Snob Pecas Ndahe
Februari 7, 2007 § 18 Komentar
Dalam setiap bencana selalu terselip cerita human interest. Kisah-kisah ringan yang menarik perhatian. Cerita-cerita tentang manusia dan pernak-perniknya. Ada yang lucu, dramatik, memprihatinkan, menggelikan, sekaligus ada juga yang ngeselin.
Saya mendengar satu kisah ringan yang ngeselin itu di radio tadi pagi. Syahdan si penyiar mewawancarai seorang relawan yang beberapa kali mengevakuasi korban banjir.
Si penyiar bertanya, “Apa sih suka dukanya jadi relawan? Ada nggak korban yang malah marah-marah ketika hendak ditolong? Ada nggak korban yang ngeselin?”
Si relawan, laki-laki, sepertinya agak enggan menjawab pertanyaan itu. Ia lalu memilih menjelaskannya secara diplomatis. “Namanya juga lagi kena musibah, Mbak. Biasalah ada orang yang sikapnya gimana gitu…”
Si penyiar tak menyerah. “Tapi, masak nggak ada satu pun?”
Mas relawan akhirnya bercerita juga. “Pernah sih. Kejadiannya di sebuah permukiman elit. Kami masuk lokasi itu dengan susah payah. Eh, begitu sampai di sebuah rumah bertingkat, ternyata penghuninya lagi main basket di halaman depan.”
Mendengar jawaban itu, penyiarnya ngakak. “Lah emang rumah itu nggak kebanjiran? Kok masih bisa main basket sih?”
“Rumahnya sih, nggak kebanjiran, Mbak. Tapi, jalanan di sekitarnya sudah tergenang. Lokasi itu juga terisolir.”
Halah. Saya jadi ikut geli sekaligus kasihan juga pada mas relawan itu. Saya bayangkan si mas relawan itu sudah capek-capek dan susah payah menuju lokasi dengan niat menolong, eh yang ditolong malah lagi main basket. Memang ngeselin!
“Orang kaya memang suka ngeselin, Mas,” kata Paklik Isnogud yang kebetulan ikut mendengarkan siaran radio itu.
“Ah, ya ndak semua orang kaya to, Paklik,” kata saya mencoba golongan membela kaum “the haves” itu. “Mentang-mentang sampean miskin terus sentimen ya?”
“Sembarangan. Jelek-jelek gini saya punya sepedah ontel, Mas. Dan ini bukan soal sentimen,” kata Paklik sedikit berang. “Ini kenyataan, Mas. Tapi, yang lebih ngeselin lagi sebetulnya seorang yang snob. Para orang kaya baru, nouveaux riches, itu.
Seorang snob biasanya seorang yang selalu dengan susah payah menghindari diri dari menjadi orang kebanyakan. Maunya tampil beda melulu. Kita umumnya juga snob, yang mengenakan baju bermerek tertentu ketika kaum the haves mengenakan merek itu. Dan para snob menanggalkan merek itu ketika orang kebanyakan justru ramai-ramai membelinya.”
“Mengapa kita bisa begitu, Paklik?”
“Mungkin karena sekarang ini kita sudah terbiasa pamer. Kata pamer, yang setahu saya berasal dari bahasa Jawa, sekarang dipakai dengan tenang. Ini berarti suatu perkembangan yang menarik telah terjadi di kepala kita.
Pamer, dalam bahasa asalnya, punya konotasi buruk. Di dalamnya ada unsur menyombongkan diri. Padahal, beratus-ratus tahun lamanya kita merasa risi untuk bersikap demikian. Perhatikan saja nama warung atau hotel-hotel kita yang melanjutkan gaya masa lampau: Warung Sudi Mampir atau Hotel Sederhana; restoran Saung Kuring (yang berarti ‘gubuk saya’) atau penginapan Tawakal.
Kita tak terbiasa dengan nama-nama yang menyala dan menyalak. ‘Royal’ (yang artinya bisa juga ‘berfoya-foya’) atau ‘Lux’ baru datang kemudian. Juga kata ‘Grand’. Kita umumnya merendah. Atau pura-pura merendah. Atau netral-netral saja.
Dengan kata lain, kita belum biasa ‘menjual’. Bahkan kata ‘menjual’ itu, sebagai idiom, merupakan hal yang baru. Orang Amerika memakai kata ‘menjual’ (to sell) bukan cuma untuk memperdagangkan barang. Ungkapan to sell his idea’ di sana berarti ‘menawarkan gagasannya.
Percobaan untuk mengindonesiakannya secara harfiah, yang sering kita dengar dalam seminar-seminar, jadi terdengar janggal. ‘Menjual gagasan’ rasanya hampir sama kurang patutnya dengan ‘menjual diri’, yakni memperdagangkan hal yang tak layak diperdagangkan.
Kini perusahaan tanah dan bangunan dengan lancar (dan mungkin latah) menyebut diri Indah, atau Molek, Mas, Permai. Bioskop tidak lagi dinamai — seperti yang dilakukan orang di Yogya — Seni Sono, tapi Cineplex, Premiere Studio, dan sebagainya.
Iklan bertambah agresif. Papan-papan nama pada berebut karena yang diperlukan bukanlah menyejukkan pemandangan, melaraskan lanskap, tapi menggaet. Pendeknya, kita sudah berjualan. Kita sudah mau pamer.”
Hmmm … Menarik! Bagaimana menurut sampean, Ki Sanak? Benarkah orang kaya itu ngeselin? Jangan-jangan ini cuma sindrom kita — atau paling tidak Paklik Isnogud — yang miskin itu?

Kaum buruh, kaum miskin, para petani miskin, kaum kere bersatulah!!!
lho terus arep ngopo??
kebanjiran njur pamer. piye jal kuwi?
lah bukan cuman wong sugih sing seneng pamer, wong kere juga malah sring pamer ndoro, ngumbar kekereannya kuwi..mbuhlah ga ruh aku..u tell me lah ndoro..*bingung*
Menjadi orang kaya emang enak sih….
Mereka sekolah dimana ya…???!!!
kalo kata saya, wartawan lebih ngeselin. liat aja para paparazzi yang nguber2 selebritis sampe yg diuber2 jadi panik.
di indonesia, wartawan juga gak kurang ngeselin; hobinya bikin gossip. tentang payung, misalnya..wakakaka…
atau tentang kondom yang bawa2 nama say. niat bener sih, ndoro? killing me softly beneeeeer 😦
aku tms orang yg kaya ndoro … sugih anak (gak pamer lho 😀 )
walah kog ijik mambu kondom seh, tak kiro wes kintir 😛
ya bener, orang kaya itu ngeseli. contone, ndoro kakung dimintai sedekah bilang ndak punya. ngeselin to?
kata orang miskin : mentang2 kaya, ngeselin.
kata orang kaya : sapa suruh situ miskin, emang enak.
ahh kang, kalau d jawa juga mulai tertepis khok budanya merendah itu..lha aku ada klien namanya berbau jawa plus the ‘haves’, contoh nih SUGIHARTO, nah khan..yang temenku lainnya namanya SUGIHARTI ngamuk2 ma maknya karena namanya itu artinya sugih artine termasuk kesusahan..lain kalau namanya sugih arto yang artinya sugih duit..nah khan
hmm..ra nyambung yo kang??hahaha..ngalih ah..hihi
pakliknya paklik isnogud juga pamer, iku lho paul wolvoits pamer kaos kaki bolong, pamer jempolan. opo dudu snob sisan ki?
sebaliknya, kadang orang kaya berpikir “mentang-mentang miskin lalu situ bisa berlaku preman, gak taat hukum and seenak udelmu”…lah kok malah saling menyalahkan ya ndoro.
ndoro kalo miskin ya sadar diri aja, ga usah iri sama yang kaya-kaya itu. La wong yang kaya aja namanya belum pasti ndoro kok..la ndorokakung yang wis ndeklarasi jadi priyayi, jadi ndoro lo, kok mo iri…kan ya ndak patut to??
orang kaya ngeselin tapi sebenarnya lebih ngeselin orang miskin,,, tanya aja orang miskin kesel gak miskin pasti jawabanya “IYA” tanya orang kaya Kesel gak kaya jawabaya “TIDAH”
saya malah gumun je nek ndelok wong wedok wudo..
pripun niku ndoro? tepangaken dalem wargo enggal, taksih kathah gumun ningalin peradaban..
Kalo kaya kerjasama dengan yang miskin gimana?
Kan orang kaya butuh orang miskin biar bisa (keliatan)kaya (lha kalo orangnya kaya semua kan artinya nggak ada yang kaya khan?).
Dan orang miskin butuh orang kaya biar nggak tambah miskin (lha mandornya orang miskin kan orang kaya).
lah orang miskin kan juga punya pikiran sama tuh, mentang-mentang kaya terus bertindak seperti preman, korupsi dan nyopir mobil seenaknya sendiri. biasa mas, kita kan sering berprasangka pada orang yang ndak satu golongan?
Untung, meskipun saya kere, masih bisa ngeblog untuk menyalahkan orang lain …lol
waduh!!!
berarti saya ngeselin noh..!!