Gubernur Pecas Ndahe

Mei 24, 2007 § 17 Komentar

Wimar Witoelar mungkin memang layak masuk Museum Rekor Indonesia sebagai orang yang paling sering dibredel. Setelah acara Wimar’s World distop JakTV tempo hari, Wimar juga tak boleh tampil lagi dalam acara Gubernur Kita di stasiun yang sama mulai tadi malam.

Sampean bisa mengikuti cerita lengkap tentang bredel terakhir itu di blog Perspektif. Dan, sampean akan beroleh pengetahuan kenapa Wimar mesti out dari acara itu: ada seorang calon Gubernur Jakarta yang keberatan atas kehadiran Wimar sebagai panelis acara itu.

Aha, pemilihan kepala daerah DKI Jakarta rupanya semakin hangat. Para calon gubernur mulai menunjukkan taring dan kukunya. Wimar cuma salah satu korban perhelatan politik itu.

Saya berani bertaruh, pada pekan-pekan ke depan, aroma persaingan kian kuat. Kasus-kasus yang berkaitan dengan isu pemilihan itu kian banyak. Kasus curi start, pelanggaran kampanye, blocking time, belanja iklan gede-gedean, perang kata, akan menghiasai halaman media cetak, layar kaca, dan radio-radio.

Sebagai penonton, inilah saatnya bertepuk tangan. Ini waktunya kita memberi semangat, mencaci, dan meledek para pemain — persis waktu kita jadi penonton sepak bola di pinggir lapangan.

Biarkanlah para calon itu berulah semua mau mereka sebab dari tingkah polahnya menjelang pemungutan suara kita akan mendapatkan tambahan pengetahuan mengenai sosok dan kualitas kepemimpinan para kandidat.

Lihat, dengar, tonton saja. Tapi, jangan sampai sampean mau tertipu dan dibodohi. Jangan sampai pula sampean semua terbuai oleh bujuk rayuan mereka yang menganut paham habis manis sepah dibuang.

Perhatikan saja baik-baik polah para calon gubernur kandidat itu. Seandainya pada dasarnya tabiat seorang kandidat itu memang mbagusi, cengengesan, plus ngeselin, kelak dia pasti akan memimpin Jakarta dengan gaya seperti itu.

Kalau saja watak seorang calon itu dari sono memang mau menangnya sendiri, seenak udelnya, menerabas aturan semata-mata demi kepentingannya, niscaya kelak dia akan mengelola Ibu Kota dengan cara seperti itu juga.

Karena itu, tolong Ki Sanak, jangan sampai sampean salah pilih. Pemimpin seperti itu pasti ndak mutu dan kelak cuma akan bikin jengkel warga.

Saya ingat Paklik Isnogud pernah menyindir para kandidat yang bersaing untuk setiap pemilihan itu sebenarnya tak lebih dari calon pemimpin yang cuma ingat rakyat yang akan dipimpinnya setiap satu, dua, atau lima tahun sekali.

“Ya setiap kali itulah mereka ingat, lalu mencari rakyat, Mas,” kata Paklik.

Saya mendengarkan ocehannya dengan seksama. Paklik pasti mau mendongeng.

“Mereka perlu rakyat. Datang dengan mobil atau pesawat terbang, di udara panas dan gerah, ke pelbagai pelosok, mereka melakukan hal-hal yang selama ini hampir tak pernah mereka lakukan: bersuara keras di depan publik, menyanyi di depan publik, bertepuk-tepuk, berjoget, melakukan banyak hal yang tak biasa mereka kerjakan. Tujuan: menarik perhatian. Menarik hati. Meminta.

Dan, rakyat itu — atau khalayak ramai itu — akhirnya mulai tahu: orang-orang nun jauh di atas sana ternyata bisa membutuhkan simpati orang-orang jelata. Ah, rakyat …

Sang rakyat, yang semula hanya sebuah abstraksi, tiba-tiba muncul dengan pelbagai tingkah, berjalan atau cuma berdiri, mengacungkan jari atau bengong, berseru ataupun membisu. Mereka bukan lagi cuma data di kantor Biro Pusat Statistik.

Tapi, dari setiap acara pemilihan di Indonesia tak bisa diharapkan menghasilkan perubahan yang berarti dan mencengangkan. Ada suara yang dibeli secara langsung maupun tak langsung — dengan uang ataupun kedudukan. Ada peserta-peserta rapat umum yang memperoleh Rp 10 ribu per orang, juga kaos gratis bergambar foto sang kandidat.

Ada banyak sekali hura-hura, dan kampanye menjadi sebuah karnaval, dan sedikit sekali orang memperhatikan program apa dari si Fulan atau si Badu atau dari si Panjul. Bahkan siapa kelak para pembantu mereka di birokrasi, mungkin tak ada yang peduli.

Tapi, lima tahun sekali, setidaknya, orang-orang penting pada menatap rakyat dengan sedikit lebih cermat. Dan seluruh daerah pun dipertautkan lagi.”

“Kalau begitu, apa iya kegiatan memilih itu sesuatu yang sia-sia, Paklik?”

“Ndak juga, Mas. Sebagaimana halnya Pemilu, Pilkada memang makan begitu banyak ongkos, resmi ataupun tak resmi. Tapi ternyata ia bukan suatu upacara yang sia-sia lo, Mas.

Ada orang-orang yang tak memilih, atau sengaja membuat kartu suaranya tak berlaku, karena tak berharap akan ada ang berubah setelah hasil diumumkan nanti. Tapi ada juga seperti tampak pada anak-anak muda yang dengan gegap gempita ikut pawai seorang calon.

Bagi mereka momen seperti pemilu adalah kesempatan menyatakan diri, memaklumkan sikap, ke dalam kancah politik nasional. Dalam suatu momen yang agaknya jarang terjadi, mereka seakan-akan secara bergelora merasakan, ke ulu hati, bahwa Indonesia — Indonesia yang besar ini — adalah bagian hidup mereka, Mas.”

“Setelah itu hidup jalan terus, seperti biasa kan, Paklik? Dan, rakyat langsung lupa baru saja memilih siapa. Begitu kan, Paklik?”

“Ah, sampean sinis … “

Iklan

§ 17 Responses to Gubernur Pecas Ndahe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Gubernur Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: