Kata-kata Pecas Ndahe

Maret 28, 2007 § 14 Komentar

Harga naik atau disesuaikan? Kelaparan atau kurang makan? Miskin atau pra sejahtera?

Mengapa ada masanya ketika orang lebih suka menghaluskan-haluskan bahasa — bahkan hingga sekarang?

Paklik Isnogud cuma tersenyum ketika saya memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan itu.

“Karena kata-kata juga punya sejarah, Mas,” kata Paklik singkat.

“Maksudnya?”

“Ambil saja contoh. Pada mulanya adalah ‘pelacur’. Kemudian ‘wanita P’. Lalu, ‘WTS’. Dan, sekarang kita menyebutnya pekerja seks komersial.

Atau pada mulanya adalah ‘tuli’. Kemudian, ‘tuna-rungu’,” kata Paklik.

“Mengapa bisa begitu, Paklik?”

“Setiap bahasa punya eufimisme atau kata pelembutnya sendiri. Kita sering merasa tersodok oleh sebuah kata, kita sering gentar oleh realitas.

Tuan-tuan dan nyonya-nyonya yang terhormat merasa tak tahan tersentuh najis yang berkaitan dengan perempuan yang berzinah untuk dapat uang. Bagi mereka, sebutan perempuan itu pun jadi menjijikkan pula. Lalu kata “pelacur” pun mendapatkan eufimismenya. Tuan-tuan dan nyonya itu ingin mengelak.

Tapi sampai seberapa jauh? Baik disebut “pelacur” ataupun “wanita P”, realitas yang dikatakan itu tak berubah. Juga tak berubah persepsi kita. Lama-lama, kata pelembut “wanita P” itu pun menjadi tak cukup lembut lagi. Kata pelembut lain ditemukan.

Namun, kata “pekerja seks komersial” juga bukan air wangi bidadari yang mencuci lebih bersih. Realitas di sana itu tak kunjung luntur.

Mungkin pada akhirnya kita memang perlu menyadari bahwa eufimisme punya batas. Pada dasarnya memang kata bukan cuma tempat berlindung dari dunia yang keras.

Nenek moyang kita, ketika menyebut macan di hutan dengan “kiai”, mereka menginginkan keselamatan. Tapi sungguh meragukan adakah kita kini dapat tinggal di gua misterius tapi aman itu dalam kerajaan verbal kita.

Orang modern harus hidup antara lain dengan bahasa matematika dan, bahasa hukum. Diperlukan arti yang persis. Macan yang tak disebut “macan” bisa menimbulkan kekacauan.

Itu tak berarti eufimisme tak kita perlukan lagi. Pergantian antara “buta” dengan “tuna netra” memang nampaknya sekedar sunglapan verbal yang sia-sia, dan mungkin hanya cocok untuk selera orang Jawa. Namun, setidaknya kita memperoleh tambahan sinonim, suatu kemungkinan baru dalam variasi.

Mochtar Lubis, dalam Kongres Bahasa Indonesia ke-III, mengecam terjadinya “erosi makna” dalam bahasa kita. Ia pada hakikatnya menyerang kecenderungan eufimisme dewasa ini: orang misalnya mencoba menutup-nutupi realitas penjara dengan kata “lembaga pemasyarakatan “.

Tapi jika kita tahu bahwa eufimisme punya batas, kita tak usah cemas kepada kebohongan. Yang lebih mencemaskan ialah bila sebagian besar kata terlepas dari diri kita, menjadi sesuatu yang hanya kita ulang, sesuatu yang berjalan-jalan di mulut kita, dan keluar begitu saja tanpa akar.

Pada saat itulah, kata seorang kritikus sastra yang menulis Language & Silence, George Steiner, “bahasa bukan lagi sebuah avontur”.

Bahasa yang dipergunakan tanpa mempertaruhkan diri, bahasa yang hanya merupakan langkah yang sudah terduga, bahasa yang otomatis, bukan saja mencerminkan kebekuan fikiran dan hati. Ia juga menyebarkan kebekuan itu.

Kita akan beruntung jika kita punya sejumlah penyair yang — seperti laimnya — sanggup mencairkan es batu itu. Tapi kita juga akan beruntung jika pada kita tersedia keberanian untuk ditanya.

Dengan pertanyaan kita bisa kembali menyadari sejarah kata-kata kita. Dari mana kita memperolehnya? Mengapa “pelacur” kita sebut “pekerja seks komersial”? Adakah pekerja seks yang tak komersial? Mengapa “ditahan” kita sebut “diamankan”?

Jawabannya mungkin bisa menerangi banyak hal. Sebutan “wanita tuna susila” mungkin akan memperlihatkan betapa sewenang-wenangnya kita terhadap mereka. Kata “diamankan” untuk pengertian “ditahan” barangkali akan menunjukkan betapa tidak amannya alam di luar tahanan.

Ini ada satu lagi. Kata “isu” (asal katanya: issue) kini sinonim dengan “desas-desus” atau “fitnah”, mungkin karena kita hanya ingin sebuah dunia yang sepi tenteram tanpa lontaran masalah-masalah ke tengah publik.

Menarik, bukan, bagaimana kita tak mudah untuk sembunyi, Mas?”

“He-eh. Iya ya. Sampean kok pinter sih, Paklik?”

§ 14 Responses to Kata-kata Pecas Ndahe

  • avatar balak6 balak6 berkata:

    berasa duduk di bangku kelas…
    guruku lg ngajar sastra bahasa indonesia
    *berharap, besok pelajaran yg lain*

  • avatar singgih singgih berkata:

    Khusus bab PSK, lha nek mereka terus buat serikat pekerja gimana jal ?

  • avatar bootdir bootdir berkata:

    Harus munafik untuk jadi sopan, Ndoro?

  • avatar mei mei berkata:

    kalau misuh2 ada bahasa penghalusnya ga mas??

  • avatar cah_jogja cah_jogja berkata:

    wah….baca blog nya ndoro
    jadi inget peristiwa tadi di sekolah …

    ada temen ku yang nama nya lala..udah 3 minggu ga pernah berangkat sekolah…
    jadi tmn2 pada nanya: “lala kemana ya?”

    “kawin…paling?”, ku jawab

    trus pak guru ku bilang gini:”husssttt … nikah, bukan kawin?”

    “lha pak guru, emang kalo nikah ga kawin tah? sama tho … nikah yo jebule juga kawin?”, kataku.

    “kawin itu ndak bener, yang bener tuh nikah! kawin sama nikah itu beda!”, jawab pak guru

    walah … coba bayangin…emang aturan nya sapa … berhak nentuin mana yang bener dan mana yang ndak bener, kawin ato nikah apa bedanya coba?

    “UU No.1 tahun 1974 itu UU Perkawinan pak guru? bukan UU Pernikahan … jadi kalo pak guru bersikeras kawin ama nikah itu beda…maka bisa diambil kesimpulan bahwa sebenarnya Indonesia tercinta ini ndak punya UU yang mengatur ttg pernikahan, artinya kalo mau kumpul kebo kayak “steve dan andy soraya” itu sah aja pak guru? wong ndak ada yang ngatur kok?”

    “iya tho temen2?”

  • avatar venus venus berkata:

    diamankan = ditahan
    dijemput = ditangkap dengan paksaan ( mungkin dengan sedikit kekerasan)

    ah, kita semua kan udah terbiasa dengan bahasa yg diperhalus kyk gini, Ndoro.

    OOT : saya gak ikut ke puncak 😦

  • avatar Evy Evy berkata:

    Pekerja Seks Komersial, emange ada yang pekerja seks gratisan ngono pooo ndorkung…?

  • avatar unai unai berkata:

    besok kelas menggambaryah ndoro…saya duduk paling depan…ehehhe

  • avatar mbah atemo mbah atemo berkata:

    1 + 1 = 21; kata + …….. = abu-abu

  • avatar dik dik berkata:

    itu namanya jembet ndoro, gak terus terang.

  • avatar bee bee berkata:

    Istilah “Pekerja Seks Komersial” (PSK) tentu menuntut adanya istilah “Pekerja Seks Non Komersial” atau “Pekerja Seks Gratisan” (PSG). Ah, sapa bilang itu gak ada? Temen2 mahasiswa nyebutnya cewek ‘plat kuning’ alias PSG itu. Gak sadar ya, aktifitas ‘free sex’ udah sedemikian permisif di Indonesia. Hohohoho… 😀

  • avatar -tikabanget- -tikabanget- berkata:

    “He-eh. Iya ya. Sampean kok pinter sih, Paklik?”

    sayaa… sayaaa…!!
    saya juga mau dibilang pintaaarr…
    *ngarep..*

  • avatar mathematicse mathematicse berkata:

    Enak banget baca tulisan ini. Serasa gmn gitu…

    Mungkin karena pake kata-kata yang mulanya bergaya bahasa eufimisme ya…? Makanya terasa lembut, enak dibaca, and, ga bosan.

    Postingannya bagus…

  • avatar roy trick roy trick berkata:

    blognya bagus,,, mksh…

Tinggalkan Balasan ke bootdir Batalkan balasan

What’s this?

You are currently reading Kata-kata Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta