Dolly Pecas Ndahe

April 28, 2007 § 18 Komentar

Para lelaki penggemar “molimo” tampaknya harus mencari tempat nongkrong baru. Setelah Saritem Tbk. di Bandung ditutup pekan lalu, Dolly Inc. di Surabaya pun terancam gulung tikar.

Kenapa?

Saya baca di situs Earthtimes.org bahwa lumpur panas Lapindolah yang membuat Dolly, kawasan industri esek-esek terbesar Indonesia (?) itu, mulai memasuki masa-masa sulit.

Pelanggan luar kota jarang datang karena terhadang lautan lumpur. Roda bisnis pemuas syahwat itu pun terganggu.

One brothel called Wisma Ratu Kembar, or House of Twin Queens, doubles as a boarding house for 27 sex workers, who are increasingly apprehensive about their future because of an industrial accident in East Java that has affected business.

The accident occurred in May 27, 2006 when an Indonesian gas exploration company apparently hit a mud volcano while drilling in Sidoarjo, an East Java industrial town that lies 25 kilometers from Surabaya — Earthtimes.org.

Yang membuat saya ikut prihatin, bukan lantaran para pengusaha esek-esek [induk semang, germo, muncikari] itu saja yang kehilangan peluang memperoleh keuntungan dari uang sewa dan komisi anak buahnya. Para pelacurnya pun, ujung tombak sistem pemasaran langsung itu, mesti kerja semakin keras di lapangan yang kian kompetitif.

In Jarak, an area within Dolly where older sex workers ply their trade, the pain is felt harder. During good times, they compete with younger sex workers, but after the mud disaster, now there are virtually no clients for them — Earthtimes.org.

Halah-halah. Beginilah nasib wong cilik. Susah benar cari uang. Bagaimana pun, betapapun rendahnya profesi pelacur, mereka tetap manusia biasa. Mereka punya kehidupan, keluarga, mungkin juga anak-anak yang harus diberi makan.

Redupnya lampu-lampu hiburan malam di Dolly rupanya berimbas ke kocek wong cilik yang lain.

The economic downturn has also affected local pedicab drivers, restaurants, shop owners, and many others who make a living on the fringes of Dolly.

“I miss the old days when life was not so difficult, before we have this mud disaster,” said Warso, 67, a pedicab driver — Earthtimes.org.

Saya ndak heran tentu saja. Seperti laiknya bisnis hiburan lainnya, Dolly juga memiliki tricle down effect. Bukan hanya para germo, muncikari, dan pelacur yang memperoleh rejeki dari bisnis itu. Ada banyak orang yang juga ikut merasakan derasnya rupiah dari kehidupan malam di Dolly: tukang becak, tukang rokok, penjual makanan dan minuman, tukang parkir, dan banyak lagi.

Tiba-tiba saya teringat Paklik Isnogud. Pada suatu hari ia pernah bercerita bahwa dI dunia yang sedih dan tak sempurna, tak semua orang bisa jadi pemenang. Sebagian akan harus menderita kekalahan. Politik, ekonomi, berlangsung seperti permainan bola di saat final: piala yang diperebutkan tak bisa dibagi sama.

“Di dunia yang sedih dan tak sempurna, selalu saja orang harus bertanding dengan akhir yang tak selamanya tenteram, Mas.”

Untuk tiap pemenang harus ada seorang yang kalah, dan para pemenang hanya dapat ada bila ada yang kalah — Lester G. Thurow, ekonom terkenal dari Massachusetts Institute of Technology.

Masalahnya: kelompok mana yang harus bersedia untuk hidup lebih buruk, Mas? Kata harus nampaknya penting di situ. Sebab tak ada yang akan secara sukarela jadi tumbal, hingga suatu soal perekonomian selesai.

Tak ada seseorang, atau sekelompok manusia, yang mau menerima alokasi pengurangan. Apalagi bila diketahui bahwa dia berkorban bukan untuk dirinya sendiri, tapi — seperti dalam pertandingan bola — untuk kemenangan orang lain.

Dan piala, dalam kompetisi di dunia nyata, tak selamanya bergilir … ” kata Paklik dengan wajah muram.

Saya ingat, ketika Paklik menyelesaikan kalimat itu, ia segera mengambil sapu tangan untuk mengusap wajahnya yang berkeringat di malam yang panas dan lembab. Saya diam dalam gelap.

Ah, ini rupanya yang dimaksud dengan zero-sum game, winner takes all …

§ 18 Responses to Dolly Pecas Ndahe

  • avatar Anang Anang berkata:

    pertamax!! waduh bahas dolly ya ini….

  • avatar mathematicse mathematicse berkata:

    Hikmah adanya lumpur Lapindo, mengurangi tempat kemaksiatan!

  • avatar yati yati berkata:

    bakrie….bakrie….

  • avatar boko boko berkata:

    para penghuninya ikut demo ke jakarta nggak ya..

  • avatar mei mei berkata:

    mereka juga manusia, dan apapun pekerjaan mereka, mereka pasti punya alasan untuk itu*walaupun mungkin seharusnya mereka tak memilih jalan itu*

    sayang, dengan d tutupnya dolli, malah akan membuat banyak tempat2 prostitusi terselubung*panti pijat etc* dan malah makin membuat kacau…mungkin harusnya relokasi kali ya…??

  • avatar Tresno Tresno berkata:

    sebaiknya prostitusi tetep dibuka!!
    terlalu banyak dampak negatif kalo ditutup!
    Jogja juga terkenal karena sarkem nya kan!

  • avatar Hedi Hedi berkata:

    Dolly kukut, konsumen kecewa 😛

  • avatar pudjakesuma pudjakesuma berkata:

    HELLO DOLLY

    -Louis Armstrong

    Hello Dolly,……well, hello, Dolly
    It’s so nice to have you back where you belong
    You’re lookin’ swell, Dolly…….I can tell, Dolly
    You’re still glowin’…you’re still crowin’…you’re still goin’ strong
    I feel that room swayin’……while the band’s playin’
    One of your old favourite songs from way back when
    So….. take her wrap, fellas…….find her an empty lap, fellas
    Dolly’ll never go away again

    (instrumental break)

    Hello Dolly,…..well, hello, Dolly
    It’s so nice to have you back where you belong
    You’re lookin’ swell, Dolly…..I can tell, Dolly
    You’re still glowin’…you’re still crowin’…you’re still goin’ strong
    I feel the room swayin’…while that ole band keeps on playin’
    One of your old favourite songs from way back when
    So…golly, gee, fellas….find her an empty knee, fellas
    Dolly’ll never go away….I said she’ll never go away
    Dolly’ll never go away again

  • avatar marhapik marhapik berkata:

    oooohh,ternyata dolly itu tempat jajan,hehehe.
    hidup dolly

  • avatar -tikabanget- -tikabanget- berkata:

    di Sarkem Jogja sini, perempuan perempuan jual diri cuma berharga rendah (menurutku sih..), tapi tricle down effect nya juga besar. Hotel, penginapan, tukang becak, supir taksi, bahkan cuma jual rokok sama sabunpun..

  • avatar aLe aLe berkata:

    dolly itu makanan apa ya ndoro?? 😛

  • avatar venus venus berkata:

    setuju dengan mei. mestinya gak usah ditutup. yang udah2, begitu lokalisasi ditutup, mereka malah jualan di sembarang tempat. malah serem. dan kasian…

  • avatar firman firdaus firman firdaus berkata:

    molimo tuh apa sih?

  • avatar dnial dnial berkata:

    Dolly itu itu lho terbesar di Asia Tenggara (masih nggak ya?) Konsumennya sudah multinasional.

    Nggak mungkin bangkrut lah, sumbangannya ke PAD juga besar. Kalau di tempat lain org pada males jadi RT ato RW, di daerah Dolly itu mereka semangat sekali, banyak ceperannya.

    Wes ah…

  • avatar trie trie berkata:

    dolly keliatan dari kantor ku sini lho ndoro..mau mampir ?:D

  • avatar dafa dafa berkata:

    yang jelas kemaksiatan adalah awal keruntuhan…matinya urat nadi saling enasihati adalah awal kehancuran sebuah bangunan umat

  • avatar rafi rafi berkata:

    telahnampak kerusakan di muka bumi di sebabkan ulah dan tangan kotor manusia…maksiat: korupsi, prostitusi,bangga dengan tayangan maksiat adalah bentuk konkrit kemaksiatan yang berkedok kebebasan.
    rakyat bodoh akan di utus oleh tuhan kepada mereka pemimpin yang bodoh

Tinggalkan Balasan ke yati Batalkan balasan

What’s this?

You are currently reading Dolly Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta