Kebaya Pecas Ndahe

April 20, 2007 § 14 Komentar

Ini kerepotan tahunan yang selalu dihadapi orangtua untuk anak-anaknya: mencari tempat penyewaan pakaian tradisional dan salon untuk acara Kartinian di sekolahnya.

Halah, ribet tenan.

Karena, salon-salon biasanya mendadak kebanjiran order. Koleksi terbatas, permintaan melebihi kapasitas. Terpaksa para orangtua pontang-panting berburu busana tradisional. Kerepotan kian bertambah karena bedes-bedes itu kan pasti perlu dandan juga. Yang perempuan harus disanggul pula. Haiyah.

Sampean tentu pernah, atau juga sedang, mengalami kerepotan yang sama. Yang masih lajang mungkin pernah mengalami, dulu.

Saya jadi bertanya-tanya, kenapa peringatan Hari Kartini harus identik dengan busana tradisional? Apakah karena Ibu Kartini itu digambarkan selalu pakai kebaya dan sanggul? Benarkah Bu Kartini ndak pernah pakai daster, misalnya? Bukankah dia juga manusia biasa yang boleh gerah kalau kepanasan dan cukup pakai daster saja? Memangnya pakai daster itu mengurangi derajat seorang perempuan ya?

Aha, dulu daster mungkin belum ada. Lalu, mereka pakai apa ya kalau kepanasan? Kemben? Pernahkah kita melihat Kartini cuma pakai kemben?

Sayang, buku-buku sejarah kita juga tak pernah menyebutkan bagaimana gaya dandan Kartini di masa lalu. Apakah dia selalu menyanggul rambut tiap hari? Foto-foto Kartini dengan gaya rambut terurai pun ndak pernah kita temukan kan? Mungkin ada, tapi saya tak pernah lihat. Sampean?

Karena itu, Ki Sanak, saya mau bertanya ke sampean semua, terutama yang berjenis kelamin perempuan, masihkah sampean pakai kebaya, kecuali kalau mau kondangan? Benarkah nilai seorang perempuan ditentukan oleh busananya? Apa iya busana tradisional itu otomatis menaikkan harkat dan martabat seseorang?

Sampean boleh tak sepakat dengan saya lo … 😀

§ 14 Responses to Kebaya Pecas Ndahe

  • avatar kenny kenny berkata:

    terakhir pake kebaya ya pas kawinan ndoro, emang klo pake kebaya kesannya lemah lembut, lha rapet je (soko njobo, embuh njerone).
    Gak setuju klo busana tradisional menaikkan har-bat.
    Tapi nggak nyalahin jg org melihat dari penampilan (suka ditipu ama potongan luar) pdhl dlamnya hancur2 an 😀

  • avatar dewi dewi berkata:

    iyah, saya kira juga begitu,nilai seseorang salah satunya ditentukan oleh busananya, meski belum tentu hanya busana yang menentukan nilai seseorang tersebut. persoalan kebaya, tergantung dilihat dari sudut mana, pada kesempatan apa dan pantas tidaknya dikenakan, kalau hanya untuk memperingati kartinian, sangat disayangkan. kenapa pada peringatan hari perjuangan, kita justru mundur ke momen peringatan itu, bukannya bergerak maju ke hasil dari perjuangan. bingung yah ndoro? saya bingung.

    oya, untung saya tak pernah kebingungan menyewa kebaya. pertama krn saya tak pernh merayakan kartinian dnegan berkebaya atau menjadi feminin, tapi juga karena kebaya di lingkungan saya tinggal sudah seperti pakaian keseharian. untuk kondangan.. untuk sembahyangan.. 😉

  • avatar yati yati berkata:

    pengen pake tank top tapi waktu itu lom ngetren, jadinya kebaya aja. Tapi dalemannya mirip tank top kali ya…

  • avatar Ellya Ellya berkata:

    terakhir kartinian jaman SD, sik imut2nya, sik mau didandanin ribet pake sanggul, jarik dsb. sekarang? nanti dulu. emangnya mo karnaval? 😀

  • avatar pinkina pinkina berkata:

    aku gak punya baju yang feminin, apalagi kebaya Ndoro hehe, jadi yha gak pernah pakai, terakhir pakai kebaya pas karnaval kelas 6 SD… Menilai perempuan dr busananya? walahhh bahaya iki, pokok’e dont judge the book by the cover lahhh (*sok enggres) 😀

  • avatar bu guru bu guru berkata:

    kebayang repote ndoro, biyen jaman sma diwajibkan kebayaan tiap tgl 21, lah saiki kebayaan? males men ribet..

  • avatar bram bram berkata:

    slamet-slamet…slamet
    untunge dadi wong lanang.

  • avatar jeng_nink jeng_nink berkata:

    klo saya cukup hobi pake kebaya juga ndoro,,tapi pas kondangan thok.Tapi ya blum tentu yang pake kebaya tiap hari itu perilakunya “mriyayeni”

  • avatar lenje lenje berkata:

    ah, saya seneng tuh pake kebaya. asik juga kalo bisa pake kebaya yang praktis, termasuk kalo ngantor, kayak temen2 dari anak benua india yg ke mana2 masih pake sari. kalo kebayanya model kutu baru yang sudah dimodifikasi supaya udelnya gak keliatan dan gak perlu pake korset, sarungnya gak ketat (kayak wrap skirt aja), kenapa enggak?

  • avatar po po berkata:

    Kmaren + tadi pagi, ikut riweh ngeliatin ponakan yang sibuk dandan persiapan Kartini-an di sekolahan. Dia pake baju adat Padang, pake bando khas Makassar. Katanya, dapetnya itu dari salon hehehehe..
    Gag nyambung blas.

    Slamat Hari Kartini, pak Wicak 🙂

  • avatar gali gali berkata:

    kalau nguri-nguri budaya negeri sendiri kan juga tidak ada salah nya ndoro….

    terus terang aja kalau lihat orang itu
    pertama pasti dari tampak nya dulu … selanjut nya terserah anda……

    kalau misalnya datang kondongan awul-awulan rambutnya dan pake daster yang kusut…. kan orang mengira baru bangun tidur ndoro…
    kalau orang mengira itu judment ya….

    bingung lah….

    tetap semangat!!!!

  • avatar dhimas dhimas berkata:

    kebaya, atau akaian adat untuk Kartinian, nurut aku sih sebagai bentuk pendidikan bagi anak-anak. jangan sampai budaya kita tergilas modernisasi.
    Bagimana caranya menjadikan bangsa modern yg berbudaya itu lebih penting buat saya.

    “Kebaya” atau “sanggul” atau “kemben” hanyalah simbolisme gender. Kita tidak harus memakainya hanya untuk merebut predikat bermartabat. Tapi masih lebih baik pakai kebaya daripada pakai kemben moderen yg hanya segaris untuk menutup pentil susu saja.

    ‘Ajining raga ana ing busana, ajining ati ana ing lathi’

    CMIIW

  • avatar koeniel koeniel berkata:

    heran, kenapa sih selalu diperingati dengan pake kebaya atau baju daerha. Kartini itu kan diperingati karena pemikirannya yang mendukung pendidikan untuk perempuan, bukan karena kejawaannya atau kedaerahannya….

  • avatar yanti yanti berkata:

    betul.. sayang sekali kalau kartini diperingati hanya sebatas kebayanya..

    tapi di sisi lain, kalau nggak hari kartini atau menikah, kapan sih orang Indonesia pakai baju daerah? 😀
    oh sebentar lagi pasti ada yg ngeles, “ah, baju daerah kan nggak penting. ga praktis.. ga modern”

Tinggalkan Balasan ke Ellya Batalkan balasan

What’s this?

You are currently reading Kebaya Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta