Golf Pecas Ndahe

April 23, 2007 § 9 Komentar

<div class=”gambar”

Ndoro Juragan Bos memberi saya perintah untuk mencari tahu kebenaran rumor bahwa seorang menteri telah mengundurkan diri. Halah, tugas kok berat betul ya? Kenapa nggak tanya soal lain sih?

Tapi, karena ini perintah, dari Ndoro Juragan Bos pula, terpaksalah saya melakukannya. Masalahnya, bagaimana caranya? Saya ini bukan siapa-siapa je. Presiden bukan, menteri bukan, pejabat pun bukan. Piye yo?

Aha, kebetulan saya punya kenalan, seorang ajudan menteri. Kenapa ndak tanya dia? Sip. Saya pun mengirimkan SMS. Biasa, taktik pancingan. Beginilah korespondensi saya dengan Mas Ajudan itu melalui SMS.

Ndoro: Mas, kabarnya Bapak mau mengundurkan diri ya?
Ajudan: Info dari mana, Mas?

Ndoro: Denger dari temen-temen. Bener nggak sih?
Ajudan: Wah, saya malah belum dengar tuh. Coba nanti saya tanyakan ke Bapak. I’ll let you know ASAP.

Ndoro: Oh gitu. Tapi kabarnya Bapak sakit jadi mau mundur?
Ajudan: Sakit? Nggak tuh. Kalau sakit kok minggu lalu main golf, dua kali malah? Sekarang saya di Palembang, menemani Bapak yang sedang mewakili RI-1. Tadi sempat golf lagi.

Ndoro: Ah, syukurlah kalau begitu. Tolong kabari kalau ada sesuatu ya, Mas.
Ajudan: Oke, Mas. Salam buat teman-teman.

Dalam hati saya bertanya-tanya. Golf? Halah, nggaya betul Pak Menteri itu. Mungkinkah di lapangan golf itu dia justru tengah mengatur ancang-ancang menghadapi reshuffle kabinet? Sebab, bukankah hanya di lapangan golf orang bebas bisik-bisik, mengatur ini dan itu. Toh orang lain, itu pun kalau ada, hanya mendengar angin yang berhembus.

Saya ndak tahu. Saya cuma tahu bahwa golf itu olahraga yang kata orang identik dengan keadilan dan politik. Dari lapangan golflah, konon, politik diatur diam-diam dan keadilan ditegakkan atau dijatuhkan.

“Ah, siapa yang bilang, Mas?” tiba-tiba saya mendengar suara bariton khas itu. Dan, saya kok rasanya kenal ya, seperti suara, haaa … Paklik Isnogud!

“Kapan pulang, Paklik? Sampean dari mana saja sih? Mana oleh-olehnya?” saya mendadak seperti mitraliur dengan magasin penuh.

Paklik tersenyum lebar. Ia menunjuk kopernya yang padat tanda banyak barang di dalamnya. “Sik, Mas. Saya istirahat dulu ya. Banyak cerita sih, tapi saya kok tertarik dengan komentar sampean tadi. Tentang golf ya?”

“Iya, Paklik. Halah, kok sampean tahu saja saya sedang geremengan sendiri?”

“Saya sebetulnya sudah dari tadi di dekat sampean. Tapi, kok kayaknya sampean sedang serius dan ngomong sendiri. Saya kira sampean sedang latihan drama, menghapal naskah. Jadi saya ndak berani mengganggu.”

“Halah, latihan opo, Paklik? Lah wong saya sedang ngrasani Pak Menteri yang gemar main golf itu?”

“Memang kenapa, Mas? Apa yang salah dengan permainan itu?”

“Ndak ada yang salah Paklik. Saya cuma heran, apakah sebabnya orang yang menggemari permainan tertentu, misalnya golf, sering kali bersembunyi-sembunyi? Kenapa pula orang-orang suka mencoba menghubungkan satu cabang olahraga dengan soal keadilan, soal politik. Benarkah ada hubungannya?”

Paklik menarik kursi lalu duduk di depan saya. Ia menyalakan rokok lintingannya.

“Saya punya cerita tentang seorang profesor ilmu ekonomi Universitas California yang pernah menulis sebuah esai. Ia, Armen A. Alchian, berbicara tentang golf, kapitalisme dan sosialisme.”

“Ck…ck…ck…Wuih, elok tenan. Pasti esai yang berat ya?” tanya saya sambil berdecak.

“Ndak juga, Mas. Tulisannya justru ringan, menurut saya. Dalam artikel yang dimuat Asia Wall Street Journal pada 25 Juli 1977 itu, ia menulis, ‘Satu teka-teki telah terpecahkan. Walaupun ada minat yang dalam kepada olahraga, di blok Sosialis-Komunis tidak ada lapangan golf.’

Sampean tahu penyebabnya, Mas?”

Saya menggeleng.

“Sebab golf bukan cuma sebuah sport, katanya. Golf juga sebuah kegiatan, sebuah gaya hidup, sebuah tingkah laku, sebuah manifestasi dari kerohanian manusia yang esensiil. Etika golf, asas-asasnya, peraturan dan prosedur permainannya sama sekali bersifat kapitalistis.

Dalam tulisannya yang dituangkan dengan ringan melayang-layang itu nampaknya ia suka akan semangat kapitalisme sebagaimana yang dibayangkannya — dan agaknya juga ia kagum pada semangat golf sebagaimana yang dibayangkannya.

‘Golf menghendaki kepercayaan pada diri sendiri,’ katanya, ‘juga sikap independen, bertanggungawab, integritas dan kepercayaan.’

Dalam golf, konon, seorang pemain adalah penciptanya sendiri. Dan juga perusaknya sendiri. Ini adalah pertandingan oleh diri sendiri dan sementara itu juga melawan diri sendiri. Tak ada kambing hitam yang bisa disalahkan. Seperti yang terdapat dalam kapitalisme, beberapa risiko dan gangguan dapat diketahui sebelumnya. Semua hal bisa diantisipasi dan dicarikan solusinya.

Bunker pasir, pohonan, rumput, air kolam, dan angin dengan cerdik menawarkan suatu usaha coba-coba — yang mungkin mendatangkan hasil atau membawa sial. Seorang pegolf tidak menang dan lebih penting lagi tidak kalah — karena sukses, atau kegagalan, orang lain.

Begitu individualistiskah golf?

Alchian mengatakan memang begitu. Tapi golf baginya hanya ‘anti-sosialis’, namun tidak anti-sosial. Seorang pegolf bersikap hormat kepada pegolf yang lain. Adatnya sangat beradab. Peraturannya juga pada dasarnya tidak sering berubah. ‘Golf itu konservatif,’ kata sang profesor ekonomi itu.

“Haiyah, saya ndak mudeng, Paklik. Maksud sampean apa sebenarnya?”

Paklik cuma tersenyum dan tak menjawab. “Ayo, Mas. Kita buka oleh-oleh buat sampean saja ya. Mau?”

Duh, duh, duh … Piye, sih? Tapi siapa yang nolak, ya ndak? 😀

Ki Sanak, mari kita lupakan saja dulu soal golf, reshuffle kabinet, dan semua bruhaha dalam hidup ini. Saya mau membuka oleh-oleh dari Paklik, hehehe … Sampean jangan ngiri ya, hakuna matata!

§ 9 Responses to Golf Pecas Ndahe

  • avatar sapto sapto berkata:

    Pertamax !!!
    sampeyan mo daftar jadi mentri ndoro?
    saya mau jadi ajudannya sajah 😛

  • avatar Blanthik Ayu Blanthik Ayu berkata:

    kalo dapet oleh2 payung golf kasihkan saya ya ndoro hihihii [payung pabriknya ndoro juga boleh “nggragas.com”]

  • avatar yati yati berkata:

    jadi….mundur ga sih?

  • avatar firman firdaus firman firdaus berkata:

    yang sakit kepala, yang diobati pantat.

  • avatar agusset agusset berkata:

    saya sudah belajar teori golf nih, mudah2an bisa segera diangkat jadi menteri, biar bisa mraktekin…

  • avatar dnial dnial berkata:

    Sejak kapan Paklik jadi pembaca pikiran?
    Atau sejak kapan Ndoro seneng ngomong sendiri?
    Gawat ini!!!
    Gawat!!!

  • avatar djokosantoso djokosantoso berkata:

    Apatis golf ceritanya ….
    saya juga gak suka banget golf, karena golf cuman buat nemenin Bapakku (baca:Bosku) ngelobi temen bisnisnya saja ….
    kadang puasapun sambil golf…. he he he

  • avatar mat sangkrah mat sangkrah berkata:

    kalo dipikir-pikir permainan golf itu permainan-e wong goblok. Piye to? Lha..bal kecil dipukul sama setik golef hanya supaya masuk lubang..itu kan kayak permainan anak-anak. Tapi apa boleh baut..wong sudah menjadi gaya hidup, jadi permainan wong goblok akhirnya malah menjadi dolanan-e wong elit, buat cari bisnis, buat ngomongin politik, bahkan buat bisik-bisik nggeser menteri anu diganti anu..sontoloyo kabeh..

  • avatar kalengkrupuk kalengkrupuk berkata:

    Ndoro kakung, nyuwun sewu, ndherek duko panjenengan, kawulo badhe nyuwun sih gunging pangaksami kagem ndherek umet-umet wonten mriki….

    Menurut saya, pendapat (mat sangkrah) yang mengatakan bahwa “permainan golf itu permainan-e wong goblok” adalah terlalu berlebihan dan terlalu sinis. Bukankah umat seluruh dunia sudah sepakat bahwa olah-raga merupakan satu bahasa universal yang bisa menyatukan seluruh umat manusia, tidak perduli suku, agama, ras maupun adat.

    Begitupun golf, esensinya adalah sebuah olah raga. Atas esensinya itu, dia berhak dimainkan oleh siapa saja. Hanya kebetulan saja kalau golf tidak menjadi cabang olimpiade.

    Dan karena sifatnya yang netral sebagai olah-raga, gold, dan juga saya yakin olah raga apapun, akan selalu dapat dijadikan kendaraan, sarana atau wahana untuk bernegosiasi. Jadi tolong, kalau tidak suka, mungkin cukup bilang tidak suka. Jangan menggoblokkan orang yang berolah raga lain.

    Saya pecinta berat sepak bola. Tapi kalau dipikir, ngapain nonton duapuluh dua orang rebutan satu butir bola? Marilah semuanya kita letakkan pada porsinya masing-masing.

    Matur sembah nuwun, ndoro kakung…. pareng… 😀

Tinggalkan Balasan ke agusset Batalkan balasan

What’s this?

You are currently reading Golf Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta