Levina Pecas Ndahe

Februari 23, 2007 § 15 Komentar

Kapal motor Levina I, yang berlayar dari terminal penumpang Pelabuhan Tanjung Priok, terbakar di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, kemarin, sekitar pukul 04.30 WIB.

Kapal penumpang rute Pelabuhan Tanjung Priok-Pangkal Balam, Bangka, tersebut baru berangkat berlayar sekitar tiga jam sebelumnya. Sekurangnya 15 orang tewas dalam tragedi ini.

Saya baca berita musibah itu di sini dan di sini.

Kapal berbendera RI/651791 jenis roll on, roll off atau roro ini menemui nahasnya sekitar 50 mil di utara Jakarta, persisnya di koordinat 05.22.00 Lintang Selatan dan 106.58.00 Bujur Timur.

“Sumber api diduga berasal dari sebuah truk yang parkir di dek kendaraan,” kata Administrator Pelabuhan Tanjung Priok, Sato Bisri. Muatan truk masih diperiksa, tapi disangka mengandung bahan yang mudah terbakar.

Menurut kesaksian penumpang, api menjalar dengan cepat. Makmuri, salah seorang penumpang, menyaksikan banyak penumpang meloncat ke laut tanpa pelampung. Akibatnya, selain 15 penumpang tewas, sembilan lainnya terluka, serta 27 orang hilang. Tapi lebih dari 200 penumpang dapat diselamatkan.

“Apa arti angka-angka ini Mas, selain sebagai rekor kesedihan?” tanya Paklik Isnogud pelan. Wajahnya lesi.

“Saya ndak tahu, Paklik.”

“Apa arti statistik bagi ibu yang memeluk anaknya di dek Levina I, ibu yang terbaring hangus bersama bocah kecil tiga tahun itu, angka-angka itu berbicara dengan jangat yang terbakar. Ada napas yang dicekik asap, ada paru yang dirobek air laut?

Mereka telah memberikan suaranya dengan ajal, dalam suatu pemungutan pendapat untuk perlindungan penumpang di masa depan.

Saya ingat, di sebuah hari Sabtu bulan September 1980, di Teluk Alaska yang dingin, kapal pesiar termasyhur Prinsendam dilalap api.

Hotel mewah yang berlayar dengan berat 8.655 ton itu beruntung mempunyai sistem pendeteksi asap, sejumlah lonceng dan peluit untuk menyiagakan penumpang bila bahaya tiba.

Dalam umurnya yang 7 tahun, Prinsendam memang tak punya sistem penyemprot, tapi Holland America Lines, yang mengoperasikan kapal foya-foya itu tahu bahwa para penumpangnya — tentu saja kaum milyuner yang berlibur — telah mempercayakan diri mereka dengan bayaran tinggi.

Maka, ketika api tercium dan SOS dikumandangkan, suatu usaha penyelamatan cepat dilakukan. Wartawan New York Times menulis, bahwa usaha ini mungkin “yang terbesar dalam sejarah modern yang pernah dilakukan terhadap sebuah kapal”.

Pengawal pantai Amerika mengirimkan pesawat C-130, dan sejumlah helikopter, kapal tambahan, di samping munculnya kapal tangki raksasa Williamsburgh. Pada akhirnya, seluruh 506 penumpang dapat selamat. Cuma satu yang luka, itu pun luka ringan.

Orang-orang kaya memang bisa berbicara lebih efektif — dengan apa yang disebut ‘the dollar votes”. Di Kapal Levina I, awal kapal, penumpang gelap, anak-anak kecil yang tak berpesiar, tak memiliki itu.

Tapi, jumlah besar mereka yang direnggutkan dari hidup barangkali bisa jadi suara keras. Bertalu-talu.”

Saya dan Paklik sama-sama membisu.

§ 15 Responses to Levina Pecas Ndahe

Tinggalkan Balasan ke gessh Batalkan balasan

What’s this?

You are currently reading Levina Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta