Schmutzer Pecas Ndahe

Maret 22, 2007 § 14 Komentar

Birokrasi cenderung mengabaikan perawatan. Di tangan para birokrat, sebuah gagasan bagus berjalan menuju kehancuran.

Saya beroleh kesan itu setelah jalan-jalan melihat Pusat Primata Schmutzer di tengah Kebun Binatang Ragunan, Jakarta Selatan, kemarin siang.

Pusat primata itu digagas oleh mendiang Nyonya Pauline “Puck” Schmutzer — seorang pecinta satwa. Ia ingin menunjukkan sebuah contoh kepedulian manusia terhadap satwa dengan nuansa taman margasatwa. Ia berharap gagasannya membantu masyarakat Indonesia agar lebih menghargai dan peduli pada keindahan satwa Indonesia — sebuah ide dan cita-cita besar.

“Animals have never let me down.” — Puck Schmutzer (1924 – 1998)

Begitulah. Fasilitas satwa itu akhirnya dibangun dan diresmikan pada 2002, menghabiskan biaya sekitar Rp 44 miliar. Berdiri di atas areal seluas hampir 14 hektare, pusat primata ini terbesar di dunia.

Sayang sekali, setelah pemerintah Jakarta mengambil alih pengelolaan kawasan itu dari tangan Yayasan Gibbon pada Mei 2006, gagasan itu berubah drastis.

Tempat itu kini tampak tak terurus lagi. Semak berubah menjadi belukar. Kandang menjadi gudang. Satwa sekadar jadi binatang peliharaaan.

Anak-anak sekolah memang masih bisa melihat-lihat gorila, orangutan, simpanse, wau wau, dan aneka primata lain di sana. Tapi, tak ada lagi passion. Mungkin saya salah. Siapa yang tahu?

Kesan tak terurusnya langsung terlihat begitu pengunjung memasuki gerbang. Persis di depan pintu masuk, ada kran air yang [dulunya] bisa langsung diminum.

Tapi, kalau diperhatikan, tempat air minum itu sudah sangat tak memadai lagi. Ada tambalan papan kayu berlumut. Begitu ditekan, air yang keluar keruh seperti air deterjen. Sampean pasti jijik melihatnya. Dijamin sakit perut deh, jika sampean berani meminum airnya.

Masuk sedikit ke dalamnya, kesan tak terurus semakin nyata terlihat. Di pulau tempat empat gorila berada, misalnya, semak-semak menjadi belukar. Pohon-pohon rimbun. Ranting dan daun-daunnya menjuntai tak keruan.

Pengunjung harus susah payah bila ingin melihat gorila-gorila yang sedang ngadem di bawah. Mestinya, ranting, dan daun itu dipotong sedikit, dirapikan, agar pengunjung tak kehilangan pemandangan. Entah kenapa tak ada seorang pun yang merasa perlu merapikan pepohonan yang mulai lebat itu.

Petugas pembersih malas? Pengelola Ragunan tak punya dana kebersihan? Mungkin. Tapi saya bisa menduga memang itu penyebabnya.

Semakin saya masuk ke dalam areal pusat primata itu, kesan tak terurus makin terlihat. Ada fasilitas rumah di atas pohon lengkap dengan canopy trail [jembatan gantung antarpohon] yang sekarang tak boleh dipakai lagi. Pintunya dirantai dan digembok.

Saya menduga rumah pohon itu memang sudah tak aman lagi dinaiki. Tangga kayunya lapuk. Ikatannya mengendor, baut-bautnya berkarat di sana-sini. Tali-talinya getas dihajar panas dan hujan. Sesekali terdengar bunyi berderit setiap kali angin menggoyang tangga. Mengerikan.

Di jantung areal Schmutzer ada sebuah tempat yang dulunya menjadi semacam kantin atau restoran. Konon, ini tempat favorit Gubernur Sutiyoso makan siang. Tamu-tamu Yayasan Gibbon kabarnya juga menyukai tempat ini untuk istirahat setelah lelah mengelilingi kawasan.

Berada di pinggir sebuah danau, di bawah lindungan pepohonan yang teduh, kantin itu sekarang menjelma menjadi bangunan reyot. Debu dan sarang laba-laba menempel di sana-sini. Meja dan kursi berantakan, sebagian patah. Langit-langitnya lapuk dan bocor. Saya melihat ada sebuah kipas angin yang sudah berubah warna, dari putih gading menjadi kelabu — tanda lama tak dibersihkan. Sungguh mengenaskan.

Setelah hampir setengah hari menyusuri areal Schmutzer, saya sampai di ujung pintu keluar. Satu kesan yang saya peroleh: tempat yang [dulunya] bagus itu pelan tapi pasti sedang menuju kehancuran bila dibiarkan tak terurus.

Birokrasi yang ruwet, dana yang minim, aparat yang acuh tak acuh ikut berperan membuyarkan sebuah impian besar yang dulu digagas Puck Schmutzer.

Saya khawatir anak-anak saya di rumah kelak tak bisa menyaksikan lagi primata di sana. Saya takut mereka kehilangan kesempatan belajar dan mengenal lebih dekat satwa Indonesia.

Adakah yang sampean bisa lakukan untuk menyelamatkan tempat itu, Ki Sanak?

§ 14 Responses to Schmutzer Pecas Ndahe

  • avatar balak6 balak6 berkata:

    Ngomong-ngomong kesono-nya bareng siapa ..Ndoro???

  • avatar rudy rudy berkata:

    salah satu sebab orang indonesia malas untuk berkreasi, ogah-ogahan berkarya. tidak pernah di hargai oleh pemerintah, oleh aparat.
    ABCD..

  • avatar gandrik gandrik berkata:

    itulah Indonesia… mau nyumbang, malah ntar dikorupsi, di demo percuma, mendingan pengelolaannya dibalikin ke Gibbon saja. Ngurusin munyuk aja nggak becus, apalagi disuruh ngurus negara…, mungkin Indonesia akan lebih baik kalo birokratnya diganti munyuk semua…

  • avatar bangsari bangsari berkata:

    manusia aja ngga diurus, apalagi primata. cen telo indonesia iki…

  • avatar Herman Saksono Herman Saksono berkata:

    Lha… taplaknya kecil, tapi mejanya tambah besar

  • avatar kemplung kemplung berkata:

    masa sih, mbah?

    kayaknya aku baru saja dari situ (kira2 3 tahun silam), dulu tak pikir karena satu tempat sama ragunan pasti elek, eh ternyata bagus, masuknya aja waktu itu udah lumayan mahal untuk ukuran liat2 orang utan. Ternyata kesanku waktu itu, tempatnya bagusss, betul tuh tentang air muncrat, bisa langsung diminum; jarang banget kan tempat koyok ngono.

    Masa sekarang wes koyok ngono, mbah ??

    Ya opo carane ben iso nyelamatin orang utan iku, mbah? mohon petunjuk.

  • avatar ndahmaldiniwati ndahmaldiniwati berkata:

    “Saya beroleh kesan itu setelah jalan-jalan…”
    Jalan2 ma mpo’ Siti ya, koq jadi logat melayu gitu 😀

  • avatar mei mei berkata:

    terakhir kesana sekitar 3 bulan yang lalu, karena kami naik motor berarti masuknya dari gerbang belakang yang masuk langsung ketemu sama hewan yang namanya jerapah.

    untuk kesan tidak terurus, aku malah melihatnya di bagian buaya mas…lha itu khan tempat buaya gedhe2 banget, tapi gak ada pengmanan sedikitpun, andaikan ada anak kecil jatuh bisa langsung d caplok itu…pagar2 yang bolong2 dan memang ada beberapa tempat juga yang jorse, terutama danaunya…

    sayang yo…

  • avatar kemplung kemplung berkata:

    mbak mei,

    kalo itu sih kebun binatang reguler nya.. emang udah begitu sejak jaman bung karno. yang diomongin ini tempat khusus orang2 utan yang mirip kita itu lhoo.

  • avatar yusuf alam yusuf alam berkata:

    memang secara genetik gorila itu 98% gennya adalah gen manusia… simpanse 96% gennya adalah gen manusia.. sehingga wajar manusia merasa dekat dengan mereka… tapi ngomong-ngomong… ndoro paling mirip dengan yang mana he he he
    birokrasi di negara kita sudah amat-amat parah sekali… tidak tahu saya bagaimana mengatasi masalah yang demikian parah itu… cuman bisa berdoa aza..

  • avatar abi_ha_ha abi_ha_ha berkata:

    Biar rame, diisi primata-primata tukang tidur yang mengisi gedung BH/Bra-Hijau itu aja tho Ndoro…
    Pasti ramai para peminta dan pengawal proyek datang berkunjung. Karcisnya buat makan Gorilla. (itu juga kalo ndak di’emplok para tukang tidur itu)

  • avatar mbah atemo mbah atemo berkata:

    ‘penyelamatan’ konservasi itu sebaiknya dimulai dari mas ndoro aja.. pasti nanti yg laen pada nyusul..

  • avatar fadli fadli berkata:

    saya orang bandung dikirain pusat primata bagus ternyata….

  • avatar Wisata Indonesia Wisata Indonesia berkata:

    Wah , sayang sekali ya, saya pernah kesana, memang ada beberapa tempat yang sepertinya tidak terurus.
    Memang harus didasarkan oleh kecintaan, kalau tidak seperti inilah hasilnya.

    Salam kenal Ndoro

Tinggalkan Balasan ke mbah atemo Batalkan balasan

What’s this?

You are currently reading Schmutzer Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta