Pungli Pecas Ndahe

Februari 19, 2007 § 15 Komentar

Sebuah blog antikorupsi baru saja lahir. Di antara kian beragamnya blog-blog lain yang bermunculan hari-hari ini, blog pungli seperti angin segar bagi Republik Korupsi ini.

Terus terang saya terpana pada blog yang mengusung tema dahsyat ini. Ini barang langka yang perlu dilestarikan. Di tengah arus kegilaan korupsi yang memboyot, blog ini membawa pesan: “”masih ada cahaya di ujung lorong yang gelap.”

Saya tak tahu orang-orang di belakang blog itu, saya juga ndak kenal mereka. Tapi, saya tahu mereka pasti orang-orang yang hebat, orang-orang yang berani melawan korupsi yang sudah sangat merusak itu.

Ki Sanak, tahukah sampean bahwa daya rusak korupsi yang terbesar justru memang terjadi pada saat suram seperti sekarang: Ketika kita tak tahu lagi di mana yang salah dan bagaimana mengatasinya.

Korupsi ialah kanker yang akhirnya mengeremus harapan dan kepercayaan. Ia meludahi kemungkinan bahwa di sekitar masih ada orang yang bersih.

Pada tingkat yang paling destruktif itulah korupsi membawa semacam “pemerataan”: semua orang dianggap cuma cari untung sendiri-sendiri. Tapi, hari ini saya seolah-olah mendapatkan teman. Saya merasa tak sendirian lagi karena ada blog ini.

Aha, tentu saja saya masih punya Paklik Isnogud, pendekar antikorupsi paling tangguh pada zamannya. Saya ingat, Paklik perna bercerita tentang Hog, yang hidup di Romawi di sekitar tahun 70 Sebelum Masehi.

“Hog,” kata Paklik, “konon, cuma sebuah terjemahan Inggris untuk kata verres. Artinya ‘babi’. Di dalamnya terkandung segala gambaran tentang tubuh yang gendut, sifat yang tamak, mungkin juga jorok, dan tak tahu batas malu.”

Mungkin keburukannya dilebih-lebihkan, sebab kisahnya memang begitu keji. Orang zaman ini cuma mendengarnya dari Cicero, yang menulis dari pengalaman di masanya yang telah lama hilang itu, dan Cicero kebetulan memang orang yang ikut menumbangkannya.

Tetapi seandainya pun si penulis keterlaluan, kisah Si Hog tetap menarik — tentang suatu masa, ketika kesewenang-wenangan berkecamuk, tetapi manusia toh masih bisa mempertahankan yang baik pada akhirnya.

John T. Noonan, seorang hakim dan guru besar emeritus dalam ilmu hukum di University of California, menyebutnya sebagai satu contoh, ketika ia menulis sebuah buku yang mengesankan tentang sejarah suap, Bribes.

Syahdan, Hog adalah praetor di Roma: jabatan yang meletakkannya dalam posisi sebagai pelaksana hukum tertinggi kota itu.

Kemudian ia dikirim ke Sicilia untuk jabatan setaraf gubernur.

Dalam kekuasaan itu, ia biasa meminta dan menerima uang untuk menggeser hakim yang mungkin menghukum berat seorang terdakwa. Ia juga menerima sogok untuk membiarkan seorang pemimpin perompak raib tanpa diadili ia meminta bayaran dan narapidana — dan ia menerima suap dari keluarga si terpidana agar bisa besuk di penjara.

Ia juga bisa memainkan nasib orang dengan enak. Suatu saat, ada seorang kaya, Sopater namanya, yang diancam hukuman mati. Pesuruh Hog pun mengontaknya, dan membisikkan bahwa para penuntut Sopater bermaksud membayar Hog agar mau memberikan hukuman yang keras. Tapi, asal Sopater mau bayar juga, Hog akan membebaskannya.

Sopater, dengan bantuan teman-temannya, menghimpun uang sebesar 80 ribu sesterces. Tapi ternyata pengadilan diteruskan juga. Bisik Si Hog: pihak penuntut menaikkan tawarannya di atas 80 ribu.

Bagaimana kalau Sopater menaikkan tawarannya?

Sopater ternyata tak mau. Maka esoknya, Hog menghukumnya mati. Uang yang 80 ribu dulu tak pernah dikembalikannya.

Toh, Hog akhirnya berhasil juga dijatuhkan, meskipun ia — sebagai penerima suap — telah menyogok ke sana kemari. Cicerolah yang menantangnya, ketika ia jadi pengacara untuk orang-orang Sicilia yang mengadukan kesewenang-wenangan Hog kemudian.

Bagaimanakah ia bisa mengalahkan Hog? Terlampau sedikit catatan sejarah tentang kasus ini untuk membuat satu jawaban yang baik. Tapi bila kita percaya kepada tulisan Cicero, Hog jatuh karena pada akhirnya orang ramai percaya mungkin mereka butuh satu paradigma tertentu tentang hakim.

Hakim menentukan posisinya dalam proses keadilan. Dan Cicero menambahkan: “Tuan-tuan, para hakim, Andalah ibaratnya dewa-dewa.”

Sebenarnya dewa-dewa Romawi, seperti dilukiskan dalam mitologi, bukan hakim yang ideal. Mereka suka menerima pemberian. Kita sering mendengar dewa yang menerima persembahan yang besar, kemudian mengaruniai si penyembah dengan suatu kelebihan.

Etika ‘resiprositas’, seperti diistilahkan oleh Noonan, memang masih berlaku disitu: siapa yang menerima pemberian, wajib membalasnya dengan pemberian pula. Orang Romawi kuno belum sepenuhnya mengenal etika ‘nonresiprositas’: bahwa keputusan Yang Maha Adil — sebagaimana hakim yang ideal — tidaklah tergantung kepada besarnya persembahan dan penjilatan serta puji-pujian.

Dengan kata lain, pidato Cicero tak sepenuhnya tepat, tapi bagaimanapun, ia menyentuh suatu keyakinan yang sifatnya religius, di mana pun juga, kapan pun juga: bahwa manusia harus punya rasa malu dan bersalah, karena di alam semesta ini ada yang memancarkan kebaikan, keadilan dan kebenaran, sebuah sumber yang mahapemberi, yang, dengan kemerdekaan penuh, akhirnya memberikan keputusan yang final.

Namun apa yang akan terjadi bila keyakinan seperti itu tak ada, meskipun Tuhan tiap hari disebut dan disembah? Orang mengatakan bahwa Hogisme bisa berlangsung dengan ganas karena ‘sekularisasi’ lahir dan iman telah sirna.”

§ 15 Responses to Pungli Pecas Ndahe

  • avatar balak6 balak6 berkata:

    Pungli ini lebih disebabkan oleh system yang ga’ jelas dan hukum yang tidak ditegakkan….

    Polisi cepek, preman, polantas, aparat, jaksa, bahkan hakim-pun berpotensi melakukan pungli.

    *resiko hidup di indonesia*

  • avatar kenny kenny berkata:

    ntar mereka(yg berpungli ria*) kena batunya sendiri ndoro, ibarat orang makan gak tahu kapasitas perutnya…(nyambung ga’ sih ) 😀

  • avatar nana nana berkata:

    … penjaga garis yang tak bisa disogok …

    lha penjaga garisnya sendiri pungli. gimana mau ngingetin yang didalam garis?

  • avatar venus venus berkata:

    FYI, ndoro, saya tau orang2 dibalik blog itu, hehehe…ayo silakan gabung kalo berani, ndoro 🙂

  • avatar sangar! sangar! berkata:

    kalo dilihat dari sejarah kata pungli itu sediri sebenarnya sama sama singkatan juga, mung rodo saru… saya pengen cerita tapi kok masih pekewuh…

  • avatar abi_ha_ha abi_ha_ha berkata:

    Pripun malih tho ndoro… Lha wong di Endonesa niku norma agama dianggap nomer dua, norma pertama ya norma keluarga. Apa yang dianggap dalam norma keluarga benar, ya agama bilang salah juga ndak dianggap.
    Makanya, tukang pungli itu pasti dari mbah-mbahnya sana sudah ndak bener. Kalo kata Aa Polygym, “anak rusak? ngasih makannya pakai duit apa?”
    Tapi saya ya terlibat pungli, supaya urus SIM, STNK, KTP jadi cepat, ndak punya waktu je’. Kalo kena tilang terus dipungli, karena kepepet saya kasih sambil saya do’akan, mudah-mudahan duitnya di’nggo anaknya beli narkoba. Modhhyaarrr!!!

  • avatar Anang Anang berkata:

    hasil karya wadehel yak.??

  • avatar mei mei berkata:

    aku juga masih memanfaatkan jasa pungli, untuk urusan SIM dan lain2..selain cepat aku juga malas kalau harus bertele2 dengan urusan yang ribet…

    jadi sebenarnya bukan hanya aparatnya saja yang salah, pemberinya pun juga salah*contohnya ya aku sendiri..hehe

    seett dah mas, sehari aja ga baca..ketinggalan sepur tenan!!

  • avatar yati yati berkata:

    hmm…dongeng korupsi. saya juga lagi korup, make fasilitas kantor buat ngeblog

  • avatar kaipangkulon kaipangkulon berkata:

    Ada ngak cara hidup yang berhubungan sama aparat? Supaya ngak tercemar gitu

  • avatar fade2blac fade2blac berkata:

    Ndoro kakung, gimana kalau dibuat 1001carakorupsi.com?

  • avatar anggi anggi berkata:

    gw pengen kerja di pemerintahan…
    krn gw pengen “menjajal” iman gw…

  • avatar -tikabanget- -tikabanget- berkata:

    dikenai pungli = uang melayang.
    melakukan pungli = dapet duit.

    duh..
    saya mau dpt duit..

  • avatar adipati kademangan adipati kademangan berkata:

    upeti? sebenarnya memudahkan atau menyulitkan?
    Untuk mengurus persoalan administrasi, biaya, pelanggaran, serta yang lain2 yang berbentuk uang sudah pasti ada perjanjiannya dalam kitap udang-undang kerajaan.
    Sekarang pengennya cepet, nggak ribet, murah, ringkas, tidak sesuai prosedur, instan, dll. mungkin itu yang menjadi akar mental upeti gelap … !!!!!

  • avatar diditjogja diditjogja berkata:

    dan imant elah sirna?
    ah, nggak juga!
    nyatanya banyak yang melestarikan Hogaisme dengan bendera2 politik yang dihiasi warna agama dan IMAN !! yang akhirnya turut serta menajdi biang korupsi baru…

Tinggalkan Balasan ke -tikabanget- Batalkan balasan

What’s this?

You are currently reading Pungli Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta