Mercy Pecas Ndahe

Maret 13, 2007 § 23 Komentar

Apa lagi yang bisa kita katakan selain tragedi, ketika seorang ibu bunuh diri bersama empat anaknya?

Tersebutlah Mercy, bukan merek mobil, melainkan ibu berusia 35 tahun, warga Lowokwaru, Malang, Jawa Timur.

Tak tahan hidup menderita dalam belitan ekonomi pas-pasan, Mercy nekat mengakhiri hidup bersama empat anaknya yang masih kecil, yang tertua umur 11 tahun dan termuda 1,5 tahun.

Kita pun tersentak, kaget. Begitukah sulitnya kehidupan sampai seorang ibu hanya melihat satu jalan, mati bersama empat anaknya?

Paklik Isnogud termangu ketika saya menceritakan kisah Mercy itu. Berkali-kali ia menarik napas panjang dan mengembuskannya kuat-kuat sebelum akhirnya ia berkata perlahan, setengah berbisik.

“Seorang ibu, seorang perempuan … orang-orang yang menanggung beban.”

Saya diam menunggu kelanjutan kata-kata Paklik.

“Saya punya cerita tentang seorang ibu, Mas. Sampean mau mendengarnya?”

Saya mengangguk.

“Syahdan, seorang wanita yang keras hati pada suatu hari menulis, ‘Semalam, setetes hidup telah terlepas dari ketiadaan.’

Sebuah nyawa memang mendarat di perutnya. Ia hamil. Tapi ia risau. Benih itu adalah benih tak sah dari seorang lelaki yang tak begitu mendapat tempat di hatinya. Haruskah ia kembalikan nyawa itu ke ketiadaan, ataukah ia akan hadirkan ia di bumi? Ia pilih yang terakhir.

Tapi kandungan itu begitu lemah, tubuhnya secara medis harus diistirahatkan untuk memungkinkan si bayi selamat. Beberapa hari ia patuh. Tapi ia wanita yang keras dan aktif dan harus bekerja untuk karirnya, sebagai wartawan.

‘Dua minggu yang tak bergerak di tempat tidur sungguh berlebihan bagiku,’ tulisnya kemudian. Ia seperti memrotes bahwa wanita harus jadi larva, untuk bayinya, maka ia pun mulai kembali bekerja kembali, bepergian kembali.

Dan bayi di perut itu pun mati.

Cerita ini mungkin akan jadi beres seandainya wanita keras itu pun bisa diam. Tapi ia kemudian ternyata menulis, sebuku penuh, kepada bayinya yang gagal: Surat Kepada Seorang Anak Yang Tak Pernah Lahir.

‘Ulurkanlah tanganmu kepadaku,’ kalimatnya bicara. ‘Lihat, kini kau yang memimpinku, membimbingku. Tapi memang kau bukan sebutir telur, kau bukan ikan yang kecil: kau seorang anak! Kau telah tinggi sampai ke lututku. Bukan, malah ke hatiku … ‘

Sentimental. Betapa aneh. Wanita itu adalah Oriana Fallaci, jurnalis yang pernah melemparkan mikrofon ke muka Muhammad Ali, dalam suatu wawancara yang meradang.

Seorang ibu pada akhirnya memang menanggung beban, ketika ia bisa memilih antara melahirkan atau tidak melahirkan. Ada kemerdekaan, tapi juga kesendirian dan rasa bersalah yang dalam.

Saya ndak tahu Mas, apakah Mercy yang sampean ceritakan itu juga menanggung rasa bersalah yang dalam.”

Kami sama-sama diam. Di luar, angin menerbangkan dahan di tingkap merapuh. Pertanda apa ini, Ki Sanak? Dunia yang semakin tua?

§ 23 Responses to Mercy Pecas Ndahe

  • anonymous berkata:

    Hampir mirip spt yg dilakukan Anik Koriah (lulusan Planologi ITB) Juni 2006 silam…
    Semoga saya termasuk dlm golongan wanita yg “kuat”….

  • juragan hik berkata:

    Di Gunung Kidul, dua tahun lalu seorang ibu juga mencoba hal yang sama, membawa anaknya bersama-sama menenggak racun, beruntung bisa diselamatkan, dan sang ibu harus berurusan dengan polisi. Saat itu orang hanya melihat sang ibu keterlaluan, tapi persoalan yang sebenarnya tak terbaca, bahwa mereka juga menjadi korban kekerasan, mulai kekerasan sosial, ekonomi, hingga psikologi.

  • arifkurniawan berkata:

    Dulu juga ada, mamanya nak jalanan. bunuh diri. Nabrakin diri ke angkot yang melaju antara Kampung Rambutan- Depok. Ia meninggal dengan kepala pecah. Otaknya berhamburan di tanah.

    Esoknya, anak-anaknya menjadi penghuni rumah singgah yang kami kelola. Pedih, ngeliatnya.

  • Hedi berkata:

    Sebuah “drama” yang memang sangat nista, ketika sebuah kematian adalah penyeimbang dari ketidakmampuan (ekonomi) šŸ˜¦

  • mathematicse berkata:

    Salam kenal saja. Ceritanya menarik-narik… hehe..

    Ijin ya, blognya saya taut.

    Terimakasih.

  • balak6 berkata:

    sedih banget,… teringat gimana kalau wanita itu adalah orang terdekat kita???
    salam manis buat ibu, istri & anak….

  • mbah atemo berkata:

    “Saya ndak tahu Mas, apakah Mercy yang sampean ceritakan itu juga menanggung rasa bersalah yang dalam.ā€

    mas ndoro, mercy pasti memiliki argumentasi dari keputusan mengatasi krisis hidup yg di-dapat-dan-alam-i-nya.. kehidupan lain yg (barangkali/mungkin) lebih membahagiakan..
    halah, sakjane ora ilok ngomong begitu sama ndoro..

  • abi_ha_ha berkata:

    Penyebabnya semua ekonomi ndoro…
    Juga kehabisan harapan. Kira-kira siapa yang seharusnya memberi harapan ya ndoro?
    Pemerintah lagi?

  • pitik berkata:

    mungkinkah kematian bisa menyelamatkan bahkan membahagiakan mereka?…ah..mungkin saja…

  • mei berkata:

    kang, ralat!!!aku pikir bukan karena masalah ekonomi. Mercy ini punya 3 anak yang bersekolah di sekolah internasional yang notabene pasti mahal. mungkin masalah yang lain…yang jelas, aku sangat menyesalkan tindakan yang dia ambil….ga seharusnya bukan!!!mengutib kata mas hedi, apapun masalahnya..tindakan bunuhdiri itu bodoh…bukan bermaksud tidak simpati, hanya miris dan nger…

  • hanny berkata:

    di satu sisi ada orang-orang yang mati-matian untuk bertahan hidup, di sisi lain ada orang-orang yang mati-matian berkeinginan mengakhiri hidup …

  • kaipang kulon berkata:

    Berjuang menghidupi harapan. Tak boleh mati, karena dia dian hidup. KepadaNya aku menyembah dan kepadaNya meminta pertolongan.

  • nana berkata:

    tikungan yang semakin mengejutkan. dulunya tak terhampiri? atau?

  • seorang ibu berkata:

    “anak adalah nyawa bagi ibu”

    sewaktu ia merasa bahwa ia tdk mampu lagi utk menyelamatkan nyawanya dan memutuskan utk mengakhirinya, maka iapun membawa serta anak2nya.
    mungkin itulah yang ada dalam benak mercy saat itu.

    selayaknya seorang ibu memang hrs bisa berjuang mempertahankan nyawanya, dan itu termasuk anak2nya.

  • -tikabanget- berkata:

    saya tau rasanya..

  • maruria berkata:

    Betapa semakin tua dunia, semakin sulit untuk membeli makan, apalagi untuk pendidikan anak.
    Seandainya Mercy lebih dekat kepada Tuhan, mungkin akan berbeda ceritanya. Seandainya dia sadar bahwa anak adalah titipan Tuhan yang tak boleh diperlakukan seenaknya, mungkin akan berbeda ceritanya.
    Seandainya ada orang lain yang bisa diajak berbagi kesulitan, mungkin tak perlu berakhir begini.
    Seandainya..ah..

  • anonymous berkata:

    ehm Maruria (kakak kelas saya), maaf saya ingin menanggapi komen anda “Seandainya Mercy lebih dekat kepada Tuhan, mungkin akan berbeda ceritanya”
    Hanya Tuhan yg mampu menilai seberapa dekat umatnya dengan Dia, bukan anda šŸ™‚ .. buat referensi coba baca kasus pembunuhan yg dilakukan Anik Koriah (Jilbaber) yg membunuh ketiga anaknya Juni’06 silam šŸ˜‰

    Dengan Hormat,
    alumnus IPB’37

  • Fany berkata:

    *miris.. prihatin*

  • Ndoro Kakung berkata:

    CLOSING COMMENT [sementara]: sorga mestinya ada di bawah telapak kaki ibu. apa pun yang pernah dikerjakannya semasa hidup. tapi, seorang ibu juga manusia yang bisa berbuat salah. tugas kita, saya kira, mengenang hal-hal yang baik saja dari seorang ibu.

  • ivan kresna berkata:

    ya Tuhan ampunilah dosa2 nya.
    semoga anak2 yg masih polos itu Kau beri tempat disisiMu.
    Biarlah kami2 ini tetap mempunyai harapan dan semangat hidup.

  • Retty berkata:

    Kehidupan adalah jalan yang selalu penuh dengan pilihan-pilihan. Sayangnya seringkali kebimbangan dalam mengambil keputusan tidak dibarengi kepasrahan pada perlindungan Allah. Menjadi dewasa katanya adalah siap menjalani resiko pilihan pribadi itu, tapi diperjalanan tetap saja keletihan membuat kita perlu bersandar juga!

    Permisi ndoro, senang berkenalan…persoalan kadang-kadang memang bikin kepala mau pecah ya…

  • someone berkata:

    disaat aku merindukan seorang anak….empat nyawa melayang bukan karena keinginananya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Mercy Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: