Roso Pecas Ndahe

Februari 13, 2007 § 12 Komentar

Cinta, rindu, dan benci. Apa bedanya kalau batasnya cuma setipis kulit bawang? Ini kan soal roso.

Tapi, di hari-hari ini, menjelang Hari Valentine itu [halah!], kata-kata sakti andalan anak-anak muda yang sedang wuyung, gandrung, kasmaran, itu kembali dibuka-buka dan ditafsirkan. Mungkin ada gunanya juga kalau kita sekali-sekali berbincang tentang tiga kata itu.

Ah, saya jadi ingin ngobrol dengan Paklik Isnogud tentang rasa cinta, rindu, dan benci. Kepada siapa saya bisa bertanya tanpa rasa iri dan dengki, dendam dan kesumat. Tapi, jangan-jangan Paklik ogah diajak ngobrol yang beginian?

Maklum saja, Paklik itu orang yang selangkah lagi ada di ujung jalan kenikmatan. Buat dia, nyaris tak ada kejutan lagi di balik setiap tikungan kehidupan. Saya jadi ndak enak hati sendiri menanyakan hal-hal yang boleh jadi dianggapnya sepele, remeh-temeh, sangat duniawi. Minder.

Tapi, ndak ada salahnya mencoba, kan?

Begitulah, siang tadi akhirnya saya memberanikan diri bertanya kepadanya soal itu. Paklik Isnogud, seperti yang sudah saya duga, cuma mesam-mesem. Saya jadi makin keder, ciut nyali.

“Paklik kok tertawa, sih? Males ya njawabnya?”

“Ndak, Mas. Ndak males kok. Saya malah seneng. Lagi pula bagus-bagus saja kalau sampean menanyakan soal itu. Hanya saja jawaban saya mungkin ndak akan memuaskan sampean. Kita kan beda generasi, Mas. Apa yang ada di kepala saya mungkin ndak nyambung lagi dengan apa yang ada di kepala sampean.”

“Ya ndak apa-apa juga, Paklik. Paling tidak saya jadi tahu seperti apa bayangan Paklik tentang kata itu.”

“Begini ya, Mas. Kalau sampean bertanya tentang rasa cinta, rindu, dan benci saya, mungkin tidak pada orang per orang. Dia usia saya yang sudah senja ini saya menumpahkan semuanya kepada Yang Maha Tunggal itu, tempat saya menyerahkan segenap cinta, rindu, sekaligus benci.

Cara saya mencintai Tuhan, mungkin seperti cara penyair besar itu merindukan Tuhan. Sampean tahu siapa dia? Namanya Sutardji Calzoum Bachri. Orang-orang menjulukinya Presiden Penyair Indonesia. Hobinya menenggak bir. Setiap kali dia membaca sajak, selapis busa menyangkut pada misai yang tak rapi itu.

Sutardji yang gondrong rambutnya, yang tak jelas sopan santunnya, yang cepat cemoohnya, yang keras ketawanya, tapi memiliki segudang puisi yang mengejutkan. Adakah dia penyair yang kena serapah? Orang yang berantakan? Sebentar. Inilah beberapa baris sajaknya:

aku telah menemukan jejak
aku telah mencapai jalan
tapi belum sampai tuhan

berapa banyak abad lewat
berapa banyak arloji pergi
berapa banyak isyarat dapat
berapa banyak jejak menapak
agar sampai padaMu?

Jika cuma kata-kata itu yang ada di sana, mungkin kita akan duga Sutardji iseng. Tapi dalam kumpulan puisinya, O Amuk Kapak, baris sejenis itu berderet. Kadang berulang-ulang: seolah Tardji tengah membaca semacam zikir yang intens, untuk menemui Tuhan. Dia mencari, karena dia rindu.

Mungkin, setelah Amir Hamzah di tahun 30-an, tak ada penyair Indonesia lain yang begitu bergetar rasa kangennya kepada Dzat yang Mahagaib itu.

Aku telah nangkap manusia dengan tangan, tulis Sutardji, ‘dengan meriam dengan ide dengan pikiran.’ Namun, ‘cuma jejakMu saja yang aku dapatkan pada mereka.’

Lalu dia mereguk bir.

Sampean boleh berkeberatan, bahwa Tuhan dikangeni dengan cara begitu. Tapi bagaimana sampean bisa mengatur kerinduan orang lain?

Amir Hamzah sekalipun, bangsawan sebelum perang, dengan adatnya yang jelas, toh tak juga bisa kita atur. ‘Hatiku yang terus hendak mengembara ini,’ begitu satu sajaknya pada 1935, ‘membawa daku ke tempat yang dikutuki oleh segala kitab-kitab suci dunia.’

Lalu katanya, ‘tapi engkau, hatiku, berkitab sendiri, tiada sudi mendengarkan kitab lain …’

Hati yang gandrung, yang gelisah, memang mudah tak betah dengan peta yang tersedia. Amir Hamzah melukiskan hubungannya dengan Tuhan sebagai ‘bertukar tangkap dengan lepas’.

Sebuah akidah, serumus hukum, paling banter hanya bisa menuntutnya untuk jinak. Tapi penyair yang paling rapi sekalipun selalu punya saat-saat yang majenun.

Karena itulah mereka yang lebih menyukai organisasi, tertib, stabilitas, persatuan, doktrin yang pasti serta berkuasa, selalu ogah pada kerinduan a la Sutardji dan pengembaraan Amir Hamzah.

Bagi mereka Tuhan harus ditaati, bukan digandrungi. Bagi mereka ia adalah Kekuasaan, dan kita tak perlu akan kebebasan. Kebebasan adalah berbahaya, subversif, membingungkan umat, mengacau generasi.

Bagi orang banyak, memang tak ada manfaatnya kebebasan penyair dan kerinduan seorang sufi. Agama, bagi khalayak ramai ini, ibarat sebuah rumah sakit yang ideal: ia bisa menyembuhkan, merawat, membersihkan. Ia juga teratur, tak gaduh, dan steril.

Dalam tiap agama, selalu ada sifat yang disebut Max Weber sebagai Alltagsreligion –agama orang ramai yang dilakukan secara rutin sehari-hari. Dan dalam tiap agama, selalu ada orang yang tak puas hanya dengan itu, dari waktu ke waktu.

Demikianlah syair Wedatama di abad ke-19 mencemooh kaum muda yang anggung anggubel sarengat, yang dengan bangga hanya merepotkan syari’at.

Bagi Wedatama, yang utama adalah orang yang karoban ing sih, diluapi rasa cinta, yakni ‘cinta kepada sang Suksma, yang tumbuh menggunung besarnya.’

Begitulah Mas, tafsir saya tentang cinta, rindu, dan benci. Tentu ini bukan sesuatu yang sampean harapkan datang dari saya, bukan? Mohon maaf, cuma itu yang saya bisa katakan,” ujar Paklik mengakhiri kalimatnya yang seperti embun menetes dari dedaunan.

Saya merasa maknyes serasa disiram air dari kulkas. Sejuk benar mendengarkan kata-kata Paklik. Jelas jauh benar bedanya dari apa yang selalu saya baca dari blog sebelah itu. Blog yang pemiliknya selalu menebar kata-kata yang menafikan rasa cinta, rindu, dan benci itu.

Entah, saya tak tahu apa maunya. Sampean tahu, Ki Sanak? 😀

§ 12 Responses to Roso Pecas Ndahe

Tinggalkan Balasan ke dewi Batalkan balasan

What’s this?

You are currently reading Roso Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta