Pasir Pecas Ndahe

Februari 19, 2007 § 11 Komentar

Berkat tumpukan pasir dari negeri seberang, wilayah Singapura bertambah luas. Karena pasir [sebagian] colongan, Negeri Liliput itu menjelma menjadi semacam “kerikil dalam sepatu” bagi tetangganya.

Singapura dianggap telah melakukan kecurangan, diam-diam menambah batas teritori. Pemerintah Singapura pun dituduh “merestui” pencurian pasir, juga larangan impor pasir. Orang kemudian ramai bersuara, menghujat, dan berseru, “Maling! Sikat!”

Bagaimana sebetulnya kita menentukan batas-batas negara? Siapa sebetulnya yang paling berhak menentukan?

Kepada siapa lagi kalau bukan Paklik Isnogud saya bertanya.

“Tuhan barangkali tak pernah merestui peta bumi, Mas,” kata Paklik sambil melipat koran hari ini yang memuat berita tentang wilayah Singapura yang kian luas itu.

“Kenapa begitu, Paklik?”

“Dari waktu ke waktu, manusia mengubahnya, sering setelah membunuh dan menginjak-injak, sering pula dengan memberontak dan membuat proklamasi — seperti yang kita lakukan 62 tahun yang lalu.

Lalu tapal batas pun didirikan. Bendera dikerek. Petugas berseragam imigrasi dipasang di gerbang perbatasan. Seorang cucu Adam dari wilayah sini harus punya izin khusus buat menemui cucu Adam dari wilayah sana — meskipun jaraknya sering tak sampai satu kilometer.

Kita selalu punya tentara bersenjata yang disiagakan untuk menjaga agar batas itu tak diterjang, juga papan peringatan:

No trespassing. Trespasser would be shot. Survivors would be shot again!

Di ibu kota, orang pun mencetak peta, dengan garis merah bertitik-titik, atau warna wilayah yang berbeda-beda — seakan-akan hendak mengabadikan apa yang tengah berlaku.

Tapi kita tahu tempo hari Jerman Timur dan Jerman Barat merupakan dua negeri kini mereka jadi satu, seperti dulu.

Kemarin, Lithuania bagian dari Uni Soviet sekarang ia telah mengibarkan bendera sendiri. Siapa tahu Kuwait kelak akan jadi bagian dari Irak, seperti Timor Timur jadi bagian dari Indonesia untuk kemudian berpisah lagi …

Seandainya Tuhan merestui peta bumi, perubahan semacam itu — yang berkali-kali berlangsung sepanjang sejarah — tak akan mungkin bisa terjadi.

Yang menakjubkan ialah bahwa di satu pihak kita bisa mengacak-acak peta yang ada, tapi di lain pihak kita bersedia menciumnya seperti benda sakti. Memang, batas itu bukan sesuatu yang sakral, bahkan bukan sesuatu yang alami. Tapi ia telah jadi salah satu unsur dalam kesadaran manusia, yang didekati dengan takzim dan sekaligus intim.

‘Tanah air’, ‘negeri’ … Kata itu bagaimanapun telah jadi semacam wujud ajaib yang memanggil getaran dan gelora hati, bahkan — seperti dewa-dewa dalam dongeng — terkadang meminta pengorbanan.

Di Indonesia kita biasa menyanyi, dengan mata basah dan bulu tubuh berdiri,

‘Padamu negeri, jiwa raga kami.’

Pada saat yang sama, batas itu juga telah ikut merumuskan sesuatu yang paling intim dalam hidup: identitas kita.

‘Saya orang Indonesia’, atau ‘Saya orang Singapura’. Dengan mengatakan itu kita sebetulnya telah memilih satu pola untuk bereaksi atau bersikap dalam suatu situasi, termasuk dalam hal merasa tersinggung atau bangga, dalam hal mati, atau menahan hati.

Tapi siapa yang sebenarnya telah menentukan batas itu? Siapa yang sebenarnya berhak membuat peta itu? Kebanyakan kita telah lupa. Kebanyakan kita tak lagi mempertanyakannya.

Di zaman yang telah jauh lewat, perbatasan itu agaknya hanya suatu perpanjangan dari jiwa raga seorang raja yang berkuasa.

‘Anakku,’ kata Philip dari Macedonia ketika melihat anaknya, Aleksander, berhasil menjinakkan kuda Bucephalus, ‘negeri Macedonia terlampau kecil untukmu.’

Kemudian Aleksander pun berangkat, membentangkan wilayahnya dengan ribuan serdadu. Sampai ke Hindustan.

Raja-raja yang kemudian juga datang menentukan tapal batas mereka sendiri dan menentukan orang lain — terutama kawula-kawulanya — agar mengikuti tapal batas itu. Setelah zaman itu lewat, datang tuan tanah, atau pemilik modal, atau jenderal-jenderal marah, atau sastrawan-sastrawan yang bersemangat, atau priayi-priayi kecil, atau budak-budak yang berkulit cokelat semua ikut, seperti halnya raja-raja yang sudah copot ataupun yang belum, menentukan gerakan-gerakan besar yang mengubah peta bumi.

Lalu hadir PBB dan sejumlah konperensi dan negosiasi. Kemudian: untaian nyanyian dan pidato para patriot. Dan batas serta peta sebuah negeri pun pelan-pelan masuk dan bersemayam ke dalam ingatan dan mitos bersama.

Tak berarti dengan segera jadi jelas, dan sudah baku, tentang siapa yang berhak menentukan peta sebuah negeri. Tak dengan sendirinya ada kepastian hukum yang dipatuhi tentang hal itu, di dunia yang masih anarkis ini, yang kekuatan moncong bedilnya sering sama dengan kebenaran.

Maka, tak mengherankan bila pabrik-pabrik senjata, termasuk yang paling mengerikan, belum ditutup, dan sekolah-sekolah militer, termasuk yang paling buas, tetap belum dibubarkan. Demi sebuah peta, demi segaris batas.

Hanya sejumlah orang kesepian yang duduk sebagai hakim di Mahkamah Internasional di Den Haag.

Akan terus beginikah? Di atas langit, lapisan ozon berlubang dengan menakutkan. Kita tak bisa mengatakan, itu ‘ozon orang Amerika’, atau ‘ozon orang Irak’. Tapi, batas-batas di peta bumi masih menggendoli kita untuk mencegah perusakan bersama itu.

Batas-batas itu pula yang menyebabkan orang yang miskin dari Meksiko dicegah masuk ke Amerika, pengungsi Afganistan dihambat masuk ke Australia, dan pekerja Indonesia dikejar-kejar polisi Malasyia.

Padahal orang tahu bahwa dulu, seperti mungkin pula kini, sejarah manusia adalah sesuatu yang dibangun oleh gerak perpindahan bangsa-bangsa.

Sejarah satu umat, di hanya satu bumi.”

Tiba-tiba saya jadi pengen memeluk Paklik. Haiyah!

§ 11 Responses to Pasir Pecas Ndahe

Tinggalkan Balasan ke Pecas Ndahe by Ndoro Kakung Batalkan balasan

What’s this?

You are currently reading Pasir Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta