Petani Pecas Ndahe
Februari 20, 2007 § 25 Komentar
Harga beras naik, orang miskin menjerit. Harga beras anjlok, para petani berteriak.
Beras itu dilema atau simalakama?
Entah. Yang jelas, beras itu selalu menjadi persoalan di negeri ini karena hampir semua orang makan nasi dari beras. Seandainya penduduk negeri yang gemah ripah loh jinawi ini makan roti dari gandum, masalahnya pasti lain lagi.
Tapi, masalah para petani tak pernah habis, ada atau tiada beras. Harga beras naik atau turun, petani tetap punya masalah.
Jadi, lebih baik kita membela petani? Mungkin. Bukankah petani yang resah bisa berakibat fatal?
Sejarah pedesaan Jawa di abad ke-19 dan awal abad ke-20 ditandai oleh gerakan keresahan petani yang berulang-ulang — Sartono Kartodirdjo, Protest Movements in Rural Java.
“Ah, sampean sok tahu, Mas,” kata Paklik Isnogud. “Sampean ini persis Karl Marx.”
“Sik, sik, sik …. kok nggladrah sampai Marx segala itu bagaimana ceritanya, Paklik?”
“Lah iya to, Mas. Marx itu ndak tahu soal petani, tapi nggaya. Ia seolah-olah paling tahu tentang petani.”
“Kok bisa?”
“Bisa saja. Marx tak lahir di tepi sawah. Ia dibesarkan di Tiers, di Prusia, tempat yang jadi sebuah kota bahkan sebelum Abad Pertengahan. Di situlah masa kecil dan remaja Marx bersumbu, di sebuah rumah gaya Barok di Bruckenstrasse. Ayahnya seorang ahli hukum yang terpandang.”
Marx mungkin mirip Stalin yang sulit mengerti bahwa di dunia ini ada yang namanya petani. Syahdan ada seorang tokoh partai di masa awal pemerintahan Stalin yang pernah punya satu ide: biarkan para petani jadi kaya. Stalin pun memandangnya dengan curiga. Pada 1938, tokoh itu, Bukharin ditembak mati.”
“Wah, gendeng. Tapi, sebetulnya apa yang salah dengan petani, Paklik?”
“Ndak ada yang salah. Petani hanya makhluk yang tampaknya sulit dimengerti, seperti kalau sampean menghadapi sebuah lukisan Picasso. Banyak orang merasa pintar dengan membicarakannya. Tapi banyak pemikir yang sebenarnya tak tahu apa gerangan yang harus terjadi pada petani, penduduk penting Dunia Ketiga itu.
“Oke, oke, oke, Paklik. Jadi sampean juga merasa yang paling tahu soal petani?”
“Ndak juga. Saya cuma mau cerita tentang sebuah buku.”
“Halah, buku maneh. Banyak amat sih buku yang sudah sampean baca, Paklik.”
“Wis ra sah cerewet, Mas. Begini ya, kurang lebih 56 tahun yang lalu David Mitrany menulis sebuah buku, Marx against the Peasant, dan seorang Marxis yang mencoba lebih memahami petani, Rex Mortimer, mengatakan, pandangan Marx bersifat ‘antipetani’.
Lenin, seorang Marxis dari cabang yang lebih temberang, melanjutkan sikap itu. Ia memang membikin “revolusi sosialis” yang pertama justru di negeri Rus, sebuah wilayah luas dengan jutaan petani. Tapi sikapnya terhadap orang-orang “agraris” itu adalah apa-boleh-buat.
Kira-kira pada 1922, Lenin jera karena telah merasakan akibatnya — dengan usahanya memaksakan pertanian kolektif. Dalam kolektivisasi itu, hanya ada kans kecil bagi pemilik tanah perorangan, sesuai dengan semangat sosialistis yang menentang hak milik pribadi.
Tapi, pengolektifan itu akhirnya berakibat kemerosotan. Petani tak punya lagi dorongan bekerja, sebab hasilnya tak dapat ia petik sendiri. Maka, Lenin pun menyimpulkan, ‘Petani bukanlah orang-orang sosialis,’ dan, ‘membangun rencana sosialis dengan cara … seakan-akan mereka itu orang sosialis berarti membangun di atas pasir.’
