Nyontek Pecas Ndahe

Februari 27, 2007 § 26 Komentar

Ibunya anak-anak belakangan ini sering ngomel. Bukan karena jatah uang belanja berkurang. Bukan karena saya lirak-lirik perempuan lain. Bukan pula lantaran saya berbuat salah.

Bukan, Ki Sanak. Bukan karena itu. Mosok priyayi berbuat salah yang ndak perlu. Ya toh?

Simboke bedes-bedes itu ngomel-ngomel karena mengetahui si sulung yang masih kelas 1 SD itu suka nyontek di sekolah. “Hladalah. Nyontek? Mau jadi apa anak itu?” Begitu kata istri saya.

Saya cuma tersenyum saat dia melaporkan “pandangan mata”-nya itu tentang kelakukan si sulung di sekolah. Priyayi je, pantang marah dong.

“Mas kasih tahu dong, anak sekolah itu nggak boleh nyontek. Jangan diem aja. Jangan cuma senyam-senyum.”

Kali ini giliran saya yang ketiban pulung dan kena omelan. Wadoh, cilakak tenan. Ini ndak beres. Mosok priyayi diomeli, ya toh?

Jadilah saya melapor ke Paklik Isnogud perihal istri saya yang ngomel-ngomel itu gara-gara anak saya nyontek. Maksud saya sekalian mau nanya, apa yang mesti kita lakukan kalau anak-anak mulai belajar nyontek di sekolah?

Eh, lah kok Paklik Isnogud malah tertawa ngikik ketika saya menjura di hadapannya. “Lah sampean ini ya aneh kok, Mas. Ngapain bingung? Biarin saja anak sampean nyontek. Nyontek apa sih? Paling jawaban matematika temannya kan? Kayak sampean dulu ndak pernah nyontek aja waktu sekolah.”

“Loh, Paklik ini gimana sih kok malah mbukak rahasia. Biarpun saya dulu suka nyontek, tapi kan sekarang saya jadi andalan sampean, terutama kalau nagih utang pelanggan. Ya toh?”

“Nah, itu jawabannya. Yang penting kan sekarang. Ndak peduli dulu sampean ini tukang nyontek, ndak peduli waktu kecil dulu sampean tukang nglirik jawaban ulangan teman di bangku sebelah, yang penting itu sekarang ini sampean bisa menyelesaikan persoalan dengan kearifan.

Sampean bahkan boleh menghitung dengan kalkulator kalau mau ngitung utang pelanggan. Sampean ndak dilarang bukan kamus sewaktu bicara dengan klien asing. Yang penting pelanggan mau dan bisa melunasi utangnya. Beres. Begitu kan, Mas?”

“Wah, ya ndak bisa begitu Paklik. Anak-anak harus diajari yang benar sejak kecil biar setelah dewasa nanti juga bisa menyelesaikan persoalan dengan benar.”

“Oke, oke … Begini, Mas. Sebelum sampean naik darah, lebih baik sampean mendengarkan cerita saya. Mau ndak?”

“Kalau Paklik yang cerita, ya mau dong.”

“Baiklah, Mas. Ini kisah tentang Rabindranath Tagore yang berhenti sekolah pada usia 13 tahun. Kemudian ia jadi penyair. Kemudian ia jadi pemikir India paling terkemuka hingga hari ini: orang Asia pertama yang mendapatkan Hadiah Nobel untuk kesusastraan.

Pada 1924, ia berbicara kepada para guru tentang pengalaman pendidikannya itu.

“Sering aku hitung tahun-tahun yang harus kujalani sebelum aku memperoleh kemerdekaanku,” katanya ketika ia berkunjung ke Tiongkok – seolah-olah sekolah adalah sebuah penjara. Seakan-akan sekolah sebuah tempat menunut ilmu yang pengap, sebelum seorang anak boleh pergi setelah dianggap jadi.”

“Betapa inginnya saya,” kata Tagore mengenang, “untuk dapat melintasi masa 15 atau 20 tahun yang menghalang itu, dan dengan semacam sihir gaib, serta-merta jadi seorang dewasa.”

Sayang sekali, dalam kehidupan sehari-hari tak ada sihir gaib seperti itu. Ritus itu harus. Masa sekolah bahkan kewajiban dengan perintah dan undang-undang. Anak-anak boleh merasa, seperti Tagore, prosedur itu “siksaan”.

Tapi, bahkan kita pun punya pepatah “berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian….” Gatotkaca juga harus diproses di dalam Kawah Candradimuka yang mendidih sebelum jadi kesatria.

Yang jadi soal bukanlah perlu atau tidaknya bersakit-sakit dahulu. Yang jadi soal ialah bagaimana kita menghubungkan latihan hari ini untuk menghadapi hari nanti.

Dengan kata lain, jika sekolah memang dibutuhkan untuk menyiapkan anak-anak bagi hdup mereka kelak, pokok perkaranya terletak pada apa itu kelak.

“Kelak” adalah suatu masa ketika seorang anak, yang jadi dewasa, tak perlu harus menghafal rumus. Ia toh dapat dengan mudah melihatnya pada buku petunjuk. Tak perlu menghitung dengan mencongak. Ia bisa memperoleh hasilnya dengan kalkulator.

Dengan kata lain, dalam hidup sehari-hari seorang dewasa, tak ada pengertian buruk tentang nyontek untuk mendapatkan informasi.

Nyontek itu halal, bahkan dipujikan. Tolol sekali jika Anda tak memanfaatkan komputer, memubazirkan kamus, dan tak tahu apa manfaatnya ensiklopedi. Bodoh jika kita – dalam memperkaya diri dengan input – tak hendak bertanya kepada orang lain yang lebih tahu.

Karena itu, sungguh menakjubkan sebenarnya, bagaimana repotnya sekolah-sekolah kita melarang nyontek. Seakan menghafal data, menutup diri dari teknologi informasi dan menempuh jalan yang tak efisien dalam memperoleh pengetahuan itu semua termasuk “syarat” Kawah Candradimuka.

Atau, semua itu barangkali perlu untuk meneguhkan status guru, dan sekolah, sebagai satu-satunya sumber. Tapi, bila demikian halnya, proses nyontek yang dilarang itu justru dipraktekkan terang-terangan: hanya kali ini sang murid nyontek dari sang pengajar, bukan dari sumber informasi yang luas terbentang di kehidupan.

Tampak sekilas, agaknya, betapa jauh akhirnya latihan di sekolah itu berjarak dari kenyataan sehari-hari. Dalam kehidupan sehari-hari, yang tak bisa disontek bukanlah informasi, yang kini disebarkan ke tiap penjuru dengan kecepatan yang mengagetkan.

Yang tak bisa disontek adalah bagaimana mengolah informasi itu, menjadi pengetahuan dan kearifan. Karena pengetahuan, dan terutama kearifan, pada tiap-tiap orang akhirnya berbeda.

Itulah “kelak” yang akan ditemui setiap anak. Itulah lanskap yang nyata, yang menyebabkan Kawah Candradimuka kita memang seperti kehilangan makna. Mungkin itu sebabnya sekolah berada dalam kritik, generasi yang dimuntahkannya selalu terasa kurang bermutu dan remaja itu sendiri membelot.

Tagore memang tak sepenuhnya benar. Sekolah bukan “siksaan” dan guru serta para orangtua bukan tiran. Anak-anak dengan senang hati toh umumnya tetap berangkat ke sana. Tapi kita, dan mereka, tahu: bukan mata pelajaran serta ruang kelas itu yang membikin mereka betah. Melainkan teman dan pertemuan.

Sebab, sekolah memang tempat tiap anak bersentuhan dengan kehidupan, tempat saling nyontek, dan tempat segala latihan yang tak ada di depan papan tulis: tempat untuk menjadi riil.

“Kita tahu,” kata Tagore pula, “anak-anak adalah mereka yang mencintai debu.”

“Wah … hebat betul ceritanya. Jadi, anak saya boleh nyontek ya, Paklik?”

Paklik Isnogud tak menjawab. Ia cuma tersenyum memamerkan kearifan dan keteduhan bak telaga yang bening.

Bagaimana menurut sampean, Ki Sanak?

§ 26 Responses to Nyontek Pecas Ndahe

  • avatar balak6 balak6 berkata:

    Kalo’ Anak sulung Ndoro agak gedean dikit dan bisa ngeblog… saya akan bingung blog Anak & Bapake kok engga’ ada beda…..

  • avatar evi evi berkata:

    saya sering ngadu pd ortu tentang tingkah anak saya yg baru 14 bulan, trs Eyang nya cuma bilang :
    “petanono klakuanmu mbiyen”

    berarti mas Jendra sering nyontek seperti bapaknya dulu kan….? *kabuur*

  • avatar bhq bhq berkata:

    Nyontek pangkal ketidakjujuran dan peng-halal-an segala cara menempuh tujuan. Mendapatkan informasi dari sumber lain itu perlu dan malah harus. Tapi yang penting adalah mengakui dari mana informasi itu didapat. Meng-klaim bahwa info itu dari dirinya padahal bukan, ya tetep saja Nyontek namanya.

  • avatar d-nial d-nial berkata:

    Boleh nyontek asal nggak ketahuan… 🙂
    Kalau ketahuan dia harus belajar tanggung jawab donk…

  • avatar galih galih berkata:

    Ada sedikit bias arti nyontek dari apa yang diceramahkan mbah isnogud. nyontek dalam arti beliau adalah dalam arti belajar dari sumber lain. tapi, jika sembarangan, nyontek akan dekat sekali dengan pembajakan, bikin malas untuk berusaha dan bekerja keras, dan akhirnya esensi belajarnya menjadi tidak ada. itulah mbah kung dan mbah isnogud kenapa nyontek yang model begini itu dilarang. jadi sang anak harus diberi pengertian dahulu, mana yang nyontek belajar dan nyontek membajak.

    *hweleh.. ketularan mbah isnogud kiyy.. abott….*

  • avatar Mbilung Mbilung berkata:

    tanya dulu sama mas sulung metoda serta alat nyonteknya. kalo ndak kreatif marahi, lantas ajari cara yang lebih efektif.

    yo wes, mbesuk anakku tak suruh belajar ke om mbilung bagaimana cara menyontek yang efektif. 😉

  • avatar Hasto Anggoro Hasto Anggoro berkata:

    Kalo cuma nyontek rumus atau kamus sih ndak papa, tapi kalo kecil-kecil sudah nyontek ide itu baru bahaya …

  • avatar Lita Lita berkata:

    Yaa… nyonteknya jangan ke teman, tapi ke referensi saja (jangan pake temen sebagai referensi juga hihihi).

    Memang kita tidak perlu tahu segalanya, cukup tahu ke mana dan bagaimana harus mencari jawaban yang tepat. Macam pakai search engine saja. Toh kita bukan ensiklopedi.

    Anak yang cerdas dan bisa diandalkan juga bukan yang hapal isi kamus, tapi mereka yang bisa dan mampu menerapkan apa yang mereka tahu. Mampu mengakui kalau mereka tidak tahu, dus mau belajar.

    Alah alah… teori banget yak. Krucil dua ini masih balita sih, pakde. Nanti kalau sudah pada sekolah (eh, si sulung sudah playgroup sih), saya tanya lagi sama pakde tips-nya 😀

  • avatar ndah ndah berkata:

    sebagai anak baik saya ga’ mau nyontek, yang ada qt kerjasama mengerjakan soal ujian
    “temen saya kerja, saya….ya nyamain aja jawabannya” hehehe

  • avatar kenny kenny berkata:

    biar aja nyontek ndoro, asal gak keterusan 😀

  • avatar bangsari bangsari berkata:

    nyontek ra nyontek bangsa ini ra maju-maju. piye jal kuwi ndoro?

  • avatar xain xain berkata:

    halah ndoro, koq apa2 slalu nanya ke paklik isnogud tho?
    =)

  • avatar Herman Saksono Herman Saksono berkata:

    ah, saya dulu juga nyontek..
    tetep pinter pinter aja.. *siul siul*
    sekarang, temen2 saya dah pada lulus..
    ndak ada yang bisa dicontek..
    huwaaa…
    kapan saya luluss…???

  • avatar venus venus berkata:

    saya perhatiin, makin lama sampeyan makin bangga dengan kepriyayian sampeyan. ada apa ini, ndoro?

  • avatar maruria maruria berkata:

    Nyontek itu awal dari korupsi lho ndoro…ati2 tuh kalo si sulung ndak segera dikasih tau apa yang bener dan apa yang ga bener, ntar keterusan korupsi. lha mau jadi apa negeri kita ke depannya?
    Ko aku jadi misah misuh to?

  • avatar maruria maruria berkata:

    Mbak venus, kalo gitu ntar ndoro bisa bikin film judulnya :
    “Ada Apa Dengan Ndoro Kakung?”.
    Saingan sama idolanya sendiri tuh…hehehehe…

  • avatar -tikabanget- -tikabanget- berkata:

    ah, saya dulu juga nyontek..
    tetep pinter pinter aja.. *siul siul*
    sekarang, temen2 saya dah pada lulus..
    ndak ada yang bisa dicontek..
    huwaaa…
    kapan saya luluss…???

    *kok tadi aku komen yang keluar namanya momon???!!!*

  • avatar hardja hardja berkata:

    baru kali ini aku nggak sependapat dengan paklik isnogud. lha kalo semua masalah dibaca dengan kacamata minus, ya jadi kegedhean dan nggladrah kayak gitu. masalahe beda, ndeloke bedo, paklik ? jare mulang bocah bedo karo mulang wong tuwo. sorry….. bosone elik

  • avatar anakperi anakperi berkata:

    mas bangsari, nyontek komenmu, ya?: “nyontek ra nyontek bangsa ini ra maju-maju”.
    Gurunya juga suruh belajar, kung… biar kalo bikin pertanyaan susah contekannya…
    Masa cuma murid yang disuruh kreatip… gurunya nek mingGU tuRU…. hehehehe….

  • avatar Paman Tyo Paman Tyo berkata:

    Kisah masa lalu. Ada seorang dosen di Salatiga. Dia usul agar ujian mahasiswa fakultas ilmu pendidikan dan fakultas teologi tak usah dijaga. Alasannya, sebagai calon guru dan sebagian lagi calon pendeta, mereka mestinya tidak akan mencontek. Lebih dari itu ya tentu saja jenis soal ujian kayak apa kan? 😀

    Ada lagi dosen ngelmu politik di Yogya. Namanya Mochtar Mas’ud. Dia selalu memberikan soal yang akan diujikan, dan ternyata terbukti. Tapi ada juga yang dapat D. 😀

    ketoke pengalaman pribadi ki? 😀

  • avatar abi_ha_ha abi_ha_ha berkata:

    ndorokakung dan ndoroputri tidak perlu khawatir, malah seharusnya bangga bahwa ndoroalit sedang melakukan protes atas sistem pendidikan kita yang menganut ‘benchmarking penerimaan’ alias murid sebagai obyek.
    Mungkin ndoroalit nyontek sambil misuhi gurunya yang ndak becus ngajar yang menyebabken ndoroalit ndak bisa njawab soal; “situ hanya mau ponten tho? saya beri situ ponten!”

  • avatar nila nila berkata:

    betul paklik is….kayaknya bukan nyonteknya yang harus dipermasalahkan…..tapi “KELAK” nya itu yg harus diberikan pengertian pada anak….

    aku pikir…nyontek itu “kreatif” kho….hehe

  • avatar nana nana berkata:

    kalo udah soal sekolah saya selalu mentok di tanya ini, sekolah ama pendidikan kenapa jadi rancu sih di indonesia? atau di otak saya aja ya?

  • avatar dendi dendi berkata:

    wah salah kaprah nih ndoro!
    nyontek di ujian itu beda dengan pake kalkulator waktu ngitung pendapatan warung atau liat kamus waktu ngomong inggris dengan turis..
    ini masalah kejujuran.. ini masalah melatih anak kecil percaya diri dengan diri sendiri.. dan berusaha mandiri..
    yo ngonolah ndoro..
    ndoro tau sendirilah..
    aku yo sering nyontek.. dulu sering kena kepruk guru karena ketauan malah..
    makanya sekarang jadi goblok nih..
    hehehe

  • avatar lenje lenje berkata:

    karena brainwash sekolah katolik dari kecil, sampe SMP saya jaga diri gak mo nyontek (walo gak nolak dicontek, soalnya kalo ternyata nilai temen jadi jelek gara2 nyontek ya salah sendiri!), dan dikatain “alim” sama temen2. sumpah, sebutan alim waktu itu rasanya menghina sekali :D.

    setelah kuliah nyontek juga emoh. percuma. lah wong jawaban boleh sama tapi dosen ngasih nilai beda, tergantung cara kita ngarang2in jawaban, hihihi… HIDUP FISIP!

  • avatar akhmad sekhu akhmad sekhu berkata:

    “Jujur insya Allah mujur” generasi sehat generasi NO NYONTEK

Tinggalkan Balasan ke galih Batalkan balasan

What’s this?

You are currently reading Nyontek Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta