Dressel Pecas Ndahe

April 23, 2007 § 21 Komentar

Saya kaget ketika membaca berita utama koran ini. Sejumlah tokoh terkenal tertipu oleh bisnis investasi oleh PT Wahana Bersama Globalindo — agen produk penanaman modal Dressel Investment Limited.

Yang bikin saya tercegang, selain karena kasus ini menyangkut uang triliunan rupiah, korbannya adalah nama-nama kondang di Indonesia. Ada Ketua DPR Agung Laksono, artis Sandy Harun, Peggy Melati Sukma, Iwan Fals, sutradara Mira Lesmana, Riri Reza, pengacara O.C. Kaligis, konglomerat Sukamdani Sahid, budayawan Goenawan Mohamad, dan banyak lagi.

Dalam hati saya bertanya-tanya, kok bisa? Bagaimana mungkin mereka masih percaya pada bisnis akal-akalan seperti Dressel itu?

Apakah karena sudah kelebihan uang? Atau karena justru ingin semakin kaya sehingga mudah tergoda iming-iming? Saya ndak tahu.

Sebagai kere, dari kelas paria, tentu saja saya juga pengen kaya. Tapi, Paklik Isnogud malah mencibir keinginan saya menjadi kaya. Ia lalu menasihati saya begini.

“Sudahlah Mas, jangan kepengin kaya! Meski Francois Guizot, cendekiawan dan ahli sejarah Prancis itu pernah berseru, “Jadilah kaya!”, ketika ia jadi menteri utama Prancis menjelang pertengahan 1800-an, sampean ndak perlu mengikuti dia.

Saya tak tahu adakah Gulzot sendiri jadi kaya raya; mungkin tidak. Ketika ia kemudian jatuh dari kedudukannya, ia kembali jadi sejarawan dan menulis buku berjilid-jilid, yang kira-kira tidak bisa laris.

Guizot agaknya memang menyuarakan masanya, dengan keyakinan. Ia berada di kancah pergolakan ketika orang-orang kaya dibutuhkan – meskipun pada saat yang sama kelas borjuis itu juga mencemaskan.”

“Kenapa mencemaskan. Kenapa pula kita ndak usah berambisi jadi kaya, Pakik?”

“Kodrat manusia bukanlah buat mencari uang, juga bukan buat jadi kaya. Manusia sebagai homo economicus hanya abstraksi dari pemikir kapitalis, atau mereka yang sinis, yang yakin bahwa manusia diciptakan haus harta. Tidak. Bukan. Aristoteles benar. Manusia bukan makhluk ekonomi, melainkan makhluk sosial.”

Saya mendelik. “Halah, Paklik ini munafik. Mentang-mentang sampean sudah kaya terus mau menceramahi saya aku dengan ajarang Mao Zedong. Sampean mau bilang bahwa ‘rangsangan materiil’ untuk bekerja buat masyarakat adalah dasar masyarakat kapitalis — yakni keserakahan! Sampean cuma mau manusia itu seperti robot pengabdi! Utopis, Paklik!”

Paklik diam sejenak. Lalu ia melanjutkan. “Saya cuma mengutip Karl Polanyi. Ia mengatakan bahwa ekonomi pasar telah menciptakan kesalahfahaman, bahwa determinisme ekonomi adalah hukum umum masyarakat manusia. Padahal motif kita, dorongan niat manusia, tak pernah semata-mata bersifat ekonomis.

Sayangnya, begitulah yang kini terjadi, Mas. Juga di RRC atau Indonesia. Sampean mau apa?”

Saya diam.

Paklik meneruskan khotbahnya yang — meski masuk akal — ndak saya sukai. “Saya terus-terang tak kepingin jadi orang kaya. Dunia membenci orang kaya. Di Mesir, Nasser katanya pernah membatasi penghasilan orang. Kalau lebih dari batas tertentu, harus diambil buat negara, yang katanya mewakili masyarakat banyak.

Apalagi di RRC di bawah Mao. Bahkan di Inggris orang kaya dipajak hebat-hebatan, sampai penyanyi laris dan bintang film dan miliuner lain lebih baik tinggal di luar negeri. Di Prancis mereka bisa tetap berduit lebih, tapi siapa tahu. Di Italia sudah ada Brigade Merah. Semua benci orang kaya. Bahkan juga William Benton.”

“Benton itu siapa, Paklik?”

“Ia seorang kaya yang mengatakan bahwa ia tidak kaya, ketika di tahun 1968 majalah Fortune menyatakannya termasuk orang terkaya di Amerika Serikat. Ia memang pemilik perusahaan yang membiayai dan menerbitkan Encyclopaedia Britannica, dan itu berarti bisnis besar.

Benton rupanya tidak suka kaya. Ia menyatakan jadi kaya di luar kehendaknya. Sejak mula ia, anak seorang profesor, sudah bertekad: akan meninggalkan dunia bisnis begitu hidupnya sudah lumayan enak. Dan betul. Ia mengundurkan diri dari usaha waktu umur 35 tahun.

“Tapi, ia tetap kaya, kan, Paklik?”

“Benar, Mas. Dan dia semakin kaya saja. Setelah berhenti dari bisnis, ia ketemu seorang kawan yang kepepet. Perusahaan kecilnya, yang membikin sepatu, perlu tambahan modal sedikit. Benton cuma mau menolong, dan mengasih $5000. Eh, dalam waktu sepuluh tahun, bagian Benton dari perusahaan itu jadi $125.000.

Waktu ia menyelamatkan Encyclopaedia Britannica dari kebangkrutan dan kemacetan, ia juga mungkin tak menyangka akan sukses. Siapa akan bisa bikin duit dari mengongkosi penerbitan ensiklopedi? Ternyata duit datang ke Benton, terus.

Akhirnya ia hidup sederhana, dan menyatakan bahwa hampir seluruh penghasilannya ia peruntukkan buat Britannica. Maka memasukkan dirinya ke dalam kelas orang kaya raya, menurut penilaiannya, bukan saja keliru, tapi tak sopan.

Mengapa sebutan kaya dianggapnya tak sopan?

Entahlah. Barangkali ia seorang Pancasilais.”

“Ah, sampean nyindir saya ya?”

“Ndak Mas. Saya cuma mau mengingatkan kebahagiaan tak hanya diukur dari jumlah uang di kantong sampean. Sampean pasti pernah dengar ucapan Ki Ageng Suryomentaram, bahwa “Rengeng-rengeng adol dhawet … ”

Artinya si penjual cendol di tepi jalan ternyata bisa berbahagia, sementara yang naik mobil itu menangis tertahan. Kekayaan, dengan kata lain, belum tentu menyebabkan … apa namanya itu … bahagia.

Tapi, sampean ndak usah khawatir meski tetap kere. Di abad yang silam di Amerika Serikat seorang yang bernama William Graham Summer mengatakan jutawan adalah ‘hasil dari seleksi alamiah.’

Ia menerapkan di dalam masalah sosial teori Darwin tentang survival of the fittest — bahwa yang paling fit yang akan bisa terus hidup. Dan dengan itu orang-orang kaya pun diterima sebagai layak, sedang yang miskin … good bye!

Kekuasaan dan kekayaan sering bukan dua hal yang mudah dipisahkan. Raja Amangkurat dari Mataram abad ke-17 melarang rakyatnya untuk berdagang, biarpun buat seketip dua ketip. Semua harus milik raja. Tapi itu dilakukannya karena ia menyadari, bahwa tanpa itu, seperti dikatakannya kepada seorang tamu Belanda, ‘aku tak akan jadi raja biarpun buat sehari’.

Kekayaan, dengan demikian, diperhitungkan punya hubungan fungsional kekuasaan. Yah, seperti Amangkurat kepada rakyatnya, Raja Inggris Henry VIII juga menghardik Gereja agar menyerahkan sebagian tanahnya buat baginda.

Betapa pun, nampaknya ada kecenderungan untuk lebih memaklumi kekayaan sebagai gabungan dari kekuasaan ketimbang kekayaan tanpa kekuasaan. Terutama, tentu saja, bila gabungan kekayaan dan kekuasaan itu punya legitimasi yang berakar kokoh.

Para bangsawan yang hidup bersenang-senang umumnya toh cuma dilihat sebagai orang-orang beruntung yang elok, eksentrik atau pun enak untuk diintip. Tapi kelas menengah, kaum borjuis itu?

Tak ayal lagi mereka bekerja keras. Tapi justru karena itu mereka nampak kurang cantik: seorang yang berkeringat dan sibuk menghitung duit memang jarang menampilkan sikap yang elegan.

Dalam tampang yang kurang elegan itulah orang-orang kaya barangkali dilihat dengan rasa kurang sreg. Terutama di suatu masyarakat, yang memandang style dengan mata yang hormat.

Dari sinilah S. Takdir Alisjahbana pernah mengemukakan teorinya tentang korupsi di Indonesia. Korupsi, kata Takdir, adalah cara yang estetik untuk menjadi kaya. ‘Estetik’, dalam arti tanpa keringat, dan karena itu elegan. Orang ingin dapat harta sebanyak-banyaknya, tapi tak nampak habis bergulat dalam pasar yang bau ikan asin atau petai.

Syahdan, lahirlah dua jenis orang kaya: yang dengan bau dan yang tidak.

Orang kaya yang meyakinkan diri sebagai ‘hasil seleksi alamiah’ sudah tentu merasa haknya untuk jadi demikian. Meskipun ia diterima dengan hati kurang sreg, ia tak punya rasa risih — barangkali hanya rasa syukur.

Di lain pihak, orang-orang kaya yang menjadi jutawan secara ‘estetik’, juga tak banyak punya rasa berdosa: bukankah mereka lebih pintar dari yang lain — dan berhasil memelihara suatu gaya?

Barangkali karena itulah kekayaan di sekitar kita nampak sebagai kekayaan yang tanpa rasa bersalah. Benar, di sana-sini, agama berpengaruh, juga rasa solidaritas tradisional, hingga kekayaan bisa juga menggelisahkan hati si kaya sendiri.

Namun, pada umumnya, para jutawan menikmati hartanya tanpa banyak peduli, dan tak teramat gentar untuk mencolok.

‘Perbedaan pendapatan di Indonesia mungkin kurang besar dibanding di India dan Pakistan,’ tulis Gustav F. Papanek ketika mencoba menjelaskan kerusuhan pada 1974 dalam bukunya The Indonesian Economy.

“Orang-orang kaya di kedua negara tersebut telah tahu menyimpan kekayaannya secara lebih halus tersembunyi.”

Barangkali karena mereka lebih munafik — atau barangkali karena mereka punya fakir dan Mahatma Gandhi.”

Tssaaah … Paklik, Paklik … 😦

§ 21 Responses to Dressel Pecas Ndahe

Tinggalkan Balasan ke Olas Novel Batalkan balasan

What’s this?

You are currently reading Dressel Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta