Perjanjian Pecas Ndahe

April 27, 2007 § 11 Komentar

Hari ini pemerintah Indonesia meneken perjanjian ekstradisi dengan Singapura di Bali. Inilah perjanjian yang ditunggu-tunggu banyak orang, terutama kalangan penegak hukum. Penandatanganan perjanjian ekstradisi itu menandai babak baru hubungan kedua negara.

Singapura selama ini terkesan ogah meneken perjanjian itu, sementara Indonesia ngotot. Ada yang bilang, Singapura menolak perjanjian itu karena sama saja dengan menyerahkan tikus-tikus gemuk yang selama ini hidup aman dan nyaman di apartemen-apartemen pinggiran Marina Bay, Sentosa Island, ke aparat berseragam di Gedung Bundar, Jakarta.

Ada sebab lain. Apa itu?

Karena sepertiga orang kaya di Singapura adalah orang Indonesia. Dengan aset senilai minimal Sin$ 1 juta (hampir Rp 6 miliar) per orang, mereka merupakan kelompok penekan sekaligus sapi perah yang empuk bagi pemerintahan Perdana Menteri Lee Hsien Loong.

Bayangkan, orang-orang kaya yang jumlahnya sekitar 55 ribu orang itu menguasai aset senilai Sin $260 miliar. Berapa rupiah itu? Hitung sendiri ah, pakai kalkulator … 😀

Menurut lembaga keuangan internasional Merryl Lynch dan Capgemini, sepertiga dari 55.000 ribu orang kaya di Singapura itu — atau sekitar 18 ribu — adalah warga Indonesia yang jika digabung asetnya mencapai Sin $87 miliar atau Rp 506,8 triliun. Gendeng!

Orang-orang kaya raya itu pada hari yang sama sarapan telor orak-arik dan menyeruput secangkir kopi di CJ’s, Hotel Mulia Senayan, lalu, makan siang dengan Cantonese cuisene di Summer Pavilion, Ritz-Carlton, Millenia Singapura, dan malamnya menginap di Kupu-Kupu Barong, di Ubud, Bali. Sementara, saya cuma mampu numpang koneksi Internet gratisan di Changi.

Pantaslah bila pemerintah Singapura ogah-ogahan menandatangani perjanjian ekstradisi dengan Indonesia. Sebab, siapa tahu sebagian besar dari orang kaya itu termasuk orang-orang yang harus diserahkan ke Indonesia setelah perjanjian ekstradisi diratifikasi.

Orang-orang kaya itu memberi pemasukan pajak yang tak sedikit buat negeri yang cuma seupil itu. Ini soal aset. Pajak. Dana kas. Segar pula. Ringkasnya: Uang, Ki Sanak!

“Tapi Mas, meskipun sepertiga orang kaya di Singapura adalah orang Indonesia, gambaran banyak orang Singapura tentang Indonesia adalah gambaran yang tidak sebagus sangka kita,” kata Paklik Isnogud yang duduk di sebelah saya sambil membaca koran yang sama.

“Oh ya? Bagaimana gambaran mereka, Paklik?”

“Sudah tentu ini hanya dugaan awal, rumusan atas sebuah kesan. Soalnya, pengumpulan pendapat umum dl Singapura tentang tetangganya yang besar di selatan ini memang belum pernah diadakan.

Tapi, di pertemuan-pertemuan tak resmi, dalam lelucon semi iseng, dalam gosip dan rumpian tetangga, citra mereka tentang orang Indonesia kurang-lebih begini:

Inilah orang-orang negeri melarat, yang anehnya gemar menghamburkan uang dengan mudah …

Orang Indonesia memang tercatat dalam statistik mereka sebagai pengunjung yang deras dan sekaligus konsumen yang besar di toko-toko Singapura — lebih besar ketimbang turis Australia ataupun Jepang. Orang Indonesia di Singapura itu terkenal sebagai kaum the have. Pemberi pajak terbesar.

Sementara itu, orang Singapura tahu, bahwa Indonesia bukanlah negeri yang ‘maju’. Bahkan agak jauh ketinggalan dari republik mereka yang kecil itu. “Saya sendiri tak mampu untuk berbelanja seperti orang Indonesia berbelanja,” kata seorang diplomat Singapura, seraya menyebut pendapatan per kapita ASEAN.

Syahdan, Perdana Menteri Lee Kuan Yew pernah memproyeksikan citra bangsa Singapura sebagaimana ia membentuk dirinya sendiri: warga dari masyarakat yang keras-kuat, makhluk yang tidak suka berleha-leha dan berfoya-foya, manusia yang tak merokok dan tak mau mabuk, bangsa yang bersih, suka sport dan bekerja mati-matian.

Memang, sebuah masyarakat yang puritan dan praktis tanpa humor. Tapi Lee Kuan Yew punya teori ada bangsa-bangsa yang ‘berkebudayaan intens’ dan ada yang bukan. Ada bangsa yang sukses dengan cepat di bidang ekonomi lantaran tahan merangkak dari bawah secara habis-habisan, ada bangsa yang senyum-senyum, nyanyi-nyanyi dan akhirnya gelagapan.

Jepang, Korea, Taiwan, Cina, Vietnam dan tentu saja Singapura, termasuk golongan yang pertama mereka yang dengan akar kebudayaan Cina, tergolong ‘intens’.

Indonesia jelas ‘tidak intens’. Bukankah di Bali orang main layang-layang, menyabung jago, main gamelan dan menari-nari? Bukankah di Batak A Sing Sing So tak putus-putusnya disenandungkan di lapo tuak? Bukankah di Jawa orang senyum terus menghabiskan waktu di bawah sangkar burung perkutut?

Tentu, teori semacam itu biasa ditertawakan. Ia tak melihat sejarah dengan cermat dan perbedaan-perbedaan ‘subkultur’ dalam satu wilayah kebudayaan. Seorang penulis resensi majalah The Economist malah pernah menyebut pikiran Lee Kuan Yew bagaikan sinar laser tajam, cemerlang, tapi sempit.

Teorinya tentang ‘kebudayaan intens’ bagaimana pun juga mencerminkan citra yang banyak menghinggapi orang Singapura tentang diri mereka sendiri dan tetangganya yang ‘Melayu’.

Prasangka? Apa pun namanya, ia tak mudah beranjak.

Apalagi kita sendiri seperti selalu mengukuhkannya. Lihatlah kasus harta simpanan Haji Thahir di pengadilan Singapura tempo doeloe. Lihatlah para buron, koruptor, yang ngumpet di Singapura dengan kantong penuh dan dolar-dolar di bank.

Merekalah contoh bagaimana orang Indonesia suka akan kemewahan tapi tak suka berkeringat habis-habisan. Kita mungkin cuma bisa malu bila orang Singapura bertepuk tangan untuk kekalahan kita melawan maling …”

“Maling, Paklik? Maling? Oalah … ”

Posting terkait:
>> Singapura Pecas Ndahe
>> Pasir Pecas Ndahe

§ 11 Responses to Perjanjian Pecas Ndahe

  • avatar balak6 balak6 berkata:

    ada perampok yang lari ke rumah mewah tetangga sebelah, berpagar tinggi, dikelilingi satpam sangar, sama anjing2 galak…

    sementara kita tinggal di gubuk reyot yang menyimpan harta karun.

    nasib!

  • avatar didi didi berkata:

    Orang-orang kaya raya itu pada hari yang sama sarapan telor orak-arik dan menyeruput secangkir kopi di CJ’s, Hotel Mulia Senayan, lalu, makan siang dengan Cantonese cuisene di Summer Pavilion, Ritz-Carlton, Millenia Singapura, dan malamnya menginap di Kupu-Kupu Barong, di Ubud, Bali.>>> hahahaha!!! kata siapa ndoro??? wong kalo beli beras ke pasar jodoh batam kok!!kerjanya juga jadi penadah barang bekas terus dikirim pake kontainer ke tanjung sengkuang.

  • avatar tukang ketik tukang ketik berkata:

    “Orang Indonesia memang tercatat dalam statistik mereka sebagai pengunjung yang deras dan sekaligus konsumen yang besar di toko-toko Singapura”

    Betul sekali!

  • avatar andrias ekoyuono andrias ekoyuono berkata:

    Makanya kita dukung pembangunan mal-mal premium di Indonesia seperti Senayan City, Gran Indonesia, PIM 2, dll. At least biarkan mereka belanja brand2 terkenal itu di Indonesia, bukan di Singapore !

  • avatar sapto sapto berkata:

    wew, ternyata Ndoro copy paste dari artikel yang dulu yah 😛

  • avatar marhapik marhapik berkata:

    55rb orang dibandingno karo 200 jt lebih,kita masuk yang 55rb apa yg 200jt yoooo

  • avatar firman firdaus firman firdaus berkata:

    sebel sama berita Kompas kemaren yang sok kritis: “perjanjian ekstradisi tidak efektif pulangkan koruptor” (kira-kira begitu). lah, ini jurnalisme nihilistis namanya. belum juga diteken udah bilang ga efektif…

  • avatar pudjakesuma pudjakesuma berkata:

    UUD ya ndoro.
    ujung-ujungya duid.

    kalo koruptornya dipulankan ke indonesia, singapura takut assetnya juga ikut dipulangkan.

    wehehhehee

    masalah klasik. do it

  • avatar Aris Aris berkata:

    Saya ingin mengucapkan selamat ke tim perunding perjanjian ekstradisi. Dengan perjanjian tsb setidaknya kita memiliki dasar untuk meminta Singapura mengembalikan buronan Indonesia yang lari. Sebenarnya masalah yg sesungguhnya adalah kalau buronan tsb sudah tertangkap akan kah kita sungguh2 mengadilinya? Mustinya jawabnya iya, paraktik di lapangan ? kita lihatlah …

  • walah bangsa kita memang bangsa yg ndesoo bergaya modern..banyak yg kaya tapinya uangnya haram..uang rakyat enak sekali yah dipake belanja sana sini!!! kalo pun para maling bangsa kita dipulangin..ntar juga bebas lagi berkeliaran di negara lain hehehhe kayaknya musti hukum pancung deh buat para maling negara kita itu.Biar kapok!!!

  • […] Baca juga : >> Perjanjian Pecas Ndahe […]

Tinggalkan Balasan ke firman firdaus Batalkan balasan

What’s this?

You are currently reading Perjanjian Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta