomunikasikan. Pengetahuan dapat dikomunikasikan, tapi kebijaksanaan tidak. Kita dapat menemukannya, hidup dengannya, diperkuat olehnya, menciptakan keajaiban melaluinya, tapi kita tak dapat mengkomunikasikan dan mengajarkannya.’

    itu namanya komunikasi sambung rasa kawicaksanan ya, paman … 😀

  • avatar Hedi Hedi berkata:

    Ingat Bengawan Solo, kali yang dalammmm, tapi kalo meluap bisa kemana-mana, pasti suaranya kencang dan lamaaaaa 🙂

  • avatar dendi dendi berkata:

    wah jakarta bener-bener pecas ndahe!!

  • avatar -tikabanget- -tikabanget- berkata:

    bikin objek wisata banjir aja..
    lumayan kan..
    hehe..

Tinggalkan Balasan ke dendi Batalkan balasan

What’s this?

You are currently reading Sungai Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta