Gedebog Pecas Ndahe

Maret 25, 2007 § 17 Komentar

Pria dan wanita memang beda. Bukan lebih baik atau lebih buruk — hanya berbeda. Lelaki susah menemukan G-spot, perempuan seperti batang pisang.

***

Setiap ada hari libur, Paklik Isnogud mengajak saya melewatkannya dengan cara ala kadarnya. Paklik membaca buku atau mengisap tembakau lintingannya sambil menyesap kopi, saya memancing bersama bedes-bedes.

Pada prakteknya, Paklik menyela kegiatan memancing itu dengan acara tanya-jawab. Tepatnya, dia bertanya, saya dipaksa menjawab.

Ada kalanya pertanyaan Paklik tak ada jawabannya, atau minimal saya tak punya. Pertanyaannya lebih sering hanya menunjukkan kecerdasannya atau kebingungan Paklik sendiri.

Seperti Minggu ini, ketika dia membawa kami sekeluarga ke sebuah daerah yang sejuk, tenang, jauh dari keramaian. Seperti biasa, ketika kami sudah mengerjakan kesibukan masing-masing, Paklik tiba-tiba bertanya, tepatnya menggumam.

“Saya baru tahu Mas, pria dan wanita itu ternyata memang beda. Bukan lebih baik atau lebih buruk – hanya berbeda,” kata Paklik.

Mendengar pernyataannya yang sepertinya sudah sering saya dengar itu, saya jadi bertanya-tanya.

“Lah, kok sampean baru tahu? Dari dulu itu lelaki dan wanita itu beda. Lelaki kuat, wanita lemah. Mereka punya payudara, kita nggak Paklik. Saya bisa menyebutkan lebih banyak perbedaan lagi, tapi ngomong-omong kenapa sampean tiba-tiba ngomong soal itu?”

“Ah, waton. Sampean ngawur, Mas. Bukan perbedaan itu yang saya maksud. Saya memang baru merasa bahwa pria dan wanita itu memang berbeda. Bukan hanya secara fisik, melainkan juga pada cara berpikir, sikap, kemampuan ruang, dan sebagainya.”

Wah, menarik iki. Saya jadi penasaran dan ingin tahu apa lagi yang diketahui Paklik. “Maksud sampean bagaimana sih?”

“Saya sering melihat pria-pria yang doyan gonta-ganti saluran televisi, tapi ndak tahu sebenarnya ia mau nonton apa. Sebaliknya, wanita ndak keberatan nonton iklan. Bila tertekan, mendapat masalah, wong lanang ngombe arak, wong wedok mangan cokelat atau belanja.

Perempuan sering mengkritik laki-laki karena ketidakpekaan mereka, ketidakpedulian, sikap mereka yang tak hangat, tidak punya kasih sayang, ndak suka ngomong, tak punya tanggung jawab terhadap sebuah hubungan.

Setiap kali ditanya, kapan mau melamar, lelaki bilang belum siap. Nanti sajalah. Padahal, yang belum siap itu apa sih? Wanita ndak suka dibiarkan begitu saja tanpa status hubungan yang jelas.

Sampean tentu juga sering mendengar teman-teman wanita kita yang suka ngrasani suami atau pacar mereka. Mereka menyebut suami dan pacar mereka itu maunya menang sendiri, jarang minta maaf jika bersalah. Alasannya gengsi.

Para suami jarang memeluk mereka lagi mentang-mentang sudah lebih dari sepuluh tahun menikah. Padahal para istri itu butuh kehangatan, butuh kasih sayang. Para pria disebut lebih menginginkan persetubuhan daripada bercinta.

Perempuan sering heran, lelaki pintar memarkir mobil secara paralel walau tempatnya sangat sempit hanya dengan bantuan kaca spion, tapi tidak pernah mampu menemukan G-spot mereka … ”

“Wadoh. Sik, sik, Paklik … ini kok seperti curahan hati pribadi sih? Sampean baru disentil Bulik ya?”

“Ndak Mas. Saya cuma mau ngumbar rasa saja. Dengarkan lagi, Mas. Sebaliknya, lelaki mengkritik wanita tentang kemampuannya mengemudi, ketidakmampuan mereka membaca marka dan tanda lalu lintas, kurang paham peta dan arah, terlalu sering bicara ngalor-ngidul tanpa ada isinya, jarang punya inisiatif di atas ranjang — bisanya merem-melek, diam saja persis gedebog pisang …”

“Gedebog pisang? Hahaha … ”

Saya ngakak mendengar kata-kata terakhir Paklik. Meski bersifat agak-agak “khusus orang dewasa”, kata-kata Paklik kok rasanya benar adanya. Mungkin saya salah.

Ki Sanak, saya mau tanya sampean, apakah yang dikatakan Paklik itu benar atau ngawur sih?

§ 17 Responses to Gedebog Pecas Ndahe

Tinggalkan Balasan ke didats Batalkan balasan

What’s this?

You are currently reading Gedebog Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta