Bahagia Pecas Ndahe
Februari 28, 2007 § 32 Komentar
Gara-gara menemukan berita tentang Dian “Indonesians Sweet Heart” Sastro yang dobel-dobel di dua koran — juga dua situs — itu, saya senyum-senyum sendiri sepanjang hari kemarin. Apalagi ketika saya melihat foto Dian yang ehm-ehm itu. Rasanya gimana gitu …
Teman-teman saya di pabrik bahkan sampai terheran-heran melihat saya yang tampak gembira seperti pejudi ulung yang baru saja menang jackpot. Sampai-sampai Paklik Isnogud pun penasaran dan menghampiri saya.
“Tumben sampean tersenyum terus hari ini. Ada apa, Mas? Baru dapat lotere ya? Naik gaji?” tanya Paklik sedikit curiga.
“Ah enggak, Paklik. Ndak dapet apa-apa kok.”
“Ndak dapet apa-apa, tapi kok wajahnya sumringah? Kayaknya bahagia betul. Pasti ada apa-apanya. Wah, iki mencurigakan ….”
“Hahaha … Ndak usah curiga Paklik. Saya mesem-mesem sendiri karena lagi seneng lihat foto Dian Sastro ini lo.”
“Haiyah. Lah wong cuma lihat foto saja kok sampai bisa bikin sampean bahagia. Sederhana amat,” kata Paklik masih dengan nada curiga.
“Lah saya ini memang orang yang sederhana je, Paklik. Ndak neko-neko. Hal-hal yang mungkin sepele buat orang lain, mungkin justru sangat berarti untuk saya, Paklik. Mungkin justru membuat saya malah bahagia.”
“Ah, yang bener, Mas? Memangnya hidup sampean bahagia? Apa sih sebetulnya yang membuat sampean bahagia dalam hidup ini?”
Adoh cilakak. Paklik kok mengajukan pertanyaan yang membuat saya terpaksa berpikir seribu kali sebelum menjawab. Rasanya susah betul menjawab pertanyaan Paklik. Tapi, karena saya kere yang pintar, tentu saja saya berusaha sebisa mungkin menyenangkan hati Paklik dengan segera menjawab pertanyaan itu.
“Sampean pengen tahu apakah hidup saya bahagia dan apa saja sih yang membuat saya bahagia? Begini Paklik. Sekarang yang gantian cerita ya dan sampean mendengarkan ya.”
“Oke deh, Mas.”
“Saya merasa hidup bahagia karena saya diberi Gusti Allah kesehatan. Itu yang paling penting. Karena saya sehat, saya ndak perlu merepotkan orang lain. Saya ndak perlu keluar duit untuk beli obat, bayar dokter, dan ongkos rumah sakit.
Coba kalau saya sakit. Simboke anak-anak pasti repot mesti ngurus saya. Bedes-bedes itu juga jadi keleleran karena ibunya sibuk merawat bapaknya dan ndak bisa menemani mereka membuat PR.
Saya bahagia karena saya sehat sehingga bisa bekerja mencari uang untuk memberi makan anak dan istri di rumah. Coba kalau saya sakit, siapa yang memberi mereka makan? Apa ya istri saya sendirian? Kan ndak enak juga Paklik.”
“Wah, sampean bener juga, Mas. Apa lagi yang membuat sampean bahagia dalam hidup ini?”
“Keluarga yang menyenangkan. Saya punya istri yang setia, sederhana, pinter, masakannya enak, dan bisa ngopeni anak-anak. Simboke itu juga penuh pengertian lo. Ngerti kalau saya pas lagi ndak punya duit, dia ndak minta yang aneh-aneh. Ngerti kalau saya baru pulang kerja, dia menjerang air untuk saya mandi.
Meskipun kadang-kadang simboke itu suka ngomel kalau saya pulang malam, tapi itu kan sebetulnya tanda perhatian. Coba kalau dia diam saja. Jangan-jangan kalau saya ndak pulang dia malah seneng. Kan saya juga yang repot, Paklik.
Saya juga bahagia karena punya anak-anak yang sehat, lucu, dan menggemaskan. Meskipun kadang-kadang bedes-bedes itu suka ngeselin, bikin capek hati, tapi mereka itu ngangeni juga. Saya suka trenyuh kalau menatap wajah mereka yang sedang tidur pulas. Ndak nyangka mereka sudah besar-besar.
Anak-anak itu permata hati saya. Merekalah yang membuat hidup saya jadi lebih mudah seperti sekarang ini. Seberat apa pun persoalan yang saya hadapi, sebesar apa pun masalah yang harus saya selesaikan, anak-anak membantu saya melewatinya dengan mudah.”
“Ckckck …. ” Paklik berdecak sambil geleng-geleng kepala. “Rupanya sampean ini dari golongan family man, suami yang baik dan cinta keluarga ya, Mas?”
“Siapa dulu dong, gurunya. Kan saya niru Paklik juga.”
“Halah, lambemu Mas. Terus apa lagi yang bikin sampean bahagia?”
“Nah, ini juga penting dan membuat saya bahagia, Paklik. Saya punya pekerjaan yang memang saya sukai. Pekerjaan ini membuat saya jadi seseorang yang memang saya inginkan.
Gajinya mungkin ndak seberapa. Tapi, bukan itu yang penting. Gaji, uang, memang penting, tapi bukan segalanya buat saya.”
“Ehm … Ehm ….” Paklik berdehem.
“Loh bener Paklik. Pekerjaan ini mungkin ndak membuat saya kaya raya, sugih bondo, atau berlimpah harta, tapi membuat saya tambah ilmu, pengalaman, dan kenalan. Jiwa dan batin terisi penuh. Saya melakoni pekerjaan ini dengan kesungguhan, passion. Labor of love.”
“Wuih, nggaya betul sampean nganggo boso Inggris segala …. ” kata Paklik sedikit mencibir.
“Hehehe … Nah, pekerjaan ini setidaknya membuat saya mampu memberi keluarga saya kebutuhan dasar: pangan, sandang, dan papan. Kadang-kadang ada sedikit rejeki buat hiburan, mengajak anak-anak jalan-jalan sekadar melihat pemandangan. Ini yang membuat saya bahagia, Paklik.”
“Ada lagi?”
“Terakhir, saya merasa bahagia dalam hidup ini karena punya kerabat yang rukun-rukun selalu. Mereka juga dilimpahi kesehatan dan sedikit rejeki dari Gusti Allah. Saya juga punya banyak teman yang baik, yang bersedia menolong dalam kesulitan. Bahwa ada yang ndak suka sama saya, itu urusan mereka. Bukan urusan saya.
Hidup saya ndak neko-neko. Saya sudah punya semuanya: kesehatan, keluarga, pekerjaan, sanak saudara, dan sahabat. Itu semua sudah membuat saya hidup bahagia. Apa lagi yang kurang?
Ngomong-ngomong, sampean sendiri apa ya sudah hidup bahagia, Paklik? Apa sih, yang membuat hidup sampean bahagia? Paklik … Paklik … Paklik … Lik …. Loh, malah minggat! Payah …. ”
Ya sudah, pertanyaan itu untuk sampean saja, Ki Sanak. Apakah hidup sampean sudah bahagia? Apa sih, yang membuat sampean bahagia dalam kehidupan ini?

selamat berbahagia ndoro!
wah ndoro… saya sih ndak neko2 lah, saya mah cukup bahagia dengan rss-reader saya yang setiap hari dikirimi postingannya ndoro 🙂
naek gaji ya ndoro?wah..makan2!!
dian sastro oke !! hehehe
mendapatkan apa yang saya inginkan pas saya ingin 😀
btw tumben ga ada gambar alat pancingnya. bukannya pancing itu juga instrument of happiness?
wah ndoro, di jakarta kok masih kedinginan sih?
masak mau mandi harus pake air panas? Kayak di bandung aja? Kekekeke….iku pertanda ndoro wis tuwo tenan. Wis koyo mbah-ku…:)
Bahagia memang sederhana sekaligus relatif. Disapa seseorang (tertentu) cukup untuk bisa membuat saya bahagia sepanjang hari. Tapi tidak disapa oleh orang yang lain (yang juga tertentu) juga bisa membuat saya lega.
dian sastro lagi bahagia..!!!
Family man, itu kalo berkeluarga dengan Dian Sastro. Ehm! Namanya jadi Ndoro Sastro! 😀
Saya senang jika ada rakyat saya berbahagia.
berarti tugas saya berhasil.
Selamat Ndoro Kakung 🙂
baca tulisan ini bikin saya bahagia hehehe
dian sastro bikin sehat ya, kung…? baru tau dian suka mijeti kakung…..
ada yang bilang, kebahagiaan tidak selalu ditentukan oleh materi, ndoro. tapi oleh uang 😀
loh klo kt visa dan master card itu ndoro, bahagia nek nduwe dua kartu unlimited kuwi trus ono sing gelem mbayari tagihane jee 😀
saya bahagia jika dan hanya jika melihat ndoro putri bahagia punya suami yg perhatian, penuh kasih sayang dan setia (bener setia ngga siy?!) 😉
lagi ndelok gambare dian, durung ndelok gambarku 😀
makan-makan ndoro
walah, tak pikir bahagia mari ngonangi berita dian sastro copy paste an ….
bojone loro….gawe bahagia ra kang??hehe*jo d kamplok sandal loo!!!
pokokmen sugih tanpo bondo, ndoro.. ‘sing penting cukup’ menopo ‘cukup kwi penting’?
apa hubungannya ama dian sastro sih?
emang ada potonya yang ehem2 yak?
carpe diem
Entah apa Dian Sastro merasa bahagia punya penggemar seperti Ndoro 😛
kalo punya warisan harta yang ga abis buat 14 turunan?bisa di bilang bahagia ga?
Saya hepi kalo hidup pas pasan. Pas butuh pas ada. Weess..paassss tenan…..
self contemplate ndoro??
CLOSING COMMENT [sementara]: bahagia — kata itu bagus tapi aneh. sungguh susah merumuskannya. tiap orang punya ukuran masing-masing. buat saya, bahagia itu proses. buat sampean mungkin berbeda. sekali-sekali kita berbeda tak apa-apa bukan? terima kasih untuk semua komentar atas posting ini.
kebahagiaan bermula dari kita sendiri
bahagiaaaaaaa dimulai dari kita sendiri
aku bahagia membaca ndoro bahagia, ah senangnya membaca posting diatas. I’m truly happy for you ndoro. Wish you and family, friends always have health and wealth along the journey 🙂
wah…wah…
bapaknya bedes ternyata bahagia biarpun si bedes sering buat kesel
=))
(bercanda bos)