Bagi banyak orang Marxis, petani memang sosok keterbelakangan. Orang-orang udik itu belum pernah tersentuh kerja di pabrik, dengan teknologi dan organisasi yang modern. Hanya kaum buruh, hanya proletariat, kata mereka, yang mampu menghadapi dunia yang akan datang.
Itu juga yang dikatakan Bung Karno ketika pada 1933 menulis Marhaen dan Proletar. Marhaen, kata Bung Karno, adalah “kaum proletar Indonesia, kaum tani Indonesia yang melarat dan kaum melarat Indonesia yang lain-lain.”
Semua golongan itu harus bersatu dalam revolusi nasional. Tapi, kata Bung Karno (seraya mengikuti Marx), kaum buruhlah yang “menjadi pemanggul panji-panji revolusi sosial.” Kaum buruhlah, kata Bung Karno pula, yang “kenal akan segala kemodernannya abad kedua puluh.”
Benarkah? Dalam Marxisme, banyak pernyataan yang tak pernah ditelaah kembali. Akhirnya yang hadir adalah sederet dalil yang buntu. Juga ketika Marxisme harus menjawab: Apa yang mesti dilakukan terhadap petani?
Beri petani miskin tanah. Bikin landreform. Itu seruan Mao Zedong di negeri Cina. Mao, anak petani menengah di Dusun Shaoshan, memang telah melahirkan sebuah negara komunis dengan petani sebagai basis revolusinya. Bahkan ada yang mengatakan ia juga tak menganggap masa depan Cina adalah masyarakat industri.
Tapi apa selanjutnya setelah petani memperoleh tanah? Tidakkah mereka kelak akan berkembang dari borjuis kecil jadi borjuis yang lebih besar?
Mungkin karena tak pastinya jawaban buat pertanyaan ini, bahkan Mao juga “tak konsisten”. Setidaknya itulah yang dikatakan Rex Mortimer, dalam kumpulan tulisan yang diterbitkan setelah ia meninggal, Stubborn Survivors, sebuah buku tentang petani di dunia yang bukan Eropa.
Sebenarnya, jika ditilik biografinya, Mao memang baru menyadari potensi revolusioner petani di pada 1925, ketika ia sedang istirahat di Shaoshan. Itu berarti lima tahun setelah ia jadi Marxis. Tapi, kesalahan Mao yang besar baru terjadi seperempat abad kemudian.
Pada 1958, ia mengumandangkan “Loncatan Jauh ke Depan”, dengan tujuan memacu Cina melampaui Inggris dalam bidang industri. Industrialisasi kilat itu memerlukan cukupnya bahan pangan dalam waktu yang ringkas pula.
Untuk itu, menurut Mao, yang harus dilakukan adalah mobilisasi dan kebersamaan. Petani harus berkorban.
Maka, pedalaman Cina pun mengalami proses kolektivisasi yang gegap gempita. Hak milik atas tanah dan peralatan pribadi disisihkan, dan komune-komune dibangun. Mao tak menduga hasilnya hanya malapetaka.
Di musim semi 1960, seorang pemimpin komunis Cina yang lain, Liu Shao-chi, mengunjungi Hunan. Ia lihat sendiri betapa dahsyatnya kesengsaraan. “Soal ini tak diakibatkan oleh bencana alam,” katanya seperti menyesali, “melainkan dibikin oleh manusia. ”
Petani tampaknya punya cara tersendiri untuk menampik bila mereka disepelekan bila satu sistem tak menguntungkan diri mereka: sawah tak lagi mereka garap, pangan jadi terbatas. Kita tahu apa akibatnya.
Celakanya, bagi seorang Marxis, para petani memang bukan ‘sosialis’ — seperti dikatakan Lenin — tapi si ‘sosialis’ tak tahu harus diapakan mereka itu.”
“Ah, cerita sampean ndak cocok buat pengantar makan siang, Paklik.”
“Salah sendiri makan ndak ngajak-ngajak, hehehehe … ”
Semprul!

Aku sampe males makan nasi, gara-gara krisis beras ini, ndoro.
Lha itu lah zulitnya jadi petani ndoro..
Mending biarkan petani sejahtera deh..soalnya tanpa mereka, kita ga bisa makan, ya tho..??Kalo petani mogok ndak mau bertani lagi piye jal..?!
Tapi inget, pengertian petani bukan hanya petani padi saja lho..Tapi juga di bidang perkebunan, perikanan dan peternakan lhoo..(Sesuai dengan istilah pertanian modern).
kula males maca ndoro, kepanjangan uro-urone.
harga beras naik.. rakyat semakin menderita…
a: lhah bener. piye yen kaum petani mogok, perkebunan
mandeg, pelaut males nyemplung.
katene nangdi sampeyan ? katene mbadok opo sampeyan ?
b: yo impor no kang
a: yo ndang impor kono, tapi
lek petani gak tandur, gak duwe dhuwit, gak mbayar
upeti, gak ono sing dikorupsi, gak ono sing gawe
mbayar, gak ono bidang usaha, gak ono kerjaan, gak
ono dhuwit, gak ono dodolan, gak ono liya2 ne
opo sing gawe impor !!!? @#@@$%$##@
pa’ lik ne’ turu neng perpus kali ndoro… jadi bisa moco buku banyak….
mungkin petinggi negeri ini harus jadi petani dulu ndoro…
wow! kurpol dari marx sampe mao. wehehe luar biasa. tapi kenapa tidak mengutip buku lokal pakde? di sana dibahas tentang petani, apa karena (bahkan dalam ranah teoripun) belum diterima oleh khalayak luas? hehe.. tapi mantap betul.. *ada pak kunto di sini? :p*
byuh, dawane pakde.
kesimpulannya, mati saja petani?
halah mumet. beras mahalnya gak kira-kira sekarang, ndoro. sedih aku 😦
ndorkung ini muter muter ngomong filsafat, la sampeyan ngutek utek filsafat gitu, petaninya kok ya tetep pada kere lo ndoro (keluarga saya petani kere soale…hehe)
ndoro,
kayaknya kalo aku pulang musti bawa beras arab banyak2 yak? hehehe…
beda beras arab ama beras di indo cuma bentuknya aja. kalo beras arab panjang-panjang….
hihihi
moco critone paklik dadi luwe…
mari kita budidayakan mie!!
loh pdhl omonge indonesia ki negara agraris lah kok malah koyo ngene kahanane, piye to iki?
Whezzz… kalo mbah kung udah berkhayal berdialog dengan tokoh fiktifnya ini, postingnya jadi abot… saya ndak nyambung mbah kung… 😦
neng desaku kediri kono kangmas ndoro sing jenenge petani sing duwe tanah kuwi borjuis kabeh, mobil lan trek makredeng2, lha sing dadi buruh…yo cukup omah gedhek, maem karo sego sing rupane abang rasane ra karuan lan iwak asin…cuman yen tak sawang*opo ini mergo aku wes terbiasa yoo* melihat para buruh kuwi khok yo adem ayem yo???
dadi ingat jamannya konco sampean kang, eyang kakung Harto, perasaan jaman keemasannya beliau itu petani adem ayem, gemah ripah loh jinawi yo…
iya nih harga beras naiknya tajam bgt, walau udah ada OP tetep aja, jd makannya di irit-irit. yah…sekalian diet lah….
Makanya dik-adik, kak-kakak, bu-ibu, pak-bapak. Semua harus protes dan berdemo dengan cara… mogok makan!!
Biar pemerintah dengar dan terutamanya demand beras turun (wong mogok makan kabeh).
Sesuai hukum pasar ABG sekarang, celana luar turun-celana dalam naik, nanti harga beras pasti ikut turun.
ibu saya lebih cerdas daripada pemerintah soal beras. baca http://denbag.us. hehe…
iki dolanane sapa ya, kung?
hlah…masalahnya mungkin karena ‘kebodohan’ pemerintah jaman dulu..hihiih..:p
Njenengan bicara panjang lebar soal petani dan pertanian, tapi tolong dong kalau ngomog kasih kesimpulan dong.
just try
ndoro, gambarnya ganti dong
oh ya, minta gambar padi dong
Ini posting tentang petani, tapi saya bingung. Ya Allah.