Pendidikan Pecas Ndahe

Mei 2, 2007 § 19 Komentar

Di Hari Pendidikan Nasional ini ada baiknya kita mengenang sebuah fragmen ringkas di Hindia Belanda, awal abad ke-19.

Beberapa anak kecil menangis di depan rumah Asisten Wedana di satu kota di Madura, 1919. Mereka memang dihukum. Tubuh mereka dicap tinta dengan tulisan Je Maintendrai — semboyan Raja Belanda yang termasyhur itu.

Kesalahan mereka: tak masuk sekolah!

“Bumiputra Hindia Belanda, kalian mesti bersekolah. Gubernemen telah sediakan sekolah desa. Tuan Gubernur Jenderal van Heutz telah atur ada sekolah tiga tahun di dusun-dusun dan juga Tweede Klasse Scholen atau Sekolah Angka Loro. Kalian mesti bisa baca, tulis, berhitung.”

Maka, berduyunlah rakyat bumiputra masuk sekolah — dengan titah yang mulai terdengar di awal abad ke-20 itu. Ini cara orang Belanda membalas budi. Kalian mesti mau, mesti setuju. Kalau tidak, anak-anak akan dikumpulkan di rumah Asisten Wedana.

Semua pun bingung, tapi tunduk. Tuan besar, bagaimana kami mesti kasih ongkos? Dan bagaimana anak-anak bisa membantu di sawah, bila mereka mesti pergi sekolah? Kami kapok dengan macam-macam pungutan. Kami tak sanggup membiayai tuan punya kegiatan.

Tak sanggup membiayai? Aha, bahkan sampai kemarin saya rasanya masih mendengar keluhan seperti ini dari mulut seorang buruh di pabrik. O … ya, ya, saya tahu sebabnya:

Sejarah pendidikan di Indonesia nampaknya memang sejarah tentang niat baik dan hasil yang menyimpang …

Pantas Ivan Illich pernah menyodorkan konsep Deschooling Society. Ivan Illich, pemikir yang lama hidup di Amerika Latin yang miskin itu bukan saja melihat betapa mahalnya ongkos pendidikan sekolah bagi sebuah negeri, tapi juga betapa omong-kosongnya sistem sekolah itu untuk menghilangkan jurang kemiskinan.

Barangkali karena itu pula setiap anak kecil yang ditanya untuk apa kamu sekolah, rata-rata akan menjawab, “Saya mau jadi dokter”, “Supaya saya jadi tukang insinyut”, “Saya mau jadi presiden”, “Saya mau jadi pemilik pabrik es”, “Saya mau jadi seleb blogger.”

Adakah yang menjawab, “Supaya saya terlatih berpikir ilmiah”, “Saya mau memberantas korupsi”, “Saya mau menolong anak-anak yang tinggal di tepi sungai”, “Saya mau membuat Indonesia lebih baik”?

Banyakkah anak-anak seperti itu?

§ 19 Responses to Pendidikan Pecas Ndahe

  • avatar Biho Biho berkata:

    Aih Indonesiaku.

  • avatar mei mei berkata:

    tapi bukankah dengan menjadi “dokter” misalnya, mereka juga bisa menolong orang2 yang tak mampu untuk membiayai biaya pengobatan yang makin mahal khan??

    jadi ya bisa d bilang itu perpanjangan dari 7an itu sendiri

  • avatar mbahatemo mbahatemo berkata:

    adakah yang menjawab, “saya mau bikin sekolahan gratis”
    ada ndak, mas?

  • avatar hanny hanny berkata:

    Seorang teman yang sudah berkeluarga pernah berkata:

    “Saya bingung. Anak-anak teman saya sudah ikut les macam-macam. Musik. Bahasa Inggris. Balet. Bahasa Mandarin. Padahal mereka baru umur 5 tahun dan masih TK. Saya sih maunya anak saya main-main dulu saja, lah. Nikmati masa kecilnya. Jangan dibebani dengan tuntutan macam-macam.

    “Buat saya nggak penting apakah dia bisa 5 bahasa. Apakah dia jadi ranking 1 dan selalu dapat nilai bagus. Yang paling penting buat saya, dia jadi orang baik. Dan dia bisa menikmati masa kanak-kanaknya, sepuasnya. Apa saya salah, ya? Kalau ngomong begini di tengah kawan-kawan, saya serasa jadi alien.”

    Dan saya pun berpikir pintar itu apa, sih? Apakah kepintaran seseorang bisa membuat dunia menjadi lebih baik, atau justru sebaliknya?

    Jika selama ini dunia pendidikan kita bercita-cita membuat anak-anak menjadi ‘pintar’, mungkin sudah saatnya menambahkan kata-kata ‘peka lingkungan’ atau ‘toleran’ dalam cita-cita (mulia) itu.

  • avatar marhapik marhapik berkata:

    ketika sekolah menjadi sebuah pabrik robot,so sudah semestinya sang robot diberi sisi yang namanya hati dan nurani.
    sistem telah memaksa kita untuk mendapatkan legalitas dan alat ukur skill individu yang diamakan ijazah. tp siapakah yang akan mengukur dan mempunyai alat ukur moral??
    bikin sekolah alam yuuuk

  • avatar Hedi Hedi berkata:

    Mungkin sudah turun temurun, ya Ndoro. Coba aja berapa banyak orang tua yang tanya kamu rangking berapa? Welcome to material world 😀

  • avatar roi roi berkata:

    sejujurnya sih Mas, dulu waktu saya masih kecil dan ditanya, “kamu mau jadi apa?” Saya hanya nyengir kuda aja, soalnya nggak tau mau jadi apa. Jadi tentara, takut ketembak. Jadi dokter, nggak tega motong orang. Jadi insinyur, saya suka tanya balik …. insinyur itu kerja-annya apa ya?

  • avatar gita gita berkata:

    klo pertanyaan saya ndoro, kapan pendidikan di indonesia bisa gratis minimal dri sd smpi sma-lah? *mikir*

  • avatar balak6 balak6 berkata:

    Kenapa pendidikan kita banyak menghasilkan para koruptor…..?????

  • avatar firman firdaus firman firdaus berkata:

    dulu waktu saya ditanya kenapa sekolah, saya jawabannya ya itu, supaya bisa brpikir ilmiah, logis, terurut, sistematis. begitu ndoro. tapi sekarang kehidupanku malah gak teratur ndoro…

  • avatar pitik pitik berkata:

    ah..bicara pendidikan kok saya ingat Pak Paulo Freire…

  • ah..bicara pendidikan kok saya ingat adam dan hawa. lulusan mana dia ya kok cucu cucunya do pinter pinter

  • avatar dendi dendi berkata:

    ya elah ndoro… mereka kan cuma anak-anak.

  • avatar kikie kikie berkata:

    supaya bisa jadi orang yang terpelajar 😀

  • avatar tito tito berkata:

    Kalau Jendra penegn jadi yang mana Ndoro?

  • avatar iway iway berkata:

    lha kalo dijawab jadi sopir becak apa ga nggeblak orang tuanya 😀

  • avatar neng neng berkata:

    adri dulu pingin jadi supir angkot, sampe-sampe si kijang ditulisin Komilet Jaya pake batu… 😦

  • Saya tidak tahu mau berkomentar apa.
    Lha, saya sendiri korban pendidikan yang mahal itu.

  • avatar astie astie berkata:

    Moga-moga pendidikan di Indonesia jadi tambah baik..!

Tinggalkan Balasan ke mei Batalkan balasan

What’s this?

You are currently reading Pendidikan Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta